Bukan Mantra: Tiga Tingkat Kemampuan Menggunakan AI yang Perlu Kita Pahami
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat cara kita bekerja berubah dengan cepat. ChatGPT dan berbagai AI generatif lainnya kini dapat membantu menulis, mencari ide, merangkum informasi, menganalisis data, membuat rencana, sampai membantu menyelesaikan berbagai pekerjaan sehari-hari.
Tidak mengherankan jika kemudian bermunculan banyak artikel, video, kursus, bahkan buku yang mengajarkan cara membuat prompt AI yang efektif.
Salah satu buku yang menarik perhatian saya adalah Panduan Lengkap 1000 Prompt Rahasia ChatGPT karya Riandy Kadwi Nugraha, yang diterbitkan oleh PT Anak Hebat Indonesia.
Buku tersebut memberikan banyak contoh prompt untuk berbagai kebutuhan dan pekerjaan. Namun, ketika membaca dan mendiskusikannya, saya justru menemukan satu hal yang menurut saya lebih penting daripada sekadar menghafalkan 1.000 prompt.
Kita perlu memahami terlebih dahulu bagaimana seharusnya manusia menggunakan AI.
Sebab, secanggih apa pun AI, tetap manusia yang menentukan apa yang ingin dicapai.
Prompt AI Bukan Mantra Ajaib
Di tengah maraknya tips menggunakan ChatGPT, terkadang muncul kesan bahwa ada kode atau formula tertentu yang dapat membuat AI memberikan jawaban yang jauh lebih hebat.
Misalnya penggunaan perintah seperti "/expert", "/summarize", "/act-as", atau kode-kode lain yang dibuat untuk mempermudah pemberian instruksi.
Kode-kode semacam itu sebenarnya bisa berguna. Ia dapat menjadi semacam jalan pintas ketika kita sering melakukan pekerjaan yang sama.
Namun, jangan sampai kita menganggapnya sebagai mantra rahasia yang membuat AI menjadi lebih pintar.
AI tidak tiba-tiba menjadi lebih cerdas hanya karena kita menambahkan tanda "/" atau menggunakan formula prompt tertentu.
Yang jauh lebih penting adalah apakah kita sendiri memahami:
Apa yang ingin kita lakukan? Apa tujuan kita? Informasi apa yang dibutuhkan AI? Bagaimana hasil yang kita inginkan?
Karena itu, menurut saya, ada tiga tingkat kemampuan yang menarik untuk dijadikan titik berangkat dalam belajar menggunakan AI.
1. Tahu Menggunakan AI
Tingkat pertama adalah kemampuan paling sederhana: kita tahu bahwa AI dapat membantu pekerjaan kita.
Misalnya:
«"Tolong buatkan artikel tentang parenting."»
Atau:
«"Tolong buatkan ringkasan buku ini."»
Atau:
«"Tolong jelaskan apa yang dimaksud dengan SEO."»
Perintah seperti ini sudah dapat menghasilkan sesuatu.
Ini adalah tahap ketika seseorang mulai mengenal AI sebagai alat bantu pekerjaan.
Persoalannya, hasil yang diperoleh terkadang masih terlalu umum.
Bukan berarti AI tidak pintar. Bisa jadi kita memang belum memberikan informasi yang cukup mengenai apa yang sebenarnya kita inginkan.
Pada tahap ini kita baru mengetahui:
«"AI bisa membantu saya."»
Itu sudah merupakan langkah pertama yang penting.
2. Tahu Memberikan Instruksi kepada AI
Setelah terbiasa menggunakan AI, kita mulai memahami bahwa hasilnya dapat menjadi lebih baik jika instruksi yang diberikan lebih jelas.
Misalnya dibandingkan hanya mengatakan:
«"Buatkan artikel tentang parenting."»
kita bisa mengatakan:
«"Buatkan artikel tentang kesalahan orang tua ketika mendisiplinkan anak. Target pembacanya orang tua muda. Gunakan bahasa Indonesia yang mudah dipahami, berikan contoh kehidupan sehari-hari, hindari bahasa yang terlalu menggurui, dan buatkan judul serta subjudul yang SEO-friendly."»
Sekarang AI memiliki konteks yang jauh lebih jelas.
Kita sudah memberikan:
- tujuan,
- target pembaca,
- topik,
- gaya bahasa,
- batasan,
- dan bentuk hasil yang diinginkan.
Pada tahap ini kita mulai memahami bahwa cara bertanya memengaruhi hasil yang kita dapatkan.
Inilah wilayah yang banyak dibahas dalam buku-buku tentang prompt engineering.
Kita belajar bahwa prompt yang baik bukan sekadar panjang, tetapi jelas, memiliki konteks, tidak ambigu, dan memiliki tujuan yang dapat dipahami.
3. Tahu Apa yang Ingin Dicapai
Menurut saya, ini tingkat yang paling penting.
Seseorang bisa saja menguasai berbagai macam formula prompt, tetapi kalau dirinya sendiri tidak memahami apa yang sebenarnya ingin dicapai, AI tetap akan kesulitan memberikan bantuan yang benar-benar bermakna.
Sebaliknya, orang yang memahami masalahnya dengan baik terkadang cukup menggunakan bahasa sehari-hari.
Misalnya seorang blogger mengatakan:
«"Saya punya artikel lama yang sebenarnya masih bagus, tetapi sudah terasa ketinggalan zaman. Saya tidak ingin artikel ini ditulis ulang secara total. Saya ingin mempertahankan pengalaman pribadi dan gagasan utamanya, tetapi pembahasannya diperbarui agar relevan dengan kondisi sekarang."»
Tidak ada kode khusus.
Tidak ada formula rumit.
Tetapi AI mendapatkan sesuatu yang sangat penting:
tujuan.
Kita tahu apa yang ingin dipertahankan, apa yang ingin diubah, dan mengapa perubahan tersebut diperlukan.
Di sinilah AI mulai berfungsi bukan hanya sebagai mesin pembuat tulisan, tetapi sebagai partner untuk membantu kita berpikir dan bekerja.
AI Adalah Alat, Bukan Pengganti Tujuan Manusia
Dari sini saya semakin melihat bahwa kemampuan menggunakan AI sebenarnya tidak berhenti pada kemampuan membuat prompt.
AI dapat membantu seseorang mengerjakan banyak hal, tetapi manusialah yang membawa persoalan dan menentukan tujuan.
Seorang guru mungkin menggunakan AI untuk menyiapkan materi pelajaran.
Seorang mahasiswa menggunakannya untuk memahami materi yang sulit.
Seorang pengusaha menggunakannya untuk menganalisis ide bisnis.
Seorang programmer menggunakannya untuk membantu menemukan kesalahan kode.
Seorang penulis menggunakannya untuk mengembangkan gagasan.
Seorang blogger menggunakannya untuk memperbarui artikel lama.
Pekerjaannya berbeda-beda, tetapi prinsipnya sama:
«Saya mempunyai pekerjaan atau tanggung jawab. Bagaimana AI dapat membantu saya mengerjakannya dengan lebih baik?»
Pertanyaan seperti ini menurut saya jauh lebih penting daripada:
«"Apa prompt rahasia ChatGPT?"»
Membaca Buku Prompt dengan Cara yang Berbeda
Karena itu, saya melihat buku Panduan Lengkap 1000 Prompt Rahasia ChatGPT bukan semata-mata sebagai buku yang harus dibaca untuk menghafalkan 1.000 perintah.
Justru lebih menarik jika buku tersebut dibaca sebagai kumpulan contoh pemanfaatan AI dalam berbagai pekerjaan dan kebutuhan.
Ketika menemukan sebuah prompt, kita tidak harus langsung berpikir:
«"Saya harus menghafalkan prompt ini."»
Lebih baik bertanya:
«"Pekerjaan apa yang sedang dibantu oleh prompt ini?"»
Kemudian:
«"Mengapa instruksinya dibuat seperti itu?"»
Dan yang paling penting:
«"Apakah saya dapat membuat versi saya sendiri sesuai kebutuhan?"»
Dengan cara demikian, kita tidak menjadi tergantung pada kumpulan prompt.
Kita justru belajar cara berpikir ketika berkomunikasi dengan AI.
Tidak Harus Menjadi Ahli Prompt Engineering
Ada anggapan bahwa untuk mendapatkan manfaat maksimal dari AI, seseorang harus menjadi ahli prompt engineering.
Saya tidak sepenuhnya setuju dengan anggapan tersebut.
Memahami teknik membuat prompt tentu bermanfaat. Kita akan semakin mengetahui bagaimana memberikan konteks, menentukan batasan, menjelaskan tujuan, meminta format tertentu, serta melakukan evaluasi terhadap hasil AI.
Namun, kemampuan yang lebih mendasar tetaplah kemampuan memahami pekerjaan kita sendiri.
Kalau kita tahu apa yang kita mau, kita akan lebih mudah menjelaskannya kepada AI.
Dan kalau kita belum tahu apa yang kita mau, mungkin masalah sebenarnya bukan pada prompt.
Kita mungkin memang perlu berpikir terlebih dahulu.
Menariknya, pada titik ini AI justru dapat membantu.
Kita bisa mengatakan:
«"Saya belum tahu bagaimana merumuskan masalah ini. Berikut situasinya. Tolong bantu saya mengidentifikasi masalah, kemungkinan tujuan, dan pilihan yang tersedia. Jangan langsung memberikan keputusan."»
Dengan cara seperti ini, AI tidak hanya digunakan untuk mendapatkan jawaban.
AI digunakan untuk membantu kita menemukan pertanyaan yang lebih baik.
Belajar AI Berarti Belajar Bekerja dengan Cara Baru
Pada akhirnya, saya melihat perkembangan AI bukan hanya sebagai perkembangan teknologi, tetapi juga sebagai perubahan cara manusia bekerja.
Dulu kita mungkin bertanya:
«"Bagaimana cara mengerjakan pekerjaan ini?"»
Sekarang kita juga bisa bertanya:
«"Bagian mana dari pekerjaan ini yang dapat dibantu AI?"»
Kemudian:
«"Bagian mana yang tetap harus saya kerjakan sendiri?"»
Dan yang tidak kalah penting:
«"Bagaimana saya memeriksa apakah hasil bantuan AI tersebut benar dan sesuai dengan tujuan saya?"»
Inilah sebabnya saya tertarik membaca buku tentang prompt dan penggunaan AI.
Bukan karena saya ingin menghafalkan sebanyak mungkin kode atau prompt.
Saya ingin mengetahui sebanyak mungkin cara menggunakan AI untuk mempermudah pekerjaan dan tanggung jawab yang saya jalankan.
Bagi saya, itulah nilai paling menarik dari belajar AI.
Penutup: Jangan Mengejar Mantra, Pahami Tujuannya
AI memang semakin cerdas, tetapi kecerdasan itu tidak berarti manusia boleh berhenti berpikir.
Justru sebaliknya.
Semakin banyak pekerjaan yang dapat dibantu AI, semakin penting bagi kita untuk mengetahui apa yang sebenarnya ingin kita capai.
Karena itu, tiga tingkat kemampuan menggunakan AI dapat menjadi titik awal yang sederhana:
Pertama, tahu menggunakan AI.
Kita menyadari bahwa AI dapat membantu pekerjaan kita.
Kedua, tahu memberikan instruksi.
Kita belajar memberikan konteks dan arahan yang jelas agar AI dapat bekerja lebih tepat.
Ketiga, tahu apa yang ingin dicapai.
Kita memahami tujuan, masalah, kebutuhan, dan hasil yang kita harapkan.
Pada akhirnya, prompt hanyalah alat komunikasi.
Kode "/bla-bla" boleh digunakan kalau memang memudahkan. Formula prompt boleh dipelajari. Bahkan ribuan contoh prompt seperti yang terdapat dalam buku Riandy Kadwi Nugraha dapat menjadi sumber inspirasi.
Tetapi jangan lupa prinsip dasarnya:
«AI adalah alat. Manusialah yang membawa tujuan.»
Dan mungkin, kemampuan menggunakan AI yang paling penting bukanlah mengetahui sebanyak mungkin prompt, melainkan mampu mengatakan dengan jelas:
"Inilah yang sedang saya kerjakan. Inilah yang ingin saya capai. Tolong bantu saya melakukannya dengan lebih baik."

Posting Komentar untuk "Bukan Mantra: Tiga Tingkat Kemampuan Menggunakan AI yang Perlu Kita Pahami"
Posting Komentar