Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa: Memahami Depresi Tanpa Stigma

Ada buku yang selesai dibaca, lalu kita letakkan kembali di rak. Tetapi ada pula buku yang terasa berbeda: ia seperti berbicara kepada kita tentang sesuatu yang pernah kita lihat, alami, atau saksikan sendiri pada orang yang kita kasihi.

Bagi saya, Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa: Hal-hal yang Perlu Diketahui di Masa Muda termasuk buku yang kedua.

Buku karya Kim Haenan dan Park Jongseok ini diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, pada 2021, sementara edisi aslinya diterbitkan pada 2019. Salah satu hal yang membuat buku ini menarik adalah cara penulis membicarakan depresi bukan sebagai sesuatu yang sederhana, apalagi sebagai kelemahan seseorang, tetapi sebagai sebuah pengalaman yang dapat begitu berat bagi orang yang mengalaminya maupun bagi orang-orang yang berada di sekitarnya.

Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa dan Realitas Depresi

Judul buku ini sendiri terasa seperti sebuah kalimat yang sangat manusiawi.

Ada masa ketika kita membayangkan bahwa berbagai persoalan akan selesai dengan sendirinya ketika kita bertambah dewasa. Kita berpikir bahwa kedewasaan akan membawa jawaban, pekerjaan akan membuat hidup lebih stabil, keadaan ekonomi akan membaik, hubungan akan menjadi lebih mudah, dan pengalaman hidup akan membuat kita semakin kuat.

Namun kehidupan ternyata tidak selalu berjalan seperti itu.

Menjadi dewasa tidak otomatis membuat seseorang terbebas dari kecemasan, kesepian, kegagalan, kehilangan, maupun depresi.

Justru karena itu, buku ini menjadi menarik untuk dibaca bukan hanya oleh anak muda, tetapi juga oleh orang tua, keluarga, pasangan, sahabat, guru, dan siapa saja yang ingin memahami kesehatan mental dengan lebih baik.

Depresi Bukan Sekadar Sedih


Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah menganggap depresi sama dengan kesedihan biasa.

Padahal, pengalaman depresi dapat jauh lebih kompleks.

Seseorang yang mengalami depresi dapat memandang dirinya sendiri secara sangat negatif. Kegagalan kecil bisa terasa seperti bukti bahwa dirinya memang tidak mampu. Masa depan tampak tidak mempunyai harapan. Hal-hal yang sebelumnya menyenangkan bisa kehilangan maknanya.

Dunia yang sama dapat terlihat sangat berbeda bagi orang yang sedang mengalami depresi.

Inilah sebabnya nasihat sederhana seperti “berpikirlah positif” atau “jangan terlalu dipikirkan” belum tentu membantu.

Bukan berarti orang tersebut tidak mau berpikir positif.

Bisa jadi, pada saat itu, kemampuan untuk melihat sisi positif memang sedang sangat sulit baginya.

Karena itu, memahami depresi membutuhkan lebih daripada sekadar memberikan nasihat.

Ia membutuhkan empati.

Depresi Tidak Mengenal Status Sosial dan Prestasi

Buku ini juga mengingatkan kita bahwa depresi bukan penyakit yang hanya dialami oleh orang yang dianggap lemah.

Orang-orang yang memiliki kemampuan luar biasa pun tidak otomatis kebal terhadap persoalan kesehatan mental.

Dalam buku ini disebutkan tokoh-tokoh terkenal yang pernah mengalami persoalan depresi, termasuk Abraham Lincoln dan ilmuwan Lewis Wolpert.

Contoh seperti ini penting karena membantu kita membongkar sebuah prasangka yang masih kuat di masyarakat: bahwa seseorang yang mengalami depresi pasti kurang kuat, kurang bersyukur, kurang beriman, atau tidak mampu menghadapi kehidupan.

Padahal kemampuan seseorang dalam pekerjaan, pendidikan, kepemimpinan, maupun kehidupan sosial tidak menjadikannya kebal terhadap persoalan psikologis.

Orang hebat pun tetap manusia.

Dan manusia dapat mengalami masa-masa ketika dirinya membutuhkan pertolongan.

Stigma Terhadap Psikiater Masih Menjadi Masalah

Mungkin salah satu persoalan terbesar dalam menghadapi depresi bukan hanya penyakitnya, tetapi juga stigma masyarakat terhadap kesehatan mental.

Di sebagian masyarakat, pergi ke psikiater masih dianggap sebagai tanda bahwa seseorang “gila”.

Akibatnya, orang yang sebenarnya membutuhkan pertolongan justru takut mencari bantuan.

Lebih menyedihkan lagi, keluarga terkadang ikut memperkuat stigma tersebut.

Ada keluarga yang lebih takut terhadap komentar tetangga daripada terhadap penderitaan anaknya sendiri.

Ada yang berpikir bahwa membawa anak ke psikiater akan menjadi sebuah aib.

Ada pula yang menganggap persoalan depresi cukup diselesaikan dengan nasihat, doa, atau kemauan untuk berubah.

Padahal, mencari bantuan profesional bukanlah pengakuan bahwa seseorang kehilangan kewarasannya.

Sebaliknya, mencari pertolongan adalah bentuk keberanian untuk mengakui bahwa seseorang sedang membutuhkan bantuan.

Ketika Depresi pada Anak Dianggap Memalukan

Persoalan stigma menjadi semakin memprihatinkan ketika terjadi pada anak dan remaja.

Seorang anak yang mengalami persoalan mental seharusnya mendapatkan kesempatan untuk dibantu. Tetapi ketika keluarga menganggap depresi sebagai sesuatu yang memalukan, anak tersebut bisa mengalami dua beban sekaligus.

Ia harus menghadapi persoalan yang sedang terjadi di dalam dirinya, sekaligus menghadapi ketakutan bahwa dirinya dianggap berbeda atau menjadi sumber rasa malu bagi keluarga.

Padahal anak tidak memilih untuk mengalami depresi.

Sebagaimana seseorang tidak memilih untuk mengalami penyakit fisik, seseorang juga tidak memilih untuk mengalami gangguan kesehatan mental.

Karena itu, respons pertama keluarga seharusnya bukan:

“Apa kata orang nanti?”

Melainkan:

“Apa yang sedang dialami anak kita, dan bagaimana kita dapat membantunya?”

Perubahan pertanyaan sederhana ini dapat mengubah seluruh cara keluarga menghadapi persoalan.

Psikolog dan Psikiater Bukan Tempat untuk Orang “Gila”

Dalam pengalaman saya berada dekat dengan persoalan seperti ini, saya semakin melihat pentingnya menghilangkan pemahaman yang keliru mengenai psikolog dan psikiater.

Psikolog maupun psikiater merupakan bagian dari tenaga profesional yang membantu seseorang menghadapi persoalan kesehatan mental. Kebutuhan setiap orang tentu berbeda, sehingga bentuk bantuan yang diperlukan juga tidak selalu sama.

Karena itu, ketika seseorang mengalami perubahan perilaku, tekanan emosional, atau gejala yang mengganggu kehidupannya, mendapatkan penilaian profesional merupakan langkah yang jauh lebih masuk akal daripada sekadar memberikan label.

Dalam beberapa situasi, psikolog dapat menjadi pintu awal untuk memahami persoalan yang sedang dihadapi seseorang. Bila diperlukan penanganan lebih lanjut, seseorang dapat diarahkan untuk mendapatkan bantuan psikiater.

Yang terpenting adalah jangan membiarkan stigma menghalangi seseorang mendapatkan pertolongan.

Depresi Bukan Lubang, Melainkan Terowongan

Salah satu gambaran yang paling kuat dari buku ini adalah depresi sebagai terowongan, bukan lubang.

Saya menyukai metafora ini.

Sebuah lubang memberi kesan bahwa seseorang jatuh dan tidak mempunyai jalan keluar.

Sementara terowongan mempunyai arah.

Memang seseorang yang berada di dalamnya mungkin belum melihat cahaya. Jalan yang ditempuh bisa panjang dan melelahkan. Kadang-kadang seseorang bahkan merasa bahwa terowongan itu tidak akan pernah berakhir.

Tetapi terowongan mempunyai ujung.

Di sana ada cahaya.

Metafora ini memberikan harapan tanpa menganggap remeh penderitaan orang yang sedang mengalami depresi.

Seseorang tidak perlu dipaksa untuk segera melihat cahaya.

Yang mungkin dibutuhkannya adalah seseorang yang mau menemaninya berjalan menuju cahaya tersebut.

Keluarga Tidak Harus Menjadi Dokter

Ada satu hal penting yang juga perlu dipahami keluarga.

Ketika seseorang yang kita kasihi mengalami depresi, kita mungkin ingin sekali menyembuhkannya sendiri.

Kita ingin memberikan nasihat terbaik. Kita ingin membuatnya kembali tertawa. Kita ingin menghilangkan semua masalahnya.

Tetapi keluarga tidak harus menjadi dokter.

Peran keluarga yang sangat berharga justru bisa berupa hal-hal sederhana: mendengarkan, tidak menghakimi, memberikan dukungan, membantu mencari pertolongan profesional, dan tidak membuat orang tersebut merasa sendirian.

Kita tidak harus mengetahui seluruh cara keluar dari terowongan untuk bisa menemani seseorang berjalan di dalamnya.

Itulah salah satu pelajaran yang saya rasakan begitu kuat ketika membaca buku ini.

Mengapa Buku Ini Penting Dibaca?


Saya melihat Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa sebagai buku yang layak dibaca oleh lebih banyak orang karena pembahasannya dapat menjadi jembatan untuk memahami pengalaman depresi secara lebih manusiawi.

Buku ini terutama menarik bagi:

- anak muda yang sedang menghadapi tekanan kehidupan;
- orang tua yang ingin memahami kesehatan mental anak;
- pasangan atau sahabat seseorang yang mengalami depresi;
- keluarga yang masih memiliki stigma terhadap psikolog dan psikiater;
- pendidik yang berhadapan dengan anak dan remaja;
- serta siapa saja yang ingin memahami bahwa kesehatan mental merupakan bagian dari kesehatan manusia secara keseluruhan.

Membaca buku mengenai depresi tidak berarti kita sedang mencari penyakit pada diri sendiri.

Kadang-kadang kita membacanya supaya lebih mampu memahami orang lain.

Dan mungkin justru itulah alasan yang paling baik untuk membaca buku seperti ini.

Sebuah Buku yang Mengajarkan Kita untuk Tidak Cepat Menghakimi


Pada akhirnya, yang paling saya bawa dari buku ini bukan sekadar pengetahuan tentang depresi.

Saya membawa sebuah pertanyaan:

Ketika melihat seseorang yang sedang mengalami depresi, apakah kita akan bertanya mengapa dia tidak bisa seperti orang lain, atau kita akan bertanya apa yang sebenarnya sedang dia alami?

Pertanyaan tersebut kelihatannya sederhana, tetapi perbedaannya sangat besar.

Yang pertama menghasilkan penghakiman.

Yang kedua membuka pintu empati.

Dan mungkin seseorang yang sedang berada di dalam terowongan tidak selalu membutuhkan orang yang berkata, “Kamu harus segera keluar.”

Kadang-kadang ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata:

“Saya tahu perjalanan ini berat. Mari kita berjalan bersama.”

Itulah sebabnya saya merasa Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa: Hal-hal yang Perlu Diketahui di Masa Muda bukan hanya buku untuk orang yang sedang mengalami depresi.

Posting Komentar untuk "Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa: Memahami Depresi Tanpa Stigma"