Mengapa Korupsi di Indonesia Tak Kunjung Padam? Ulasan Buku "Penyakit Sosial itu Adalah Korupsi"
Jawaban atas pertanyaan reflektif tersebut terangkum secara tajam dalam sebuah buku menarik berjudul "Penyakit Sosial itu Adalah Korupsi". Disunting oleh Prayitno Nur dan diterbitkan oleh Istana Media, Yogyakarta, buku ini menghadirkan kumpulan tulisan dari berbagai media massa yang memotret borok korupsi secara telanjang, komprehensif, dan menggugah kesadaran moral.
Buku ini tidak hanya membedah korupsi dari kacamata kerugian negara, melainkan membongkar bagaimana mentalitas koruptif dipupuk sejak dini hingga menjelma menjadi budaya yang dimaklumi. Artikel ini akan mengulas poin-poin penting dari buku tersebut, dilengkapi dengan analisis mendalam mengenai wajah baru korupsi di era modern.
Ketika Mencontek Menjadi Titik Tolak Korupsi
Salah satu premis paling memukau dan menggelitik yang disoroti dalam pengantar buku Penyakit Sosial itu Adalah Korupsi adalah bagaimana bangunan korupsi raksasa sebenarnya dimulai dari hal-hal sepele yang dinormalisasi sejak usia dini: kebiasaan mencontek.
Di bangku sekolah atau perkuliahan, mencontek sering dianggap sebagai kenakalan remaja biasa. Namun, secara psikologis, kebiasaan ini menanamkan fondasi mental yang berbahaya: mencari hasil instan dengan cara menghalalkan segala cara, mengabaikan kejujuran, dan menutupi kecurangan. Ketika individu dengan mentalitas instan ini tumbuh dewasa, masuk ke dalam sistem birokrasi, atau memegang tampuk kekuasaan, pola tersebut tidak hilang—ia hanya bermutasi menjadi bentuk yang lebih besar, seperti manipulasi anggaran atau suap.
Prayitno Nur melalui kurasi tulisannya berhasil menunjukkan bahwa korupsi di Indonesia tidak lahir dalam semalam. Ia dipupuk secara kolektif oleh lingkungan, dibiarkan, hingga akhirnya bergeser menjadi sebuah kebiasaan (habit) yang dimaklumi.
Korupsi yang Menggurita: Dari Ruang Kelas hingga Rumah Ibadah
Buku ini secara berani membeberkan bagaimana praktik korupsi merangsek masuk ke dalam berbagai sendi kehidupan tanpa pandang bulu. Korupsi bukan lagi monopoli pejabat tinggi di gedung parlemen, melainkan telah menyentuh area-area yang seharusnya steril dari moralitas kotor:
* Dunia Olahraga: Prestasi yang seharusnya dibangun atas dasar keringat dan sportivitas kerap dicoreng oleh pengaturan skor, penyelewengan dana pembinaan atlet, hingga politisasi organisasi cabang olahraga.
* Sumpah Jabatan yang Menjadi Jargon: Sumpah "demi Allah" atau janji jabatan di atas kitab suci sering kali direduksi sekadar ritual seremonial belaka. Sumpah suci tersebut kehilangan sakralitasnya ketika kursi kekuasaan diduduki.
* Korupsi di Dalam Penjara: Ironi terbesar yang diangkat adalah bagaimana lembaga pemasyarakatan—yang seharusnya menjadi tempat jera dan rehabilitasi moral—malah menjadi sarang praktik pungutan liar dan fasilitas istimewa bagi narapidana berduit.
* Lembaga Keagamaan dan Moral: Wilayah-wilayah yang mengedepankan nilai moral dan agama pun tidak luput dari cengkeraman penyelewengan dana umat, menunjukkan betapa krisis integritas telah melumpuhkan nurani kolektif bangsa.
Membaca Wajah Baru Korupsi di Era Modern
Untuk memperkaya esensi dan konteks buku Penyakit Sosial itu Adalah Korupsi di tengah realitas kekinian, kita juga perlu mengenali transformasi bentuk korupsi modern yang sering kali tidak disadari:
A. Korupsi Waktu (Time Theft) di Sektor Publik
Korupsi mikro ini terjadi ketika aparatur atau pekerja sengaja menunda-nunda pelayanan publik agar masyarakat terpaksa membayar uang pelicin (jalur cepat), atau mencuri jam kerja instansi untuk kepentingan pribadi namun tetap menuntut hak penuh.
B. Nepotisme Terselubung dan Konflik Kepentingan
Alih-alih suap amplop tunai, praktik korupsi masa kini sering berwujud pertukaran akses (quid pro quo), di mana proyek-proyek strategis negara dimenangkan oleh kerabat dekat tanpa melalui proses tender yang transparan dan berbasis meritokrasi.
C. Hedonisme Birokrasi dan Flexing
Di era media sosial, hilangnya kepekaan sosial (empathy deficit) tampak jelas ketika penyelenggara negara memamerkan gaya hidup mewah yang tidak selaras dengan profil pendapatan resminya. Hal ini mencerminkan matinya rasa malu di ruang publik.
D. Korupsi Data (Paper Corruption)
Digitalisasi birokrasi melahirkan bentuk baru korupsi berupa manipulasi data penerima bantuan sosial, laporan kegiatan fiktif, hingga proyek mangkrak yang tampak rapi di atas kertas tetapi kosong di lapangan.
5. Kesimpulan: Menyalakan Kembali Lentera Integritas
Buku Penyakit Sosial itu Adalah Korupsi suntingan Prayitno Nur adalah bacaan wajib bagi siapapun yang menolak untuk menyerah pada keadaan. Buku ini menampar kesadaran kita bahwa memberantas korupsi tidak cukup hanya dengan menangkap koruptor kakap melalui penegakan hukum, melainkan harus dimulai dengan merevolusi mentalitas terkecil dari diri sendiri—mulai dari membuang jauh-jauh budaya curang, menolak pemakluman atas pelanggaran kecil, dan merawat integritas dalam keseharian.
Jika Anda peduli dengan masa depan bangsa Indonesia, mulailah dengan membaca buku ini, merenungkan setiap lembar pesannya, dan sebarkan kesadaran bahwa korupsi adalah musuh bersama yang harus dilawan dari akar rumput.

Posting Komentar untuk "Mengapa Korupsi di Indonesia Tak Kunjung Padam? Ulasan Buku "Penyakit Sosial itu Adalah Korupsi""
Posting Komentar