85 Juta Pemudik Akan Membludak


Idul Fitri tahun ini adalah Idul Fitri 1443 H yang akan menjadi momen paling penting karena setelah 2 tahun tidak bisa berlebaran dengan bebas karena pandemi. Sekitar 85 juta orang akan melakukan mudik ke berbagai tujuan di Indonesia. Termasuk ribuan fasilitas mudik gratis.

Tawaran mudik gratis dari berbagai pihak, termasuk dari pemerintah dalam hal ini BUMN dan beberapa institusi yang menjadikan mudik tahun 2022 ini semakin semarak. Makanya Korlantas Polri dan sejumlah pihak terkait mengeluarkan peraturan melakukan rekayasa lalu lintas dengan sistim ganjil genap di jalan tol Trans-Jawa pada mudik tahun ini.

Walaupun kondisi ekonomi yang baru beranjak pulih setelah diterpa corona virus tapi Lebaran tahun ini menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno memperkirakan perputaran ekonomi mencapai Rp72 triliun. Sebuah angka yang fantastik.

Angka tersebut bisa diperkirakan lebih tinggi mengingat pelonggaran aktifitas manusia tahun ini diberikan oleh pemerintah serta durasi libur yang cukup panjang dan bagi pegawai pemerintah baru saja mengucurkan berbagai dana THR, gaji ke-13 dan tunjangan kinerja. Jadi seperti menjadi puncak di mana orang merasa bebas untuk bisa melakukan mudik.

Dengan angka perputaran uang yang begitu besar tersebut bisakah memiliki dampak ekonomi terhadap desa/dusun di udik tujuan dari para pemudik tersebut? Atau Lebaran tahun ini akan menjadi sebuah rutinitas yang hanya sekejab saja dirasakan, setelah itu menguap begitu saja.

Sebuah buku menarik yang diterbitkan oleh Dompet Dhuafa berjudul: Ekonomi Mudik: Potret Potensi Ekonomi Mudik Lebaran dan gagasan Mudik Berdayakan Desa. Buku disusun oleh M. Arifin Purwakananta dan M. Sabeth Abilawa. Sementara editor dipercayakan kepada Amirul Hasan dan Ramadhan Muhaimin. Tahun terbit dari buku ini 2011.

Buku ini memang memotret mudik yang dilihat dari sisi dampak ekonomi bagi masyarakat khususnya masyarakat desa. Ketika buku ini ditulis sorotan mudik saat itu dilakukan oleh 18,5 juta dengan perkiraan perputaran duit mencapai 52,17. Kemudian ketika ditelisik lebih detail lagi ke mana larinya dana sebegitu besar itu? 11 Triliun digunakan untuk transportasi, sedangkan untuk uang saku mencapai 18,5 triliun. Sisanya untuk konsumsi baju dan makanan. Selain juga untuk biaya komunikasi, zakat dan sedekah.

Dompet Dhuafa dalam buku ini memberikan data penelitiannya bahwa pada tahun 2010 dengan fokus kepada perputaran uang pada acara mudik ditemukan bahwa dana berputar pada masa Lebaran tersebut mencapai 84.9 triliun. Dana mudik tersebut digunakan untuk transportasi, konsumsi di perjalanan, akomodasi, kedermawanan, wisata dan investasi. Angka tersebut beranjak naik bila menghitung remitensi TKI ke Indonesia sebesar 20 triliun.

Tapi yang menarik dari buku ini memaparkan bagaimana acara mudik itu bukan hanya bermanfaat bagi pemudik itu sendiri tapi orang lain yaitu desa tujuan mudik itu mendapat efek ekonomi dari kegiatan tersebut. Mudik seharusnya didorong menjadi instrumen pemberdayaan pembangunan desa.

Seperti yang dipaparkan dalam sambutannya oleh Ismail A. Said Presiden Dompet Dhuafa kala itu, ia memberikan gagasan supaya mudik benar-benar memiliki efek positif, bukan malah menjadi persoalan sosial baru dari tahun ke tahun.

Empat gagasan tersebut adalah, pertama perlunya gerakan efesiensi transportasi mudik, kedua gerakan belanja ke pasar rakyat di desa, ketiga gerakan berinvestasi di desa dan keempat gerakan filantropi atau kedermawanan pemudik supaya lebih ditingkatkan lagi. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.