COVID-19 Dari Tuhan atau Dari Wuhan?

Covid-19 benar-benar meluluhluntakkan berbagai sendi kehidupan. Banyak orang menderita karenanya. Korban berjatuhan di seluruh dunia karena virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan itu setiap hari terdengar.

Banyak orang mempertanyakan, apa yang terjadi dengan dunia ini. Dan tidak sedikit orang mencari jawaban mengenai alam semesta ini. Bagi yang meyakini adanya Tuhan tentu akan terus bertahan dengan melihat Tuhan dalam kasus COVID-19 ini. Dan mereka yang tidak meyakini, maka salah satu referensinya mengenai alam yang apa adanya ini seperti konsep Richard Dawkins.

Efek lainnya penderitaan itu terus berlanjut tanpa ada kejadian ajaib yang bisa menghentikan. Sampai-sampai kabar dukacita tidak lagi mengagetkan lagi. Berbagai usaha dilakukan, baik yang bersifat medis maupun spiritual sebagai usaha untuk menghentikan laju virus ganas bernama Coronavirus.

Tidak sedikit orang-orang yang dicintai pergi dengan meninggalkan rasa sedih yang mendalam bagi orang-orang terdekatnya. Banyak orang yang diPHK karena perusahaan tidak bisa membayar gaji. Dan penderitaan-penderitaan lain yang bila didaftar akan menjadi daftar panjang yang tidak berujung.

Sementara ada orang yang bertanya, di manakah Tuhan ketika COVID-19 muncul? Padahal seberapa banyak doa yang sudah diteriakkan kepadaNya? Doa itu bukan hanya doa biasa, tapi diikuti oleh tangisan dan kehancuran hati dengan keyakinan penuh. Berharap ada mukjizat dan keajaiban muncul pada awal-awal pandemi supaya korban tidak terus bertambah.

Celakanya berbagai pusat kegiatan peribadatan malah banyak yang harus ditutup untuk mengurangi interaksi satu dengan yang lain sehingga bisa menekan penularan virus Corona. Tempat-tempat di mana orang berkumpul untuk memuja dan memuji Tuhan kini tidak bisa dilakukan di tempat-tempat ibadah. Padahal kita terbiasa beribadah dengan cara dipimpin. Tokoh-tokoh agama menyarankan untuk berdoa di rumah masing-masing yang salah satu pokok doanya adalah supaya Tuhan menolong menghilangkan virus Corona tersebut.  

Namun kenyataannya, situasinya semakin parah. Manusia seperti berada di ruang hampa yang tidak tahu harus berbuat apa. Yang dilakukan adalah usaha sendiri dengan membuat vaksin dan usaha-usaha manusia lainnya untuk menghadapi ganasnya virus. Tapi sampai saat ini berita mengenai Virus Corona masih terdengar baik di dalam negeri maupun di belahan bumi lainnya.

Lain lagi dengan mereka yang tidak mempercayai adanya Tuhan atau setidaknya berusaha untuk berpikir bahwa virus ini tidak ada hubungannya dengan Tuhan. Lagu lama kembali mengumandang yaitu, kalau memang Tuhan itu ada kenapa Tuhan membiarkan begitu saja adanya kejahatan dan berbagai kerusakan di bumi termasuk Virus Corona menimpa manusia? Atau lebih spesifik lagi, kalau Tuhan itu maha mengasihi, mengapa manusia yang dikasihi itu dibiarkan begitu saja? Membingungkan? Benar, membingungkan.


Sebuah buku menarik yang berusaha untuk mendudukkan masalah adanya pertentangan tersebut? Judul bukunya: Where is God in a Coronavirus World? Buku ditulis oleh John C. Lennox. Buku ini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Literatur Perkantas Jatim Tahun 2020 dengan judul: Di Mana Allah dalam Dunia dengan Virus Corona?

John C. Lennox berusaha menulis buku ini tentu sebagai refleksi pribadi dan tentu menghindari berbagai penelitian ahli mengenai virus dari berbagai universitas. Makanya sebagai refleksi maka Lennox merasa bahwa kenyataannya manusia ini adalah makhluk yang rapuh. Kerapuhan itu bisa dirasakan langsung melalui kejadian coronavirus ini.

Namun Lenox berusaha untuk mendudukkan persoalan yaitu berbagai kerusakan dan penderitaan itu bisa disebabkan oleh dua hal yaitu karena adanya kejahatan moral yaitu karena tindakan manusia yang mengabaikan moral. Kedua karena kejahatan alamiah yaitu terjadinya berbagai bencana termasuk COVID-19. Dengan berusaha meyakinkan bahwa terkadang kesakitan itu akan menimbulkan kita menyadari untuk waspada dan mawas diri serta introspeksi diri.

Namun ketika Lennox sampai kepada sorotan terhadap pandangan atheis mengenai adanya berbagai penderitaan secara khusus COVID-19 ini beberapa pemikiran ini diungkapkan. Menurut atheis kata Lennox, solusi atas bencana dan kejahatan alamiah dengan mengabaikan Allah dan percaya kepada prinsip atheis saja. Tidak ada Allah, dan terima saja kenyataan tentang dunia ini, keras dan tak berperasaan, tidak peduli apakah kita hidup atau mati.

Bicara mengenai pandangan atheisme saat ini tentu tidak lepas dari cara pandang Richard Dawkins. Begitupun Lennnox yang mengutip apa yang disampaikan Dawkins ahli biologi evolosioner tersebut dari bukunya River Out of Eden di mana alam semesta ini tanpa rancangan, tidak bertujuan.

Sebagai jawaban yang berlatarbelakang Alkitab buku ini berusaha untuk mempertanyakan konsep-konsep atheis yang dinukil dari cara berpikir Dawkins ini yang memiliki akibat logis. Bila kita melihat kejahatan dan berakibat penderitaan maka hal tersebut akan menghapus masalah baik dan jahat termasuk dalam kasus virus corona ini. Bila tidak ada konsep baik dan jahat maka dari manaadanya konsep baik dan jahat itu berasal? Di sini mulai dimunculkan mengenai adanya moral. Makhluk moral inilah yang menjadi alasan Lennox untuk menghubungkan dengan Kitab Kejadian dalam penciptaan.

Walaupun seperti diakui sendiri bahwa mungkin catatan-catatan Lennox tidak memberi jawaban mengenai banyak hal mengenai coronavirus salah satunya dan bahkan ia terus mencari jawaban-jawaban tadi tapi setidaknya buku ini turut memberi pemikiran dan berusaha untuk memberikan jawaban setidak-tidaknya dari sudut pandang apa yang diyakini oleh John C. Lennox.

Tentu saja semuanya masih misteri dan bahkan tidak tahu apakah Virus Corona itu datang dari Tuhan, atau dari Wuhan?

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.