Mengapa Hari Kartini Penting Diperingati?


RA. Kartini adalah wanita yang pikirannya melesat melampui jamannya. Walaupun ia lahir di tengah budaya di mana wanita menjadi konco wingking di jamannya, tapi cita-citanya besar melebihi kaumnya. Makanya 21 April bangsa ini memperingati Hari Kartini sesuai dengan namanya.

Idenya yang melanglang buana memang mengesankan adanya kebebasan yang ingin diraih dari seorang wanita yang hidup dalam kungkungan tradisi di mana laki-laki adalah segala hal dalam tindakan. 

Cara berpikirnya memang patut untuk selalu diingat, bahwa cara berpikir tinggi dalam cita-cita dan angan-angan menjadi kunci bagaimana seorang wanita bisa sejajar dengan laki-laki dan bahkan bisa melampuinya. Dan Peringatan Hari Kartini 21 April bisa menjadi penyemangat dan bahkan pendorong bagi setiap wanita untuk tidak berhenti hanya di dapur, di kasur dan mengurus rumah tangga saja.

Peringatan terhadap Pahlawan Kemerdakaan Nasional Wanita Raden Ajeng Kartini kali ini dengan mengangkat dan mengulas sebuah buku khusus yang berkisah mengenai sosok wanita yang mendapatkan anugerah sebagai Pahlawan dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108, pada 2 Mei 1964 ini. 

Judul buku:  Kartini: Pribadi Mandiri. Penulisnya adalah: Haryati Soebadio & Saparinah Sadli. Buku ini diterbitkan oleh PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Tahun terbit 1990.

RA Kartini lahir tahun 1879. Dan buku yang saya perhatikan ini memang menjabarkan mengenai kepahlawanan Kartini yang kemudian dihubungkan dengan keberadaan wanita pada era sekarang. Dan mengenai ulasan terhadap kehidupan R A. Kartini penulis buku ini mengulasnya dari sudut pandang kehidupan kartini dilihat dari lingkungan sosial dan budaya pada jamannya.

Menariknya adalah bagaimana seorang Kartini yang hidup dalam jamannya sudah menghadapi pergolakan pikiran, dan kebingungan ketika tokoh ini hidup dalam situasi antara budaya yang dimilikinya dengan budaya baru yang dijumpainya telah menjadi pergumulan tersendiri bagi pahlawan kita ini.

Seperti diketahui bahwa R A. Kartini yang lahir dan besar dari kalangan lingkungan keluarga bangsawan atau priyayi. Tentu saja lingkungan tersebut sangat ketat dalam memegang teguh tata cara dan adat termasuk adat-adat yang berhubungan dengan wanita.

Tetapi di sisi lain sebagai anak dari orang tua yang memegang kekuasaan di dalam pemerintahan waktu itu sebagai bupati R A. Kartini mendapatkan akses untuk dapat membaca buku–buku yang berasal dari Barat dan tentu saja yang ditulis dalam bahasa asing. Rupanya perkenalan dengan budaya dan pemikiran melalui bacaan tersebut memberi peluang bagi Kartini untuk bisa membuka kontak dengan orang–orang Belanda.

Sehingga dengan demikian jelas bahwa sekalipun Kartini hidup dalam budaya Jawa yang kental, tetapi ia tidak lepas juga dari pengaruh pemikiran budaya luar dalam hal ini Barat. Tapi ada pihak lain yang menjadikan Kartini mendapat kesempatan untuk berpikiran terbuka. Ia, ayahnya memiliki andil bagaimana Kartini yang aktif tapi juga pihak lain yang menolongnya.

Berkat keberanian ayahnya untuk menerobos tradisi di mana gadis R A. Kartini bisa mengenyam pendidikan sekolah dasar yang diadakan oleh Belanda dan dengan bekal sekolah selama enam tahun itu ia telah berhasil menguasai bahasa Belanda dengan baik. Bukan hanya itu Kartini mendapat kesempatan untuk bisa berkenalan dengan kebudayaan Belanda dan teman–teman yang berkulit putih itu.

Tapi tentu saja Kartini tetaplah gadis Jawa yang tunduk terhadap tradisi local, dan hal itu terbukti ketika ia berumur 12 tahun ia harus meningalkan sekolah dan memasuki apa yang disebut dengan masa “pingitan” untuk menantikan masa di mana akan memasuki perkawinan. Suatu keadaan yang tidak diinginkannya, karena dalam diri Kartini ia ingin terus menuntut ilmu mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi. 

Tapi sekali lagi keadaan saat itu yang tidak memungkinkan Kartini bisa terus melanjutkan keinginannya. Tapi di saat–saat “penantian” itu Kartini rupanya masih mendapatkan kesempatan untuk belajar yang dilakukan di rumah. Dan bahkan Kartini mendapat kesempatan untuk bergaul dengan orang–orang Belanda, dan bahkan menikmati bacaan–bacaan Barat. 

Sebuah kemauan yang jarang terjadi pada jamannya khususnya pada di kalangan wanita. Sekali lagi keinginan Kartini untuk mengejar pengetahuan sangat tinggi, tetapi harus kandas. Dan kahirnya gadis Kartini harus juga takluk kepada keadaan di mana ia harus menikah dengan Bupati Rembang R A. Djojo Adhiningrat hingga ia wafat pada tanggal 17 September 1904, setelah beberapa beberapa hari dari proses melahirkan putra tunggalnya.

Pergumulan batin Kartini dan pemikiran–pemikirannya itu dapat diketahui kemudian setelah surat–suratnya terhadap teman–temannya itu diterbitkan. Kumpulan surat–suratnya itu diterbitkan dalam bentuk buku yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Mulanya dalam bahasa Belanda tahun 1911 berjudul, “Door Duisternis tot Licht” Gedachten Over en Voor Het Javaansche Volk van Raden Adjeng Kartini” Dari Kegelapan Menjadi Terang: Pemikiran Tentang dan Untuk Bangsa Jawa oleh Raden Adjeng Kartini

Sepuluh tahun kemudian tepatnya tahun 1920 A.L Symmer menterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul “Letters of a Javanese Princess.” Tahun 1955 buku tersebut diterjemahkan dalam bahasa Jepang dengan judul, “Hi Kariwa Ankoku wo Koete: Kartini no Tegami. Juga diterjemahkan dalam bahasa Prancis berjudul Lettres de Raden Adjeng Kartini: Java en 1900.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.