Kunci Keberhasilan Peluang Usaha Baru

Membuka usaha baru perlu strategi supaya berhasil dengan baik. Selain mempersiapkan secara materi yang jadi bidang usaha, tapi paling penting lagi adalah persiapan mental yang tidak kalah pentingnya. Misalnya berdagang.

Keberhasilan suatu usaha tidak ditentukan oleh siapa kita. Dari suku, etnik mana kita berasal. Walaupun kita sering memberi laber kepada etnik-etnik tertentu dengan keahlian khusus. Padahal setiap orang punya peluang usaha yang berhasil. Ingin tahu buktinya? Lihat saja, di setiap etnik, suku pasti muncul orang-orang yang berhasil dalam bidang tertentu yangdianggap keahlian dari etnik lain. 

Keberhasilan itu hak semua orang. Usaha apapun adalah peluang bagi semua. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah kita sudah mematok diri, bahwa kita bukan dari etnik tertentu jadi kita tidak bisa melakukan ini dan itu. Kalau peluang itu ada, dan kita meyakini bahwa kita ahli di bidang dagang tertentu, lakukan saja.

Kegagalan sering terjadi bukan disebabkan oleh modal atau yang bersifat meterial, tapi lebih sering karena pikiran yang tidak bisa diajak kompromi untuk mencapai keberhasilan. Ini bukan tentang kecerdasan seseorang, tapi lebih kepada kecerdasan emosi dan spiritual seseorang. 

Setidak-tidaknya pesan ini yang ingin disampaikan oleh Gunawan Ardiyanto dalam bukunya 10 Biang Untung: Usaha Kecil Menengah. Buku ini diterbitkan oleh Metagraf, Solo. Tahun terbitan 2011.

Buku ini sejak halaman awal memang memberi dorongan dan semangat kepada pembaca dan kepada siapa saja yang tertarik untuk memulai usaha. Penulis seperti memberikan sebuah kunci penting yang sering orang tidak sadari ketika ingin memulai usaha. Apa itu? Penjara dan pembatasan yang disematkan kita sendiri kepada diri sendiri. Bagaimana maksudnya?

Begini, ketika seseorang ingin memulai usaha terkadang muncul yang namanya ketakutan, kecemasan untuk melangkah. Peringatan penting dari penulis adalah, "Apa yang Anda takutkan, itulah yangmenimpa Anda. Apa yang Anda cemaskan itulah yang mendatangi Anda. Intinya, apa yang Anda pikirkan, itulah yangakan terjadi. Jika yang dipikirkan adalah hal=hal positif, hal-hal positif itulah yang akan terjadi. Dan sebaliknya.

Pembatasan lainnya adalah ketika kita membatasi diri dengan menganggap bahwa diri kita bukan termasuk dari suku yang lihai dalam melakukan sebuah pekerjaan. Padahal kelihaian, kepintaran dalam pekerjaan itu bukan karena latar belakang etnik. Tapi bagaimana melatihnya, memulainya dan akhirnya lihai dalam mengerjakan pekerjaan yang kita tekuni.

Pembatasan lainnya adalah ketika kita melihat fisik kita, entah itu karena ada kekurangan, atau malah jenis kelamin dan seterusnya yang menjadikan kita tidak berani untuk melangkah memulai usaha yang sudah kita pikirkan matang-matang. Pembatasan lainnya adalah batas pendidikan. "Saya kan hanya tamatan ini dan itu." Padahal tidak sedikit orang yang berhasil dalam bidangnya tanpa memiliki pendidikan formal yang mumpuni.

Pembatasan lainnya adalah membatasi diri karena ekonomi. Dalam web blog ini sudah diungkap bagaimana seorang Mochtar Riady menjadi orang kaya di Indonesia dengan keadaan yang latar belakangnya sangat memilukan. Tapi ia berhasil. Kemudian pembatasan lainnya adalah pembatasan agama. Maksudnya adalah ketika kita membatasi dengan batasan-batasan karena agama sehingga kita membangun benteng supaya tidak terkoneksi dengan yang berbeda agama, maka artinya satu peluang sudah kita sumbat.Dan beberapa pembatasan lainnya yang dibahas dalam buku ini.

Buku ini menjadi penting untuk disimak oleh mereka yang ingin memulai usaha. Memiliki wawasan awal untuk membentuk sikap supaya ketika kita mulai melangkah untuk memulai usaha, maka kita akan menjadi orang yang tahan banting. Karena dalam semua bentuk usaha, halangan, tantangan, rintangan terkadang muncul tiba-tiba. Buku ini setidak-tidaknya bisa menjadi pengingat bahwa kita sudah siap menghapai semuanya.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.