Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme — Mengapa Kebahagiaan Kita Mudah Hilang?
Ketika Kebahagiaan Kita Ditentukan oleh Apa yang Muncul di Layar
Pernahkah
kita membuka ponsel hanya untuk melihat satu atau dua informasi, tetapi
satu jam kemudian mendapati perasaan kita sudah berubah berkali-kali?Awalnya melihat video lucu, kita tertawa. Kemudian melihat kabar seseorang berhasil membeli rumah, kita mulai membandingkan diri. Tak lama kemudian muncul berita yang membuat marah. Kita membaca komentar, menemukan pendapat yang berbeda, lalu ikut kesal. Beberapa menit kemudian muncul kabar baik dari orang yang kita dukung dan perasaan kita kembali senang.
Tanpa sadar, suasana hati kita telah menjadi seperti tombol yang ditekan oleh layar.
Di sinilah pertanyaan tentang kebahagiaan menjadi menarik. Apakah kita benar-benar bahagia, atau sebenarnya kita hanya sedang mengalami serangkaian emosi yang dipicu oleh keadaan di luar diri kita?
Pertanyaan semacam ini terasa sangat relevan untuk membaca kembali buku Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme karya A. Setyo Wibowo.
Buku yang diterbitkan PT Kanisius pada 2019 ini mengajak pembaca memahami kebahagiaan melalui filsafat Stoikisme. Buku ini bukan sekadar kumpulan kiat agar hidup terasa menyenangkan. Justru sebaliknya, ia mengajak kita melihat kembali apa yang selama ini kita sebut sebagai bahagia.
Bahagia Bukan Sekadar Merasa Senang
Dalam kehidupan sehari-hari, bahagia sering disamakan dengan perasaan senang.
Mendapat uang, bahagia. Dipuji, bahagia. Mendapat like, bahagia. Orang yang kita dukung menang, bahagia. Sebaliknya, kehilangan uang, mendapat kritik, kalah dalam persaingan, atau melihat orang lain lebih berhasil dapat segera membuat kita kecewa.
Masalahnya, jika kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada keadaan seperti itu, hidup kita akan terus naik turun.
Hari ini bahagia karena mendapat pujian. Besok kecewa karena komentar seseorang. Pagi merasa percaya diri setelah membaca berita positif tentang diri sendiri, malamnya marah karena membaca opini yang menyerang kita.
Kita bukan sedang mengendalikan kebahagiaan; kita sedang menyerahkan remote control kebahagiaan kepada orang lain.
Inilah salah satu pintu masuk menarik untuk memahami Stoikisme.
Apa Itu Ataraxia?
Ataraxia
secara sederhana dapat dipahami sebagai keadaan bebas dari gangguan
atau ketenangan batin. Dalam buku A. Setyo Wibowo, gagasan ini
ditempatkan dalam konteks Stoikisme sebagai jalan untuk menjalani
kehidupan, bukan sekadar teori filsafat. Filsafat bagi kaum Stoa
merupakan praktik dan latihan hidup (askesis). (Repository Driyarkara)
Karena itu, Stoikisme tidak tepat jika hanya dipahami sebagai ajaran untuk menjadi manusia yang “tidak punya perasaan”.
Justru yang dilatih adalah cara kita berhubungan dengan perasaan, penilaian, dan berbagai peristiwa.
Kita mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang dikatakan orang lain. Tetapi kita masih dapat belajar mengendalikan bagaimana kita menilai perkataan tersebut.
Kita tidak dapat mengatur hasil sebuah pemilu, keputusan atasan, pendapat orang lain, harga barang, atau komentar di media sosial. Namun kita dapat bertanya:
Apa yang sebenarnya berada dalam kendali saya?
Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi rem sebelum kita bereaksi.
Media Sosial dan Kebahagiaan yang Dipinjam
Mendapat uang, bahagia. Dipuji, bahagia. Mendapat like, bahagia. Orang yang kita dukung menang, bahagia. Sebaliknya, kehilangan uang, mendapat kritik, kalah dalam persaingan, atau melihat orang lain lebih berhasil dapat segera membuat kita kecewa.
Masalahnya, jika kebahagiaan sepenuhnya bergantung pada keadaan seperti itu, hidup kita akan terus naik turun.
Hari ini bahagia karena mendapat pujian. Besok kecewa karena komentar seseorang. Pagi merasa percaya diri setelah membaca berita positif tentang diri sendiri, malamnya marah karena membaca opini yang menyerang kita.
Kita bukan sedang mengendalikan kebahagiaan; kita sedang menyerahkan remote control kebahagiaan kepada orang lain.
Inilah salah satu pintu masuk menarik untuk memahami Stoikisme.
Apa Itu Ataraxia?
Ataraxia
secara sederhana dapat dipahami sebagai keadaan bebas dari gangguan
atau ketenangan batin. Dalam buku A. Setyo Wibowo, gagasan ini
ditempatkan dalam konteks Stoikisme sebagai jalan untuk menjalani
kehidupan, bukan sekadar teori filsafat. Filsafat bagi kaum Stoa
merupakan praktik dan latihan hidup (askesis). (Repository Driyarkara)Karena itu, Stoikisme tidak tepat jika hanya dipahami sebagai ajaran untuk menjadi manusia yang “tidak punya perasaan”.
Justru yang dilatih adalah cara kita berhubungan dengan perasaan, penilaian, dan berbagai peristiwa.
Kita mungkin tidak bisa mengendalikan apa yang dikatakan orang lain. Tetapi kita masih dapat belajar mengendalikan bagaimana kita menilai perkataan tersebut.
Kita tidak dapat mengatur hasil sebuah pemilu, keputusan atasan, pendapat orang lain, harga barang, atau komentar di media sosial. Namun kita dapat bertanya:
Apa yang sebenarnya berada dalam kendali saya?
Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi rem sebelum kita bereaksi.
Media Sosial dan Kebahagiaan yang Dipinjam
Menariknya, persoalan yang dibahas buku ini terasa semakin dekat dengan kehidupan digital.
Kita hidup dalam lingkungan informasi yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ponsel selalu tersedia. Informasi datang tanpa diminta. Algoritma terus menawarkan sesuatu yang mungkin membuat kita penasaran, senang, takut, marah, atau merasa tertinggal.
Ada fenomena yang sering disebut doomscrolling: terus menggulir informasi negatif meskipun kita tahu aktivitas tersebut membuat pikiran semakin berat.
Di sini Stoikisme dapat dibaca dari sudut yang sedikit berbeda.
Bukan sekadar “jangan peduli dengan dunia”, melainkan jangan membiarkan setiap informasi menentukan kondisi batin kita.
Kita boleh membaca berita. Kita boleh mengikuti politik. Kita boleh memiliki pilihan. Kita boleh tidak setuju dengan orang lain.
Namun ada perbedaan besar antara terlibat dalam kehidupan publik dan menyerahkan ketenangan pribadi kepada setiap peristiwa publik.
Jangan Salah Memahami Stoikisme
Ada anggapan populer bahwa menjadi Stoik berarti harus selalu kuat, tidak boleh menangis, tidak boleh kecewa, dan harus menerima segala sesuatu dengan wajah datar.
Pemahaman seperti itu terlalu sederhana.
Yang menarik dari buku Ataraxia justru adalah penekanannya pada filsafat sebagai praktik dan latihan. Artinya, ketenangan bukan sesuatu yang tiba-tiba dimiliki seseorang setelah membaca satu buku. Ia perlu dilatih.
Kita hidup dalam lingkungan informasi yang tidak pernah benar-benar berhenti. Ponsel selalu tersedia. Informasi datang tanpa diminta. Algoritma terus menawarkan sesuatu yang mungkin membuat kita penasaran, senang, takut, marah, atau merasa tertinggal.
Ada fenomena yang sering disebut doomscrolling: terus menggulir informasi negatif meskipun kita tahu aktivitas tersebut membuat pikiran semakin berat.
Di sini Stoikisme dapat dibaca dari sudut yang sedikit berbeda.
Bukan sekadar “jangan peduli dengan dunia”, melainkan jangan membiarkan setiap informasi menentukan kondisi batin kita.
Kita boleh membaca berita. Kita boleh mengikuti politik. Kita boleh memiliki pilihan. Kita boleh tidak setuju dengan orang lain.
Namun ada perbedaan besar antara terlibat dalam kehidupan publik dan menyerahkan ketenangan pribadi kepada setiap peristiwa publik.
Jangan Salah Memahami Stoikisme
Ada anggapan populer bahwa menjadi Stoik berarti harus selalu kuat, tidak boleh menangis, tidak boleh kecewa, dan harus menerima segala sesuatu dengan wajah datar.Pemahaman seperti itu terlalu sederhana.
Yang menarik dari buku Ataraxia justru adalah penekanannya pada filsafat sebagai praktik dan latihan. Artinya, ketenangan bukan sesuatu yang tiba-tiba dimiliki seseorang setelah membaca satu buku. Ia perlu dilatih.
Kita berlatih membedakan fakta dan opini.
Kita berlatih mempertanyakan kesan pertama.
Kita berlatih tidak langsung bereaksi ketika tersinggung.
Kita berlatih menerima bahwa ada hal-hal yang memang tidak dapat kita ubah.
Dan mungkin yang paling sulit: kita berlatih menerima bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita.
Kebahagiaan yang Tidak Bergantung pada Tepuk Tangan
Ada satu pertanyaan yang menurut saya layak dibawa dari buku ini ke kehidupan modern:
Jika tidak ada seorang pun yang melihat hidup kita, apakah kita masih menganggap diri kita bahagia?
Pertanyaan ini menjadi penting di era ketika kehidupan mudah dipamerkan.
Foto liburan, rumah baru, pekerjaan baru, makanan di restoran, pencapaian anak, bahkan aktivitas sederhana dapat menjadi bagian dari kehidupan yang dipertontonkan.
Tidak ada yang salah dengan berbagi kebahagiaan.
Tetapi persoalannya muncul ketika kita mulai membutuhkan pengakuan orang lain untuk memastikan bahwa hidup kita memang berharga.
Di titik itulah kebahagiaan bisa berubah menjadi sesuatu yang rapuh.
Kita bahagia karena dipuji. Kita kecewa karena tidak mendapat perhatian. Kita merasa berhasil karena dibandingkan dengan orang lain. Kita merasa gagal ketika melihat kehidupan orang lain tampak lebih baik.
Stoikisme menawarkan pertanyaan yang lebih dalam: bukankah hidup yang baik seharusnya tetap bernilai meskipun tidak mendapatkan tepuk tangan?
Ataraxia Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah
Kita perlu membedakan ketenangan dengan kehidupan tanpa masalah.
Tidak ada manusia yang bebas dari masalah.
Marcus Aurelius sendiri hidup di tengah perang, wabah, persoalan politik, dan berbagai tekanan sebagai kaisar Romawi. Karena itu, gambaran Stoikisme sebagai cara untuk hidup nyaman justru bertolak belakang dengan semangat filsafat tersebut.
Ataraxia bukan berarti dunia harus menjadi tenang terlebih dahulu agar kita bisa tenang.
Justru pertanyaannya adalah:
Bisakah kita membangun ketenangan ketika dunia sedang tidak tenang?
Inilah yang membuat buku Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme tetap menarik dibaca meskipun diterbitkan pada 2019.
Buku Lama, Pertanyaan yang Tetap Baru
Buku A. Setyo Wibowo tidak perlu dibaca sebagai resep instan untuk menjadi bahagia. Ia lebih tepat dibaca sebagai ajakan untuk menguji kembali cara kita memahami kebahagiaan.
Kita hidup dalam zaman ketika begitu banyak hal berusaha merebut perhatian: notifikasi, berita, komentar, iklan, pencapaian orang lain, konflik politik, dan berbagai opini.
Barangkali persoalan manusia modern bukan kekurangan informasi tentang bagaimana menjadi bahagia.
Kita justru terlalu banyak menerima rangsangan yang membuat kebahagiaan kita mudah berubah.
Karena itu, gagasan ataraxia terasa menarik.
Bahagia bukan berarti setiap hari harus tertawa.
Bahagia bukan berarti semua keinginan terpenuhi.
Bahagia juga bukan berarti hidup bebas dari kehilangan, kritik, kegagalan, atau ketidakpastian.
Mungkin kebahagiaan yang lebih matang adalah ketika kita mampu mengatakan:
Saya tidak bisa mengendalikan semuanya. Tetapi saya masih bisa memilih bagaimana saya menanggapi apa yang terjadi.
Di tengah dunia yang semakin ramai, kemampuan untuk menjaga ketenangan mungkin justru menjadi salah satu bentuk kebahagiaan yang paling berharga.
Dan untuk memahami gagasan tersebut secara lebih mendalam, Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme karya A. Setyo Wibowo bisa menjadi salah satu pintu masuk yang menarik untuk mengenal Stoikisme—bukan sebagai tren, melainkan sebagai latihan menjalani kehidupan.
Kita berlatih mempertanyakan kesan pertama.
Kita berlatih tidak langsung bereaksi ketika tersinggung.
Kita berlatih menerima bahwa ada hal-hal yang memang tidak dapat kita ubah.
Dan mungkin yang paling sulit: kita berlatih menerima bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita.
Kebahagiaan yang Tidak Bergantung pada Tepuk Tangan
Ada satu pertanyaan yang menurut saya layak dibawa dari buku ini ke kehidupan modern:Jika tidak ada seorang pun yang melihat hidup kita, apakah kita masih menganggap diri kita bahagia?
Pertanyaan ini menjadi penting di era ketika kehidupan mudah dipamerkan.
Foto liburan, rumah baru, pekerjaan baru, makanan di restoran, pencapaian anak, bahkan aktivitas sederhana dapat menjadi bagian dari kehidupan yang dipertontonkan.
Tidak ada yang salah dengan berbagi kebahagiaan.
Tetapi persoalannya muncul ketika kita mulai membutuhkan pengakuan orang lain untuk memastikan bahwa hidup kita memang berharga.
Di titik itulah kebahagiaan bisa berubah menjadi sesuatu yang rapuh.
Kita bahagia karena dipuji. Kita kecewa karena tidak mendapat perhatian. Kita merasa berhasil karena dibandingkan dengan orang lain. Kita merasa gagal ketika melihat kehidupan orang lain tampak lebih baik.
Stoikisme menawarkan pertanyaan yang lebih dalam: bukankah hidup yang baik seharusnya tetap bernilai meskipun tidak mendapatkan tepuk tangan?
Ataraxia Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah
Kita perlu membedakan ketenangan dengan kehidupan tanpa masalah.Tidak ada manusia yang bebas dari masalah.
Marcus Aurelius sendiri hidup di tengah perang, wabah, persoalan politik, dan berbagai tekanan sebagai kaisar Romawi. Karena itu, gambaran Stoikisme sebagai cara untuk hidup nyaman justru bertolak belakang dengan semangat filsafat tersebut.
Ataraxia bukan berarti dunia harus menjadi tenang terlebih dahulu agar kita bisa tenang.
Justru pertanyaannya adalah:
Bisakah kita membangun ketenangan ketika dunia sedang tidak tenang?
Inilah yang membuat buku Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme tetap menarik dibaca meskipun diterbitkan pada 2019.
Buku Lama, Pertanyaan yang Tetap Baru
Buku A. Setyo Wibowo tidak perlu dibaca sebagai resep instan untuk menjadi bahagia. Ia lebih tepat dibaca sebagai ajakan untuk menguji kembali cara kita memahami kebahagiaan.Kita hidup dalam zaman ketika begitu banyak hal berusaha merebut perhatian: notifikasi, berita, komentar, iklan, pencapaian orang lain, konflik politik, dan berbagai opini.
Barangkali persoalan manusia modern bukan kekurangan informasi tentang bagaimana menjadi bahagia.
Kita justru terlalu banyak menerima rangsangan yang membuat kebahagiaan kita mudah berubah.
Karena itu, gagasan ataraxia terasa menarik.
Bahagia bukan berarti setiap hari harus tertawa.
Bahagia bukan berarti semua keinginan terpenuhi.
Bahagia juga bukan berarti hidup bebas dari kehilangan, kritik, kegagalan, atau ketidakpastian.
Mungkin kebahagiaan yang lebih matang adalah ketika kita mampu mengatakan:
Saya tidak bisa mengendalikan semuanya. Tetapi saya masih bisa memilih bagaimana saya menanggapi apa yang terjadi.
Di tengah dunia yang semakin ramai, kemampuan untuk menjaga ketenangan mungkin justru menjadi salah satu bentuk kebahagiaan yang paling berharga.
Dan untuk memahami gagasan tersebut secara lebih mendalam, Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme karya A. Setyo Wibowo bisa menjadi salah satu pintu masuk yang menarik untuk mengenal Stoikisme—bukan sebagai tren, melainkan sebagai latihan menjalani kehidupan.


Posting Komentar untuk "Ataraxia: Bahagia Menurut Stoikisme — Mengapa Kebahagiaan Kita Mudah Hilang? "
Posting Komentar