Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian: Ketika Agama Ditantang Menjadi Solusi

Di Tengah Dunia yang Mudah Panik, Masihkah Agama Bisa Membawa Perdamaian?

Apa yang terjadi ketika dunia memiliki teknologi yang semakin canggih, tetapi manusia justru semakin mudah terpecah?

Satu konflik bersenjata dapat memengaruhi harga pangan, energi, ekonomi, migrasi, bahkan percakapan kita di media sosial. Ancaman perang tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang hanya terjadi jauh di negeri lain. Ketegangan geopolitik, perlombaan senjata, disinformasi, dan polarisasi membuat pertanyaan tentang perdamaian kembali menjadi sangat relevan.

Tetapi ada satu pertanyaan yang sering luput dibicarakan: di mana posisi agama ketika dunia sedang menghadapi krisis?

Apakah agama hanya mengurus kehidupan spiritual umatnya? Ataukah agama justru memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mendorong perdamaian?

Pertanyaan tersebut menarik untuk membaca kembali buku Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian karya Mirza Masroor Ahmad, pemimpin internasional Jemaat Muslim Ahmadiyah, yang dalam tradisi komunitasnya dikenal sebagai Khalifatul Masih V.

Buku ini bukan buku baru. Edisi bahasa Inggris World Crisis and the Pathway to Peace pertama kali diterbitkan pada 2012 dan merupakan kompilasi pidato serta surat yang disampaikan kepada berbagai pemimpin politik dan tokoh dunia.  

Justru karena itulah buku ini menarik dibaca kembali hari ini.

Bukan untuk mencari apakah seluruh prediksinya terbukti, melainkan untuk melihat gagasan apa yang masih relevan ketika dunia kembali menghadapi ketegangan geopolitik dan ancaman konflik berskala besar.

Dari Krisis Dunia ke Krisis Keadilan

Salah satu gagasan utama buku ini adalah bahwa perdamaian tidak cukup dibangun hanya dengan menghentikan perang.

Menurut perspektif yang ditawarkan Mirza Masroor Ahmad, hubungan antarnegara harus dibangun di atas keadilan. Negara yang kuat tidak seharusnya menggunakan kekuatannya untuk mengeksploitasi negara yang lebih lemah. Sebaliknya, negara yang lebih lemah juga tidak semestinya menjadikan kelemahannya sebagai alasan untuk meninggalkan prinsip kejujuran dan tanggung jawab.

Dengan kata lain, perdamaian bukan sekadar absennya perang, tetapi hadirnya keadilan.

Gagasan ini membuat buku tersebut tidak hanya berbicara tentang diplomasi, tetapi juga tentang moralitas dalam hubungan internasional.

Di sinilah salah satu bagian menariknya. Ketika kita berbicara mengenai konflik dunia, perhatian biasanya tertuju kepada senjata, tentara, perbatasan, aliansi militer atau kepentingan ekonomi. Buku ini mengajak pembaca melihat lapisan yang lebih dalam: keserakahan, ketidakadilan, ego politik, dan hilangnya rasa kemanusiaan.


Agama: Bagian dari Solusi atau Bagian dari Masalah?

Pertanyaan ini semakin penting pada abad ke-21.

Agama memiliki potensi luar biasa untuk membangun solidaritas karena mampu memengaruhi cara jutaan orang memandang kehidupan. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa identitas agama dapat disalahgunakan untuk membenarkan kebencian dan kekerasan.

Karena itu, tantangan agama bukan sekadar mengajak umatnya menjadi “orang baik”.

Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana nilai-nilai keagamaan diterjemahkan menjadi budaya damai dalam kehidupan sosial dan politik.

Dalam konteks inilah pengalaman Indonesia melalui G20 Religion Forum atau R20 menarik untuk ditempatkan. R20 diselenggarakan di Bali pada 2–3 November 2022 dalam rangkaian Presidensi G20 Indonesia dan secara resmi diposisikan sebagai main event. Gagasan utamanya adalah mendorong agama menjadi sumber solusi, bukan sumber masalah, bagi dunia abad ke-21.

Artinya, pertanyaan yang diajukan buku Mirza Masroor Ahmad sebenarnya masih hidup: apa yang dapat dilakukan agama ketika dunia membutuhkan perdamaian?

Dari Pidato di Parlemen hingga Surat kepada Pemimpin Dunia

Kekuatan lain buku ini terletak pada bentuknya.

Buku tersebut bukan semata-mata kumpulan teori. Isinya terdiri atas pidato dan surat yang ditujukan kepada berbagai tokoh politik dan pemimpin dunia. Di dalamnya terdapat pembahasan mengenai perspektif Islam terhadap krisis global, hubungan antarbangsa, konsekuensi perang nuklir, serta pentingnya keadilan.  

Salah satu pidato penting disampaikan di Capitol Hill, Washington, D.C., pada 27 Juni 2012. Dalam pidato tersebut, Mirza Masroor Ahmad berbicara mengenai hubungan yang adil antarnegara dan pentingnya membangun perdamaian dunia.  

Ada pula komunikasi dengan sejumlah pemimpin dunia, termasuk Paus Benedict XVI, serta pemimpin Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jerman, Prancis, China, Iran, Israel dan Arab Saudi.  

Hari ini beberapa nama dan konteks politik tersebut memang sudah berubah. Paus Benedict XVI, misalnya, telah wafat, sementara sejumlah pemimpin yang disebut dalam buku sudah tidak lagi menjabat.

Namun pesan yang ingin disampaikan justru menjadi lebih menarik jika dibaca sebagai dokumen sejarah: perdamaian membutuhkan komunikasi lintas batas, bahkan ketika perbedaan politik dan agama sangat besar.

Perdamaian Tidak Bisa Hanya Diserahkan kepada Pemerintah

Di sinilah buku ini dapat dibaca dengan perspektif yang lebih kontemporer.

Kita sering berpikir bahwa perdamaian adalah urusan presiden, diplomat, PBB, militer atau pemimpin agama.

Padahal, masyarakat biasa juga ikut menentukan apakah sebuah konflik semakin besar atau justru mereda.

Hari ini, medan konflik tidak hanya berada di wilayah perang. Ia juga hadir di ruang digital.

Sebuah video yang dipotong, berita palsu, komentar provokatif atau narasi kebencian dapat menyebar dalam hitungan menit. Orang yang tidak pernah bertemu dengan kelompok lain bisa membenci mereka hanya karena terus-menerus menerima informasi yang memperkuat prasangka.

Karena itu, literasi digital juga dapat menjadi bagian dari upaya perdamaian.

Menahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mungkin terlihat sederhana. Tetapi jika jutaan orang melakukan hal yang sama, dampaknya tidak sederhana.

Inilah pengembangan menarik dari gagasan buku tersebut untuk konteks masa kini: membangun perdamaian bukan hanya persoalan hubungan antarnegara, tetapi juga hubungan antarmanusia di ruang digital.

Perdamaian Dimulai dari Cara Kita Melihat Orang Lain

Pada akhirnya, buku Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian mengajak kita kembali kepada persoalan yang sangat mendasar: manusia.

Teknologi dapat membuat senjata semakin canggih, tetapi teknologi tidak otomatis membuat manusia semakin bijaksana.

Perjanjian internasional dapat dibuat, tetapi tanpa keadilan dan kepercayaan, perjanjian dapat kehilangan maknanya.

Agama dapat memiliki jutaan pengikut, tetapi jika ajarannya tidak melahirkan toleransi, kasih dan penghormatan terhadap manusia lain, agama justru dapat kehilangan fungsi moralnya.

Karena itu, gagasan perdamaian dalam buku ini layak dibaca bukan hanya sebagai pesan politik atau keagamaan, tetapi sebagai ajakan untuk mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya membuat manusia memilih berdamai daripada berkonflik.

Mungkin perdamaian dunia memang terlalu besar untuk diselesaikan oleh satu buku, satu agama atau satu tokoh.

Namun sebuah buku dapat mengajukan pertanyaan yang penting.

Dan di tengah dunia yang semakin mudah terpecah, pertanyaan itu masih sangat layak kita dengarkan:

Jika agama mengajarkan manusia untuk mencintai sesama, mengapa nilai tersebut tidak lebih sering menjadi kekuatan utama dalam membangun perdamaian dunia?

Posting Komentar untuk "Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian: Ketika Agama Ditantang Menjadi Solusi"