The Trail of Blood: Jejak Sejarah Gereja dan Gagasan tentang Gereja Lokal

The Trail of Blood dan Pertanyaan tentang Apa Itu Gereja


Ada buku kecil dalam sejarah Baptist yang memiliki pengaruh jauh lebih besar daripada ukurannya. Buku tersebut adalah The Trail of Blood karya J. M. Carroll.

Buku ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1931 dan memiliki sekitar 66 halaman dalam edisi awal. Salah satu ciri khasnya adalah sebuah diagram sejarah gereja yang dilipat dan disertakan bersama buku. Katalog Open Library mencatatnya sebagai folded diagram laid in, sedangkan Cornell University Library menyimpan versi chart tersebut sebagai lembar memanjang berukuran sekitar 15 × 45 cm.

Bagi pembaca modern, The Trail of Blood mungkin terlihat seperti buku sejarah gereja yang sederhana. Namun bagi banyak kalangan Baptist, buku ini membawa sebuah pertanyaan yang jauh lebih mendasar:

Apa sebenarnya gereja yang didirikan oleh Yesus Kristus?

Dan lebih jauh lagi:

Apakah gereja harus menjadi bagian dari sebuah denominasi besar agar dapat disebut gereja?

Pertanyaan inilah yang membuat buku kecil tersebut tetap menarik untuk dibaca.

Siapa J. M. Carroll?

J. M. Carroll adalah seorang pendeta Baptist Amerika yang hidup pada 1858–1931. The Trail of Blood berasal dari rangkaian ceramahnya mengenai sejarah gereja dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku kecil. Katalog Google Books dan Open Library mencatat karya tersebut sebagai buku yang berusaha mengikuti sejarah gereja Baptist dari zaman Kristus sampai masa modern.

Judul lengkapnya menjelaskan maksud buku tersebut:

The Trail of Blood: Following the Christians Down Through the Centuries, or The History of Baptist Churches from the Time of Christ, Their Founder, to the Present Day.

Dengan kata lain, Carroll tidak sedang menulis sejarah kekristenan secara netral. Ia mempunyai sebuah tesis tertentu dan berusaha menunjukkan tesis tersebut melalui sejarah.

Apa Isi Utama The Trail of Blood?


Gagasan utama Carroll adalah bahwa gereja-gereja yang mempertahankan ciri-ciri tertentu dari gereja Perjanjian Baru telah bertahan sepanjang sejarah, sekalipun nama mereka berubah dan mereka mengalami penganiayaan.

Dalam chart-nya, muncul berbagai nama kelompok sepanjang sejarah, termasuk Montanists, Novatians, Donatists, Paulicians, Waldenses, Anabaptists, dan kelompok-kelompok lainnya. Chart tersebut kemudian menghubungkan perkembangan sejarah gereja dengan munculnya berbagai kelompok dan denominasi pada masa berikutnya.

Karena itu, “trail” atau “jejak” dalam judul buku bukan sekadar perjalanan geografis.

Ia adalah gambaran tentang kesinambungan gereja.

Carroll ingin menunjukkan bahwa gereja yang menurut pemahamannya setia kepada ajaran Kristus tidak pernah benar-benar lenyap dari sejarah.

Chart The Trail of Blood yang Memanjang


Bagi banyak pembaca, justru chart-lah bagian yang paling menarik.

Diagram tersebut membentang sepanjang sekitar dua ribu tahun sejarah. Angka-angka pada bagian atas dan bawah menunjukkan perjalanan waktu dari abad ke abad. Di sepanjang garis tersebut Carroll menempatkan berbagai kelompok, tokoh, peristiwa, perubahan doktrin, serta perkembangan institusi gereja.

Chart tersebut pada dasarnya ingin memperlihatkan dua arus besar.

Di satu sisi terdapat perkembangan gereja yang akhirnya berhubungan dengan struktur gerejawi dan kekuasaan negara.

Di sisi lain, Carroll menggambarkan kelompok-kelompok yang menurutnya mempertahankan prinsip-prinsip gereja Perjanjian Baru.

Karena itu, chart tersebut bukan sekadar kronologi. Ia adalah peta argumentasi teologis dan historis Carroll.

Gereja dan Negara: Salah Satu Prinsip Penting


Salah satu bagian yang menarik dari pemikiran Carroll adalah pemisahan antara gereja dan negara.

Dalam penjelasannya mengenai ciri gereja yang ia yakini sebagai gereja Perjanjian Baru, Carroll menekankan adanya pemisahan yang jelas antara gereja dan kekuasaan negara. Gereja tidak seharusnya menjadi alat negara, dan negara tidak seharusnya menjadi kepala gereja.

Prinsip ini menjadi semakin penting ketika Carroll menggambarkan perkembangan kekristenan setelah gereja berhubungan erat dengan kekuasaan politik Kekaisaran Romawi.

Dalam pembacaan Carroll, ketika gereja dan negara mulai bercampur, terjadi perubahan besar terhadap kehidupan gereja.

Karena itu, bagi tradisi yang dipengaruhi pemikiran seperti The Trail of Blood, kebebasan beragama dan pemisahan gereja dengan negara bukan sekadar persoalan politik modern. Keduanya merupakan bagian dari pemahaman tentang hakikat gereja.

Gereja Lokal sebagai Gereja yang Sesungguhnya


Ada gagasan lain dalam The Trail of Blood yang sangat menarik untuk diperhatikan: gereja lokal.

Dalam materi Carroll, gereja-gereja lokal dipandang sebagai komunitas yang memiliki pemerintahan dan disiplin sendiri. Bahkan salah satu prinsip yang dikemukakan adalah bahwa gereja-gereja seperti Yerusalem, Antiokhia, Efesus, dan Korintus tidak ditempatkan dalam sebuah struktur hierarkis sehingga satu gereja menjadi penguasa atas gereja lainnya.

Ini menghasilkan sebuah gambaran gereja yang sangat berbeda dari model organisasi modern.

Bukan:

Satu denominasi → sinode → wilayah → gereja cabang.

Melainkan:

Kristus → gereja lokal → gereja lokal → gereja lokal.

Setiap gereja memiliki kehidupan dan tanggung jawabnya sendiri, tetapi gereja-gereja tersebut tetap dapat mempunyai hubungan persaudaraan dan pelayanan.

Dari Mana Otoritas Gereja Berasal?


Di sinilah persoalannya menjadi lebih menarik.

Jika gereja lokal tidak berada di bawah sebuah sinode atau hierarki denominasi, lalu dari mana otoritas gereja berasal?

Jawaban yang menjadi dasar pemikiran ini adalah:

dari Kristus.

Matius 16:18 menjadi salah satu teks yang sangat penting:

«“Aku akan mendirikan jemaat-Ku.”»

Kata yang penting di sini adalah “Aku” dan “jemaat-Ku.”

Kristuslah yang mendirikan gereja.

Para rasul kemudian menjalankan mandat Kristus tersebut. Dalam Kisah Para Rasul kita melihat bagaimana Injil diberitakan, orang-orang percaya dibaptis, jemaat terbentuk, pemimpin ditetapkan, dan gereja-gereja baru muncul di berbagai kota.

Gereja tidak berkembang terutama melalui ekspansi sebuah organisasi pusat.

Gereja berkembang melalui pelipatgandaan komunitas murid Kristus.

Model Paulus dalam Kisah Para Rasul


Pola pelayanan Paulus menjadi sangat menarik dalam pembahasan ini.

Paulus pergi ke berbagai tempat, memberitakan Injil, membentuk komunitas orang percaya, dan kemudian muncul gereja-gereja lokal seperti di Korintus, Efesus, Filipi, Tesalonika dan berbagai wilayah lainnya.

Tidak terlihat bahwa Paulus mendirikan sebuah kantor denominasi pusat yang kemudian mengelola seluruh gereja tersebut.

Yang muncul adalah banyak gereja lokal yang mempunyai kehidupan masing-masing, tetapi tetap terhubung melalui iman, pengajaran, pelayanan, surat-menyurat, pengutusan, dan saling membantu.

Karena itu, gereja dapat dipahami sebagai komunitas orang percaya yang hidup di bawah pemerintahan Kristus, bukan semata-mata sebagai organisasi.

Baptisan dan Pembentukan Gereja


Dalam pemikiran Baptist yang digambarkan Carroll, baptisan orang percaya memiliki posisi yang sangat penting.

Baptisan bukan sekadar ritual administratif.

Baptisan berkaitan dengan pengakuan iman seseorang kepada Kristus dan masuknya seseorang ke dalam kehidupan komunitas orang percaya.

Karena itu, ketika sebuah kelompok orang percaya terbentuk dan kemudian menjalankan kehidupan gereja—berkumpul, mengajarkan Firman, melaksanakan baptisan dan Perjamuan Tuhan, memilih pelayan, serta menjalankan disiplin jemaat—muncul pertanyaan mengenai kapan komunitas tersebut dapat disebut gereja.

Inilah salah satu alasan mengapa konsep otoritas gereja menjadi penting dalam tradisi yang menekankan kesinambungan gereja.


Apakah The Trail of Blood Mengajarkan Gereja Harus Memiliki Denominasi?


Tidak sesederhana itu.

Justru salah satu daya tarik buku ini bagi sebagian pembaca adalah gagasan bahwa gereja lokal memiliki identitas dan tanggung jawabnya sendiri.

Hubungan antargereja dapat terjadi tanpa menjadikan semuanya satu organisasi.

Gereja dapat bekerja sama dalam misi.

Gereja dapat mengutus misionaris.

Gereja dapat membantu gereja lain.

Gereja dapat mempunyai hubungan sejarah dengan gereja lain.

Namun hubungan tersebut tidak selalu berarti bahwa semua gereja harus berada dalam satu struktur sinodal.

Dengan demikian, kita dapat membedakan antara:

persekutuan gereja

dan

pemerintahan gereja.

Keduanya tidak harus identik.

Mengapa Buku Ini Berkaitan dengan Anabaptis?


Di sinilah The Trail of Blood menjadi menarik jika dibandingkan dengan sejarah Anabaptis.

Anabaptis juga memberikan perhatian besar kepada gereja sebagai komunitas orang percaya yang secara sadar mengikuti Kristus.

Mereka menolak baptisan bayi dan menekankan baptisan berdasarkan iman.

Mereka juga menempatkan kehidupan murid Kristus sebagai sesuatu yang sangat penting.

Namun perlu hati-hati: The Trail of Blood adalah karya Baptist successionist, bukan buku sejarah Anabaptis.

Carroll memasukkan beberapa kelompok yang disebut dalam sejarah sebagai Anabaptis ke dalam garis besar sejarah yang ingin ia gambarkan, tetapi para sejarawan modern tidak secara umum menerima seluruh hubungan genealogis yang dibuat oleh Carroll.

Karena itu, lebih tepat mengatakan bahwa terdapat persinggungan tertentu antara prinsip Baptist dan Anabaptis, bukan menyamakan keduanya.

Apakah Sejarah The Trail of Blood Akurat?


Ini bagian yang penting jika buku ini dibahas secara serius.

The Trail of Blood harus dibaca sebagai sebuah interpretasi sejarah dari perspektif Baptist tertentu, bukan sebagai konsensus akademik mengenai sejarah gereja.

Cornell University Library sendiri menjelaskan bahwa chart tersebut dimaksudkan sebagai peta bagi tesis Carroll bahwa Baptist memiliki garis gereja yang tidak terputus sejak Kristus, sekaligus mencatat bahwa klaim tersebut telah dikritik sebagai bentuk revisi sejarah yang serius.

Salah satu masalah utama adalah bahwa Carroll menghubungkan berbagai kelompok sejarah yang sebenarnya mempunyai latar belakang, doktrin, dan konteks yang berbeda-beda sebagai bagian dari satu garis kesinambungan.

Karena itu, pembaca sebaiknya membedakan dua pertanyaan:

Apakah tesis sejarah Carroll dapat dibuktikan secara akademis?

dan:

Apakah prinsip-prinsip gereja yang dibahas Carroll menarik untuk dipelajari secara Alkitabiah?

Keduanya adalah pertanyaan yang berbeda.

Seseorang dapat mengkritik rekonstruksi sejarah Carroll tetapi tetap menganggap serius pertanyaannya mengenai hakikat gereja, baptisan orang percaya, kebebasan gereja, dan hubungan gereja dengan negara.

Mengapa The Trail of Blood Tetap Menarik?


Buku kecil ini tetap menarik bukan karena semua detail sejarahnya harus diterima tanpa kritik.

Justru karena ia memaksa kita kembali kepada pertanyaan-pertanyaan dasar:

Apa itu gereja?

Siapa yang mendirikan gereja?

Dari mana otoritas gereja berasal?

Apakah gereja harus berada di bawah negara?

Apakah gereja lokal harus berada di bawah sinode?

Bagaimana sebuah gereja baru dapat berdiri?

Bagaimana gereja meneruskan Injil kepada generasi berikutnya?

Dan yang paling penting:

Apakah kita sedang membangun gereja menurut pola Perjanjian Baru atau sedang membangun organisasi keagamaan modern?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih besar daripada buku kecil Carroll sendiri.

The Trail of Blood dan Gereja Lokal Masa Kini


Dalam konteks gereja masa kini, pemikiran seperti ini masih relevan.

Sebuah gereja lokal tidak harus kehilangan identitasnya hanya karena mempunyai hubungan dengan gereja lain.

Sebaliknya, gereja lokal juga tidak harus mengisolasi diri.

Gereja dapat memiliki hubungan dengan gereja-gereja lain di berbagai negara melalui pengutusan, pelayanan, pendidikan, misi, doa, dan bantuan.

Hubungan tersebut dapat membentuk sebuah jaringan persaudaraan tanpa harus berubah menjadi sebuah denominasi dengan struktur kekuasaan yang besar.

Model seperti ini membuat kita kembali kepada gambaran gereja dalam Perjanjian Baru:

Kristus adalah kepala gereja.

Gereja adalah komunitas orang percaya.

Gereja lokal menjalankan kehidupan gerejawi secara nyata.

Gereja-gereja dapat saling berhubungan dan bekerja sama.

Namun otoritas tertinggi bukan berada pada negara atau organisasi denominasi, melainkan pada Kristus dan Firman-Nya.

Penutup: Membaca The Trail of Blood dengan Kritis


The Trail of Blood adalah buku kecil yang kontroversial tetapi penting untuk dikenal, khususnya bagi siapa saja yang ingin memahami sejarah pemikiran Baptist mengenai gereja.

Buku ini pertama kali muncul pada 1931 dan kemudian dicetak ulang berkali-kali. Edisi-edisi modern masih mempertahankan atau mengadaptasi chart sejarah yang menjadi ciri khasnya.

Kita tidak perlu menerima setiap klaim sejarah Carroll untuk mendapatkan manfaat dari pertanyaan yang diajukannya.

Bahkan mungkin justru lebih baik membaca buku ini dengan dua sikap sekaligus:

kritis terhadap sejarahnya, tetapi serius terhadap pertanyaan teologisnya.

Sebab di balik lembaran panjang yang menggambarkan perjalanan gereja selama berabad-abad, terdapat sebuah pertanyaan yang tetap relevan sampai sekarang:

«Jika Yesus berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku,” seperti apakah jemaat yang sebenarnya ingin Ia dirikan?»

Posting Komentar untuk "The Trail of Blood: Jejak Sejarah Gereja dan Gagasan tentang Gereja Lokal"