Buku 101 Bukti Yesus Bukan Tuhan: Refleksi Psikologis tentang Keyakinan, Makna, dan Kebahagiaan Spiritual

Iman dan Pengalaman Batin Manusia

Buku 101 BUKTI YESUS BUKAN TUHAN karya H. INSAN L.S. MOKOGINTA, MANTAN KATHOLIK, begitu yang saya dapatkan menarik perhatian. Di dalamnya dibahas berbagai argumen yang diambil dari Injil dan semua tulisan dibawa oleh penulis kepada sebuah kesimpulan bahwa Yesus bukan Tuhan. Bukan bermaksud menjawab apalagi ingin berdebat dengan siapapun, tapi buku ini mendapatkan antusias banyak orang. Namun, pertanyaannya, seberapa banyak pengaruhnya bagi orang Kristen sendiri yang punya Injil? 

Sebenarnya, dalam banyak diskusi keagamaan, iman sering diperlakukan seolah-olah ia hanyalah hasil dari kesimpulan logis, yaitu siapa argumennya lebih kuat, maka dialah yang benar. Namun dalam pengalaman nyata manusia, iman jarang lahir dari debat dan hampir tidak pernah tumbang karena satu buku atau satu argumen.

Iman hidup di wilayah yang lebih dalam ingatan, emosi, pengalaman, dan rasa aman batin. Karena itu, seseorang bisa saja tidak mampu menjelaskan secara sistematis apa yang ia yakini, tetapi tetap teguh menjalaninya sepanjang hidup. Banyak faktor, jika orang awampun sulit mendapatkan pengaruh dari bahasan-bahasan seperti di buku tersebut.

Menghormati Keyakinan Orang Lain: Belajar dari Pengalaman Spiritual

Ketika seseorang bertanya, “Untuk apa pergi ke Ka’bah di Mekkah yang jauh di sana?” pertanyaan itu sering lahir dari sudut pandang luar. Namun bagi mereka yang datang dan menyentuh Ka’bah, pengalaman itu bukan soal batu atau bangunan semata.

Di sana ada:
    •    rasa pulang,
    •    kenikmatan batin,
    •    keterhubungan dengan Yang Ilahi,
    •    dan kebahagiaan yang tidak tergantikan.

Dari sudut pandang psikologis, pengalaman spiritual semacam ini memperkuat iman jauh lebih kokoh daripada seribu argumen rasional. Maka menghormati keyakinan orang lain bukan berarti menyetujui isi imannya, tetapi mengakui kedalaman makna yang mereka alami.

Psikologi Iman: Keyakinan sebagai Identitas

Psikologi modern melihat iman bukan hanya sebagai apa yang dipercayai, tetapi sebagai bagian dari siapa diri seseorang.

Sejak kecil hingga dewasa, iman terjalin dengan:
    •    cerita keluarga,
    •    doa dan ritual,
    •    penderitaan dan pengharapan,
    •    rasa disertai dalam hidup.

Karena itu, ketika iman dipertanyakan, yang terasa terancam bukan sekadar pendapat, melainkan identitas diri. Inilah sebabnya mengapa:
    •    iman tidak mudah digeser,
    •    orang awam sekalipun bisa tetap teguh,
    •    dan perdebatan sering kali tidak menghasilkan perubahan keyakinan.

Kebahagiaan sebagai Penanda Kekuatan Iman

Salah satu ukuran psikologis terpenting dari iman adalah kebahagiaan batin yang lahir darinya.
Bukan kebahagiaan dangkal, tetapi:
    •    rasa tenteram,
    •    makna hidup,
    •    daya tahan menghadapi penderitaan.

Ketika seseorang, apa pun bentuk ibadahnya, mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa digantikan oleh hal lain, di situlah tampak kekuatan keyakinan itu sendiri. Dan di titik inilah, penghormatan lintas iman menjadi mungkin dan bahkan perlu.

Mengapa Argumen Jarang Menggoyahkan Iman?

Dari sudut pandang psikologi, alasannya sederhana:
    1.    Iman bukan produk instan
Ia dibentuk oleh proses panjang, bukan oleh satu bacaan.
    2.    Manusia membaca dengan kacamata keyakinannya
Argumen sering ditafsirkan untuk menguatkan, bukan mengganti iman.
    3.    Iman memberi makna, bukan sekadar jawaban
Manusia lebih takut kehilangan makna daripada kehilangan perdebatan.
    4.    Pengalaman batin lebih kuat dari logika murni
Apa yang dialami sering lebih menentukan daripada apa yang dibuktikan.

Iman Dewasa: Teguh Tanpa Marah

Salah satu tanda iman yang matang adalah ketenangan.
Ia tidak reaktif, tidak perlu menyerang, dan tidak panik ketika berhadapan dengan perbedaan.

Iman yang dewasa:
    •    mampu membaca pandangan lain tanpa rasa terancam,
    •    tetap menghormati kebahagiaan spiritual orang lain,
    •    dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan permusuhan.

Dalam sikap inilah, iman justru tampil paling kuat, karena ia tidak rapuh.

Penutup: Iman sebagai Rumah Batin

Pada akhirnya, iman adalah rumah batin. Ia tempat manusia kembali ketika dunia tidak ramah, ketika akal buntu, dan ketika hati lelah. Karena itu, iman tidak mudah goyah oleh argumen, sebab ia tidak berdiri di atas kata-kata semata, melainkan di atas pengalaman hidup, makna, dan kebahagiaan yang telah diuji oleh waktu.

Menghormati iman orang lain berarti menghormati perjalanan batin mereka, dan di sanalah kemanusiaan kita bertemu, meski keyakinan kita berbeda.

Posting Komentar untuk "Buku 101 Bukti Yesus Bukan Tuhan: Refleksi Psikologis tentang Keyakinan, Makna, dan Kebahagiaan Spiritual"