Sejarah Kepercayaan Diri adalah Kunci Memahami Psikologi Politik Iran.

Kabar terbaru Iran salah satu negara timur tengah ini menarik diikuti, gejolak negeri tersebut menyedot perhatian dunia, walaupun sejarah menunjukkan perjalanan negeri yang dikenal dengan para Mullah selalu berulang dan polanya berlanjut. Secara psikologis bangsa Iran bukanlah bangsa yang mudah untuk bertekuk lutut di depan pihak lain, sekaligus bagaimana bangsa tersebut selalu berhasil menyelesaikan persoalan yang menimpanya.

Bahwa protes rakyat Iran saat ini bukanlah hal baru, melainkan kelanjutan dari Revolusi Konstitusional 1906 (upaya pertama di Timur Tengah untuk membatasi kekuasaan absolut raja) saat itu. Terjadinya ketegangan Teokrasi, bagaimana para Mullah mencoba mempertahankan kontrol di tengah masyarakat yang secara historis sangat intelektual dan haus akan kemajuan.

Kita harus melihat bahwa gambaran besarnya negeri yang wilayah dan masyarakatnya pernah dicatat dalam Alkitab, dan bagaimana sejarah panjang dan tatanan mapan membentuk karakter "keras kepala" Iran terhadap dominasi asing.

Sebuah buku menarik yang ditulis oleh Michael Axworthy, berjudul Iran: What Everyone Needs to Know, yang dirancang dengan format tanya-jawab yang sangat sistematis. Dan untuk mendapatkan "peta besar" dari buku ini sebelum membaca detailnya, berikut adalah empat pilar utama yang menyusun narasi informasi tentang Iran ini.

Kedalaman Sejarah (Bukan Sekadar Negara Baru)

Axworthy menekankan bahwa untuk memahami Iran hari ini, kita tidak bisa hanya melihat sejak tahun 1979.

  • Identitas Ganda di mana Iran memiliki dua fondasi besar: warisan kekaisaran Persia kuno (intelektualitas, administrasi, seni) dan Islam Syiah.
  • Ketangguhan Budaya, dalam hal ini Iran berkali-kali ditaklukkan (oleh Yunani, Arab, Mongol), namun secara unik mereka selalu berhasil "meng-Irankan" para penakluknya melalui keunggulan budaya.

Paradoks Modernisasi (Era Dinasti Pahlavi)

Buku ini membedah mengapa kepemimpinan para Syah (Reza Shah dan Mohammad Reza Pahlavi) yang membawa kemajuan ekonomi justru berakhir dengan kehancuran.

  • Modernisasi dari Atas: Upaya modernisasi yang dipaksakan dan terlalu berkiblat ke Barat dianggap mengasingkan nilai-nilai tradisional dan religius masyarakat bawah.
  • Otoritarianisme: Meskipun ekonomi tumbuh, ruang politik ditutup rapat, yang akhirnya menyatukan berbagai kelompok (intelektual, kaum kiri, dan ulama) dalam satu musuh bersama: Sang Syah.

Anatomi Revolusi 1979 dan Negara Teokrasi

Axworthy menjelaskan bagaimana Ayatollah Khomeini berhasil mengubah revolusi rakyat menjadi revolusi Islam.

  • Velayat-e Faqih: Konsep kunci dalam buku ini adalah "Mandat Ahli Hukum," di mana ulama memiliki otoritas tertinggi atas pemerintahan—sebuah konsep yang sebenarnya baru dalam tradisi Syiah itu sendiri. 
  • Struktur Kekuasaan Ganda: Iran memiliki sistem unik yang sering membingungkan orang luar: ada elemen demokrasi (Presiden dan Parlemen) tetapi semuanya berada di bawah kendali elemen teokrasi (Pemimpin Agung dan Dewan Garda).

Hubungan dengan Dunia Luar (Kenapa Selalu Tegang?)

Axworthy memberikan konteks mengapa Iran merasa sangat curiga terhadap Barat.

  • Trauma Intervensi: Buku ini membahas peristiwa tahun 1953 (kudeta yang didalangi CIA/MI6 terhadap PM Mossadegh) sebagai titik balik rasa benci Iran terhadap campur tangan asing. 
  • Isolasi vs. Ambisi: Bagaimana Iran menavigasi sanksi ekonomi, program nuklir, dan ambisinya untuk menjadi kekuatan dominan di Timur Tengah (sering disebut sebagai "Bulan Sabit Syiah").

Karena buku iniformatnya bersifat  tanya-jawab, kita tidak perlu membacanya dari halaman pertama ke terakhir secara berurutan. Jika kita saat ini tertarik pada isu "Gejolak Mullah," kita bisa langsung menuju bab tentang "The Islamic Republic" dan "Contemporary Iran."

Buku ini akan membantu Anda melihat bahwa apa yang terjadi di Iran hari ini bukan sekadar masalah agama vs. sekuler, melainkan perjuangan sebuah bangsa kuno yang sedang mencari keseimbangan antara tradisi, kedaulatan, dan modernitas di dunia modern.

Bangsa Iran Bangsa yang Memiiliki Sejarah Panjang

Kalau membuka Alkitab khususnya perjanjian Lama makadi sana banyak catatan mengenai Iran kuno. Sosok seperti Koresh yang Agung (Cyrus the Great) dari Kekaisaran Akhemeniyah dicatat sebagai pembebas bangsa Yahudi dari Babel. Bagi orang Iran, ini adalah bukti bahwa mereka adalah "pemberi hukum" dan "pengatur tatanan" dunia, bukan pengikut. 

Bangsa Iran adalah bangsa yang memiliki mentalitas adidaya. Selama ribuan tahun, Iran (Persia) adalah pusat gravitasi dunia di antara Roma/Bizantium di Barat dan India/Tiongkok di Timur. Hal ini menanamkan kesadaran kolektif bahwa mereka adalah sebuah peradaban (civilization-state), bukan sekadar sebuah negara (nation-state).

"Ghoroor" (Kebanggaan Nasional) dan Kemandirian

Axworthy sering menyinggung konsep kebanggaan nasional Iran yang sangat tinggi. Hal ini membuat mereka sangat sensitif terhadap penghinaan atau upaya "disetir" oleh pihak luar.

Kasus 1953 (Kudeta Mossadegh)

Ketika Inggris dan AS menggulingkan Perdana Menteri Mohammad Mossadegh hanya karena ia menasionalisasi minyak, hal itu menjadi luka nasional yang dalam. Bagi rakyat Iran, itu adalah bukti bahwa Barat tidak menghormati kedaulatan mereka.

Kemandirian di Bawah Sanksi

Sikap tidak mau tunduk ini jugalah yang membuat Iran mampu bertahan di bawah sanksi ekonomi selama puluhan tahun. Ada semacam rasa bangga bahwa "Kami bisa berdiri di kaki sendiri karena kami adalah bangsa besar."

Ketahanan Budaya (The Iranian Identity)

Satu hal menarik yang ditekankan Axworthy adalah bagaimana Iran "menaklukkan penakluknya."

  • Ketika bangsa Arab membawa Islam ke Persia, orang Iran tidak menjadi "Arab". Mereka justru memengaruhi kebudayaan Islam dengan administrasi, filsafat, dan sastra Persia. 
  • Hal yang sama terjadi saat Mongol menyerang. Ini menciptakan keyakinan bahwa budaya mereka lebih kuat daripada kekuatan militer manapun.

Islam Syiah sebagai Benteng Perlawanan

Axworthy menjelaskan bahwa pilihan Iran terhadap Syiah (terutama sejak Dinasti Safawi) adalah cara untuk membedakan diri dari Kekaisaran Ottoman yang Sunni dan dunia Arab. Ini menjadi identitas yang membuat mereka tetap unik dan tidak bisa disetir oleh kekuatan regional lainnya.

Kesimpulan

Dalam buku tersebut, Anda akan menemukan bahwa gejolak "para Mullah" hari ini sebenarnya menggunakan narasi sejarah ini. Mereka membingkai perlawanan terhadap Amerika Serikat atau Barat bukan hanya sebagai masalah agama, tetapi sebagai lanjutan dari perjuangan ribuan tahun bangsa Iran untuk menjaga kedaulatan mereka.

Pengalaman mereka menjadikan mereka sangat percaya diri. Mereka merasa tidak perlu diajari tentang peradaban oleh bangsa-bangsa Barat yang, dalam perspektif sejarah mereka, "masih sangat muda."

Posting Komentar untuk "Sejarah Kepercayaan Diri adalah Kunci Memahami Psikologi Politik Iran."