Mengapa Kekerasan Berbasis Gender Terus Terjadi?
Memahami Akar Masalah dari Pola Sosial dan Budaya
Kalau membaca berita-berita di berbagai media, kita sering menemukan kasus-kasus kekerasan berbasis gender dan tentu hal ini masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Setiap tahun, berbagai laporan menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan kelompok rentan terus berulang. Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa banyak kasus terjadi, melainkan, mengapa kekerasan berbasis gender terus muncul dan dianggap seolah wajar?
Salah satu rujukan penting untuk memahami persoalan ini adalah buku Kekerasan Berbasis Gender karya Ani Purwanti. Buku ini memberikan kerangka berpikir yang membantu kita melihat kekerasan bukan sebagai peristiwa tunggal, tetapi sebagai hasil dari pola sosial yang terbentuk lama.
Memahami Istilah Dasar: Gender Bukan Sekadar Jenis Kelamin
Kesalahan paling mendasar dalam memahami kekerasan berbasis gender adalah menyamakan gender dengan jenis kelamin.
• Jenis kelamin (s3x) adalah perbedaan biologis yang bersifat kodrati.
• Gender adalah peran, sifat, dan tanggung jawab yang dibentuk oleh masyarakat dan budaya.
• Seksualitas berkaitan dengan identitas, orientasi, dan relasi manusia.
Dalam banyak masyarakat, peran gender ditanamkan sejak kecil—apa yang pantas untuk laki-laki, apa yang boleh dan tidak boleh bagi perempuan. Ketika pembagian peran ini bersifat kaku dan hierarkis, ketidakadilan mudah tumbuh.
Kekerasan Berbasis Gender: Lebih Luas dari Kekerasan Fisik
Buku ini menegaskan bahwa kekerasan berbasis gender tidak hanya soal pemukulan atau kekerasan seksual. Bentuknya bisa berupa:
• Kekerasan psikologis (ancaman, kontrol, intimidasi)
• Kekerasan verbal (pelecehan, penghinaan)
• Kekerasan ekonomi (pembatasan akses finansial)
• Kekerasan simbolik (normalisasi dominasi melalui bahasa dan tradisi)
Banyak dari bentuk ini tidak dikenali sebagai kekerasan, karena sudah menyatu dengan kebiasaan sehari-hari.
Akar Masalah: Relasi Kuasa yang Tidak Setara
Menurut kerangka berpikir dalam buku ini, kekerasan berbasis gender lahir dari relasi kuasa yang timpang. Ketika satu gender diposisikan sebagai pihak yang “lebih berhak mengatur”, sementara yang lain dituntut untuk patuh, kekerasan menjadi alat kontrol.
Relasi seperti ini bisa ditemukan di:
• Keluarga
• Lingkungan pendidikan
• Dunia kerja
• Ruang publik dan digital
Kekerasan bukan selalu ledakan emosi, tetapi sering merupakan mekanisme untuk mempertahankan dominasi.
Mengapa Kekerasan Sering Dianggap Wajar?
Salah satu temuan penting dalam buku ini adalah bagaimana kekerasan kerap dilegitimasi oleh budaya. Kekerasan dianggap wajar ketika:
• Disebut sebagai urusan rumah tangga
• Dibalut dengan alasan mendidik atau mendisiplinkan
• Dibenarkan atas nama norma, adat, atau moral
• Korban justru disalahkan atas apa yang dialaminya
Normalisasi inilah yang membuat korban sering diam, dan pelaku merasa tindakannya tidak bermasalah.
Faktor Sosial dan Budaya yang Memperkuat Kekerasan
Buku Kekerasan Berbasis Gender menunjukkan bahwa kekerasan tidak berdiri sendiri. Ia diperkuat oleh:
• Budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa
• Tafsir sosial dan keagamaan yang bias gender
• Kurangnya pendidikan kritis tentang relasi setara
• Media dan bahasa yang meremehkan pengalaman korban
Tanpa disadari, masyarakat sering ikut mereproduksi kekerasan melalui cara berpikir dan bertutur.
Pencegahan: Mengubah Cara Pandang, Bukan Hanya Menghukum
Pendekatan hukum penting, tetapi buku ini menekankan bahwa pencegahan sejati harus menyentuh akar kultural dan struktural. Pencegahan berarti:
• Membangun kesadaran tentang kesetaraan gender
• Mengkritisi norma yang timpang
• Mendorong relasi berbasis dialog dan saling menghormati
• Menghentikan pembenaran kekerasan dalam bentuk apa pun
Dengan kata lain, kekerasan berbasis gender tidak akan berakhir tanpa perubahan cara berpikir kolektif.
Penutup: Membaca Kekerasan sebagai Gejala Sosial
Buku Kekerasan Berbasis Gender mengajak pembaca untuk melihat kekerasan bukan semata kesalahan individu, tetapi sebagai gejala dari sistem sosial yang tidak adil. Dengan memahami pola dan pemicunya, masyarakat dapat bergerak dari sekadar bereaksi terhadap kasus menuju upaya pencegahan yang lebih mendasar.
Memahami mengapa kekerasan terjadi adalah langkah awal untuk menghentikannya.

Posting Komentar untuk "Mengapa Kekerasan Berbasis Gender Terus Terjadi?"
Posting Komentar