Sejarah Filsafat Barat Bertrand Russell: Buku Tebal yang Mengajak Kita Memahami Filsafat dan Zamannya
Ada buku yang selesai dibaca dalam beberapa hari. Ada pula buku yang mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan. Tetapi ada jenis buku lain yang rasanya tidak perlu diperlakukan sebagai buku yang harus segera ditamatkan. Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang karya Bertrand Russell adalah salah satunya.
Buku yang dalam edisi Indonesia diterbitkan oleh Pustaka Pelajar, Yogyakarta, ini bukan buku tipis untuk dibaca sambil lalu. Edisi ketiga tahun 2007 yang saya miliki terdiri dari 1.110 halaman. Katalog perpustakaan juga mencatat edisi ketiga tersebut sebagai terbitan Pustaka Pelajar tahun 2007 dengan deskripsi fisik xxvi + 1.110 halaman.
Bagi orang yang tertarik pada filsafat, jumlah halaman tersebut mungkin sekaligus menggoda dan menakutkan.
Menggoda karena di dalamnya terdapat perjalanan panjang sejarah pemikiran Barat.
Menakutkan karena untuk membacanya sampai selesai dibutuhkan kesabaran yang tidak sedikit.
Namun, justru di situlah menariknya buku Bertrand Russell ini.
Bertrand Russell dan Sejarah Filsafat Barat
Buku ini merupakan terjemahan dari History of Western Philosophy and Its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day. Russell tidak hanya ingin menceritakan siapa saja filsuf yang pernah muncul dalam sejarah Barat.
Ia ingin memperlihatkan hubungan antara pemikiran filsafat dengan keadaan sosial dan politik pada zamannya.
Inilah yang membuat buku Sejarah Filsafat Barat Bertrand Russell berbeda dari sekadar daftar nama filsuf dan rangkuman pemikiran mereka.
Filsuf tidak muncul di ruang kosong.
Mereka hidup dalam masyarakat tertentu, berada dalam situasi politik tertentu, berhadapan dengan agama, perang, perubahan ekonomi, perkembangan ilmu pengetahuan, kekuasaan, dan berbagai persoalan sosial.
Karena itu, gagasan seorang filsuf tidak selalu dapat dipahami secara utuh jika kita hanya membaca gagasannya tanpa mengetahui dunia tempat gagasan tersebut dilahirkan.
Katalog Perpustakaan DKI bahkan menggambarkan buku ini sebagai karya yang berusaha menghubungkan dunia pemikiran dengan dunia kenyataan: sejarah filsafat dikaitkan dengan sejarah sosial, politik, dan kemasyarakatan.
Mengapa Sejarah Filsafat Barat Russell Begitu Tebal?
Jawabannya sebenarnya sederhana: Russell tidak sedang membuat kamus filsafat.
Ia sedang membangun sebuah panorama besar pemikiran Barat.
Perjalanan tersebut dimulai dari filsafat kuno, kemudian bergerak menuju pemikiran abad pertengahan dan akhirnya memasuki filsafat modern.
Dalam pembahasannya terdapat tokoh-tokoh besar yang membentuk sejarah pemikiran Barat, mulai dari para filsuf Yunani hingga pemikir-pemikir modern.
Karena itulah membaca buku ini bukan hanya seperti membaca sejarah filsafat.
Lebih tepat jika kita membayangkannya seperti sedang melihat sebuah peta besar.
Kita melihat bagaimana satu pemikiran muncul, bagaimana ia memengaruhi pemikir berikutnya, bagaimana keadaan sosial-politik ikut memengaruhinya, dan bagaimana gagasan tersebut kemudian berkembang atau mendapatkan perlawanan.
Filsafat Tidak Berdiri Sendiri
Menurut saya, salah satu kekuatan utama Sejarah Filsafat Barat adalah cara Russell memperlakukan filsafat sebagai bagian dari kehidupan manusia.
Sering kali kita mempelajari filsafat dengan cara yang sangat abstrak.
Misalnya, kita membaca tentang Plato, Aristoteles, Augustine, Thomas Aquinas, Hobbes, Locke, Rousseau, Kant, Hegel, Marx atau Nietzsche sebagai nama-nama besar dalam sejarah pemikiran.
Tetapi Russell mengingatkan kita bahwa mereka adalah manusia yang hidup dalam sejarah.
Ada masyarakat di sekitar mereka.
Ada agama.
Ada negara.
Ada kekuasaan.
Ada konflik.
Ada perubahan ilmu pengetahuan.
Ada kelas sosial.
Ada peperangan.
Ada perubahan kebudayaan.
Semua itu ikut menjadi lingkungan tempat sebuah gagasan berkembang.
Dengan demikian, sejarah filsafat menjadi jauh lebih hidup.
Kita tidak hanya bertanya:
"Apa yang dipikirkan seorang filsuf?"
Tetapi juga:
"Mengapa gagasan itu muncul pada zaman tersebut?"
Dan pertanyaan kedua sering kali membuat kita memahami pertanyaan pertama dengan lebih baik.
Membaca Russell Tidak Selalu Mudah
Namun, di sinilah kita perlu jujur kepada calon pembaca.
Buku ini bukan buku filsafat yang selalu mudah.
Bertrand Russell memang terkenal sebagai penulis yang mampu menjelaskan gagasan dengan bahasa yang relatif jelas. Tetapi kejernihan bahasa tidak selalu berarti kesederhanaan gagasan.
Ada bagian-bagian yang membutuhkan pengetahuan awal.
Jika pembaca belum mengetahui sedikit tentang filsafat Yunani, misalnya, pembahasan mengenai Plato dan Aristoteles mungkin terasa lebih berat.
Demikian pula ketika masuk ke filsafat modern. Nama-nama filsuf, istilah, perdebatan dan hubungan antargagasan mulai semakin kompleks.
Akibatnya, membaca buku ini dari awal sampai akhir secara cepat bukan selalu strategi terbaik.
Kita bisa saja membaca ratusan halaman tetapi kehilangan arah.
Seperti berjalan di jalan panjang tanpa peta, kita akhirnya sampai di suatu tempat tanpa benar-benar memahami bagaimana kita sampai ke sana.
Buku yang Tidak Harus Ditamatkan Sekaligus
Saya sendiri melihat buku Sejarah Filsafat Barat sebagai buku yang bisa dibaca secara bertahap.
Tidak perlu merasa bersalah jika setelah sekian lama buku ini belum juga selesai.
Buku seperti ini memiliki fungsi yang berbeda dari novel.
Novel biasanya memiliki alur yang menuntut kita bergerak dari awal menuju akhir.
Sementara buku sejarah filsafat dapat menjadi buku rujukan.
Ketika sedang membaca Plato, kita bisa kembali kepada bagian Russell tentang Plato.
Ketika tertarik kepada Aristoteles, kita membuka pembahasannya tentang Aristoteles.
Ketika sedang membaca Nietzsche, kita dapat melihat bagaimana Russell membicarakan Nietzsche dalam konteks sejarah filsafat yang lebih luas.
Dengan demikian, membaca Russell dapat menjadi kegiatan yang berlangsung bertahun-tahun.
Dan mungkin justru itulah cara yang lebih baik.
Dari Russell Kembali kepada Para Filsuf
Ada keuntungan lain dari membaca Sejarah Filsafat Barat secara perlahan.
Russell dapat menjadi pintu masuk kepada buku-buku filsafat lainnya.
Setelah membaca pembahasan tentang Plato, misalnya, kita mungkin merasa penasaran untuk membaca Plato secara langsung.
Setelah membaca bagian tentang Marx, kita mungkin ingin membaca Marx.
Setelah mengenal Nietzsche melalui Russell, kita mungkin ingin mencoba membaca Thus Spoke Zarathustra atau karya-karya Nietzsche lainnya.
Dengan demikian, buku Russell tidak harus menjadi tujuan akhir.
Ia dapat menjadi peta perjalanan.
Kita membaca Russell untuk mengetahui medan, kemudian berjalan sendiri menemui para filsuf yang ada di dalam peta tersebut.
Kelebihan Buku Sejarah Filsafat Barat Bertrand Russell
Ada beberapa alasan mengapa buku ini tetap menarik bagi pembaca yang ingin memahami sejarah filsafat.
1. Cakupannya sangat luas
Buku ini membawa pembaca melewati rentang sejarah pemikiran Barat yang panjang.
Keluasan seperti ini membuat pembaca mendapatkan gambaran umum yang sulit diperoleh jika hanya membaca buku tentang satu filsuf.
2. Filsafat dikaitkan dengan sejarah
Russell tidak memisahkan filsafat dari masyarakat.
Pemikiran filsuf ditempatkan dalam konteks sosial dan politik yang melingkupinya.
3. Membantu melihat hubungan antarpemikir
Filsafat tidak berkembang seperti pulau-pulau yang berdiri sendiri.
Ada pengaruh, kritik, penerimaan, penolakan, dan perkembangan gagasan.
Buku Russell membantu pembaca melihat jaringan tersebut.
4. Bisa menjadi pintu masuk ke filsafat
Walaupun tebal dan pada bagian tertentu cukup berat, buku ini dapat menjadi panduan untuk mengetahui siapa yang perlu dibaca lebih lanjut.
5. Bisa dibaca berulang kali
Buku seperti ini tidak kehilangan manfaat hanya karena sudah pernah dibaca.
Justru semakin banyak wawasan yang kita miliki, semakin banyak pula bagian yang mungkin baru kita pahami ketika membacanya kembali.
Edisi Indonesia Pustaka Pelajar
Bagi pembaca Indonesia, keberadaan terjemahan Sejarah Filsafat Barat oleh Pustaka Pelajar tentu menjadi hal penting.
Data bibliografis menunjukkan buku ini diterbitkan di Yogyakarta oleh Pustaka Pelajar pada 2002, dengan edisi berikutnya tercatat pada 2004 dan edisi ketiga pada 2007. Katalog Perpustakaan DKI mencatat edisi ketiga tahun 2007 dengan ketebalan xxvi + 1.110 halaman dan ISBN 979-3237-34-1.
Menariknya, katalog perpustakaan juga mencatat bahwa buku tersebut termasuk karya Russell yang sangat sukses dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Bagi saya, fakta bahwa edisi Indonesia terus muncul pada awal 2000-an menunjukkan bahwa buku semacam ini memiliki tempat tersendiri di antara pembaca Indonesia yang tertarik pada filsafat.
Namun kita perlu berhati-hati dengan kesimpulan tentang angka penjualan. Adanya beberapa cetakan atau edisi menunjukkan adanya keberlanjutan penerbitan, tetapi tidak dengan sendirinya memberikan angka penjualan atau membuktikan besarnya oplah.
Mengapa Buku Setebal 1.110 Halaman Masih Layak Dibaca?
Pertanyaan ini mungkin lebih penting daripada pertanyaan apakah buku tersebut mudah dibaca.
Jawabannya adalah karena dunia pemikiran memang tidak sederhana.
Kalau kita ingin memahami mengapa manusia berpikir tentang Tuhan, negara, pengetahuan, moralitas, kebebasan, masyarakat, ilmu pengetahuan dan kehidupan yang baik, kita akan berhadapan dengan sejarah pemikiran yang panjang.
Satu gagasan melahirkan gagasan lain.
Satu filsuf mengkritik filsuf sebelumnya.
Sebuah perubahan politik mengubah cara manusia melihat masyarakat.
Perkembangan ilmu pengetahuan mengguncang pandangan lama.
Perubahan sosial melahirkan pertanyaan baru.
Dan semuanya saling berkaitan.
Karena itu, ketebalan buku Russell bukan semata-mata kelemahan.
Ketebalan itu adalah konsekuensi dari ambisinya untuk memberikan gambaran yang luas.
Russell sebagai Penulis yang Mengajak Kita Berpikir
Ada sesuatu yang menarik jika kita membandingkan Sejarah Filsafat Barat dengan karya Russell yang lebih populer seperti The Conquest of Happiness.
Dalam The Conquest of Happiness, Russell berbicara mengenai kehidupan manusia dengan cara yang lebih langsung. Pembaca dapat masuk ke dalam persoalan kebahagiaan tanpa harus mempunyai pengetahuan mendalam mengenai sejarah filsafat.
Tetapi dalam Sejarah Filsafat Barat, pembaca diajak memasuki dunia gagasan yang jauh lebih luas.
Kita harus bersedia berhenti.
Membaca ulang.
Mencari konteks.
Membuka buku lain.
Kemudian kembali lagi kepada Russell.
Di situlah pengalaman membaca Russell menjadi menarik.
Ia bukan sekadar memberikan jawaban.
Ia sering kali membuat kita menyadari bahwa sebuah pertanyaan ternyata mempunyai sejarah yang panjang.
Tidak Khatam Bukan Berarti Gagal
Bagi pembaca yang memiliki buku ini tetapi belum menyelesaikannya, saya kira tidak perlu merasa gagal.
Bahkan bisa jadi kita memperlakukan buku ini dengan cara yang keliru jika menjadikannya semacam perlombaan membaca.
Buku 1.110 halaman bukan lawan yang harus dikalahkan.
Ia lebih mirip perpustakaan kecil yang kita bawa dalam satu jilid.
Kita dapat datang kepadanya ketika membutuhkan sesuatu.
Kita bisa membacanya beberapa halaman hari ini, berhenti selama beberapa minggu, lalu kembali lagi ketika menemukan topik yang menarik.
Dan suatu hari, tanpa kita sadari, kita mungkin sudah membaca sebagian besar isinya.
Bahkan jika tidak pernah benar-benar khatam, kita tetap memperoleh manfaatnya.
Sejarah Filsafat Barat sebagai Peta Besar Pemikiran
Pada akhirnya, kekuatan terbesar buku Bertrand Russell ini bukan semata-mata karena jumlah halamannya.
Yang lebih penting adalah cara Russell mengajak kita melihat filsafat sebagai bagian dari perjalanan peradaban manusia.
Pemikiran tidak lahir dalam ruang kosong.
Di belakang pemikiran ada manusia.
Di belakang manusia ada masyarakat.
Di belakang masyarakat ada sejarah.
Dan di belakang sejarah ada berbagai persoalan politik, agama, ilmu pengetahuan, ekonomi, kekuasaan, konflik dan perubahan kebudayaan.
Itulah sebabnya Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang tetap menarik untuk dimiliki dan dibaca.
Tidak harus cepat.
Tidak harus selesai dalam sekali duduk.
Bahkan tidak harus selalu dimulai dari halaman pertama.
Bacalah sebagai peta. Datangilah bagian yang sedang Anda butuhkan. Kemudian, ketika wawasan Anda bertambah, kembalilah lagi kepada Russell.
Sebab mungkin pada pembacaan kedua atau ketiga, kita baru menyadari bahwa bagian yang dahulu terasa rumit ternyata sedang menjelaskan sesuatu yang sekarang mulai kita pahami.
Dan mungkin di situlah keistimewaan buku besar seperti karya Bertrand Russell: ia tidak selesai ketika kita menutup halaman terakhir. Ia terus bekerja di dalam cara kita memahami buku-buku, gagasan, masyarakat, dan manusia yang kita jumpai setelahnya.
Data Buku
Judul : Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman Kuno Hingga Sekarang
Judul asli : History of Western Philosophy and Its Connection with Political and Social Circumstances from the Earliest Times to the Present Day
Penulis : Bertrand Russell
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Edisi yang dibahas: Cetakan III, 2007
Tebal : xxvi + 1.110 halaman
ISBN : 979-3237-34-1

Posting Komentar untuk "Sejarah Filsafat Barat Bertrand Russell: Buku Tebal yang Mengajak Kita Memahami Filsafat dan Zamannya"
Posting Komentar