Senin, 21 September 2020

Pindah Agama Antara Hak Azasi dan Hukum Sosial

Pindah Agama Antara Hak Azasi dan Hukum Sosial

Dua buku akan saya sajikan ini merupakan buku-buku terbitan lama (semacam terbitan rutin bernama GEMA NEHEMIA kala itu tahun 80an) yang saya peroleh dari seorang teman 10 tahun lalu di mana isinya berupa testimoni seorang Muslim berpindah agama menjadi Kristen. Media atau blog ini sebenarnya sudah beberapa kali menurunkan tulisan berdasarkan buku di mana buku-buku tersebut berbicara mengenai terjadinya konversi agama seseorang dari agama A ke B dan seterusnya. Dari Kristen menjadi Muallaf, dari Islam menjadi murtad dan seterusnya. Tujuannya adalah supaya masyarakat Indonesia menjadi terbiasa mendengar orang pindah agama dan hal tersebut bukan dianggap menjadi masalah besar. Nah, buku ini merupakan ulasan bagaimana seorang Hamran Ambrie yang banyak menulis di GEMA NEHEMIA itu menjelaskan jawaban-jawaban dan testimoni bagaimana ia mempertahankan iman barunya yaitu menjadi Kristen. Dan satu lagi buku kecil mengenai testimoni dari Hamran Ambrie sendiri dalam bahasa Inggris berjudul God Has Chosen For Me Everlasting Life diterbitkan oleh The Good Way - Rikon - Switzerland

Nah, buku GEMA NEHEMIA yang saya pegang ini merupakan edisi khusus berjudul, Sebuah Memori yang Tidak Terlupakan. Buku edisi khusus ini sebenarnya berisi kronologi pelarangan buku-buku karya Hamran Ambrie kala itu oleh Jaksa Agung RI dengan Surat Keputusan NOMOR KEP-039/J.A/5/1982 atas desakan beberapa kelompok dan perorangan atas buku-buku yang diterbitkan oleh BPK SINAR KASIH. Namun pelarangan tersebut mendapat jawaban dari pihak Hamram Ambrie yang disampaikan kepada pihak Jaksa Agung RI di mana apa yang ditulisnya itu sebagai reaksi atas serangan-serangan terhadap Alkitab dan Iman Kristiani. Dan buku-buku tersebut merupakan jawaban Hamran Ambrie untuk menjawab serangan-serangan ide tersebut.

Memang perpindahan agama merupakan sebuah peristiwa yang sensitif bagi semua orang. Sensitif karena bisa memiliki pengaruh terhadap emosi sebuah kelompok atau apapun namanya, dan terkadang bisa berujung kepada kekerasan. Makanya di negara-negara tertentu terkadang negara turun tangan dengan mengeluarkan regulasi supaya tidak terjadi adanya perpindahan agama. Beruntung di negeri kita ini masalah perpindahan agama dianggap sebagai hak seseorang yang siapapun tidak bisa mengintervensi keputusan seseorang dalam berpindah agama tadi. Hanya saja dalam hukum sosial, apalagi menyangkut orang-orang terkenal, cibiran dan pujian serta netralitas akan dijumpai.


Bagi penyuka lagu-lagu dari mas Didi Kempot yang interes dengan berita serta kehidupannya, tentu akan terus mengikuti berita-berita yang walaupun beliau sudah almarhum namun penggemarnya akan membaca setiap ada berita yang berhubungan dengan pemilik lagu Solo Balapan tersebut. Nah, baru-baru ini diberitakan mengenai pemukul gendangnya Didi Kempot yaitu Dori Harsa yang berpindah ke Kristen setelah menikah dengan Nella Kharisma. Bagaimana tanggapan di dunia maya? Setidaknya ada 3 kelompok yaitu:

1. Banyak yang menyayangkan dan bahkan merasa gerah dengan tindakan Dori yang lebih mengikuti keyakinan Nella Kharisma. Kelompok ini menjadi kelompok mayoritas.

2. Kelompok kedua adalah membelanya dengan berargumen bahwa tindakan Dori tidak ada yang perlu dipermasalahkan

3. Kelompok ketiga, kelompok yang netral. Keputusan Dori adalah keputusan pribadi yang tentu menjadi haknya mau tetap menjadi Islam atau berpindah menjadi Kristen.

Kalau memperhatikan kelompok-kelompok ini terkadang sumpah serapah muncul untuk mengutarakan kekesalannya. Umpatan dan bahkan hinaan serta berbagai kata-kata yang tidak elok juga bisa kita jumpai. Bahkan lebih dari itu, terkadang kelompok-kelompok ini melakukan 'perang' emosi dengan bertengkar berkelompok sendiri. Sebagai sebuah kekecewaan dan kebahagiaan sebagai bagian dari sebuah emosi, sebenarnya biasa kita jumpai 'konflik' kelompok maya ini. Mungkin inilah jalan supaya kita pada akhirnya terbiasa mendengar orang berpindah agama dan hal tersebut tidak dijadikan persoalan. Bukankah setiap jaman perpindahan agama menghiasi sejarah bangsa kita. Jadi, kalau kita sudah berkomitmen untuk membangun demokrasi yang baik, maka siap menerima hak-hak orang lain sejauh tidak membelenggu hak-hak kita.

Kamis, 10 September 2020

Imbas G30S PKI Bagi Seorang Waloejo di Negeri Kim Jong Un

Imbas G30S PKI Bagi Seorang Waloejo di Negeri Kim Jong Un


Buku yang menjadi perhatian saya untuk ditampilkan ini merupakan bacaan yang sangat menarik untuk dibaca dan juga perlu oleh generasi saat ini. Karena buku ini kalau boleh dibilang memiliki gambaran seperti pepatah, "tidak makan nangkanya, tapi dapat getahnya". Ya, buku ini bercerita mengenai bagaimana perjalanan seseorang yang sedang berada di tempat yang tidak tepat di waktu yang tidak pas juga. Ia tokoh ini berada di negeri yang sekarang dipimpin Jim Jong Un itu.

Kisah perjalanan hidup anak manusia bernama Waloejo Sedjati yang sedang menerima beasiswa dengan menempuh pendidikan di negeri komunis yaitu Korea Utara, tapi akhirnya tidak bisa pulang kembali ke Tanah Air yang ia rindukan karena terhalang oleh situasi dari akibat Peristiwa Gerakan 30 September 1965. Buku ini berjudul: Bumi Tuhan: Orang Buangan di Pyongyang, Moskwa, dan Paris. Buku terbitan Kompas ini diterbitkan tahun 2013 silam. 

Buku ini menjadi sangat penting bagi kita supaya belajar dari pengalaman orang lain bagaimana kita tidak semena-mena memberikan label kepada siapapun dengan tuduhan yang membawa kesengsaraan bagi orang yang dituduh. Termasuk menuduh secara serampangan orang yang tidak kita sukai dengan label politik yang dianggap menakutkan bernama komunis.

Mengapa? Waloejo Sedjati telah merasakan bagaimana dampak dari 'dianggap' bagian dari komunis itu sendiri menjadikan dirinya seperti menjadi manusia terlempar dari komunitas besarnya yaitu Indonesia. Dia sendiri sebenarnya ingin pulang, ingin bertemu sanak saudaranya, ingin berjumpa dengan orang-orang yang dikasihinya, dan bisa bersua dengan kampung halaman yang telah membesarkannya setidak-tidaknya sampai masuk ke usia kuliiah. Tapi semua itu menjadi hilang karena dia sendiri tidak bisa pulang, karena pemerintah Orde Baru mencabut paspornya dan tidak memiliki harapan bisa kembali ke Tanah Air yang dicintainya itu.

Padahal Waloejo Sedjati sendiri tidak tahu menahu peristiwa yang menggegerkan Tanah Air saat itu. Karena dia sendiri sedang melakukan studi di Korea Utara untuk belajar kedokteran di Pyongyang. Dalam tulisan-tulisan yang ditulisnya itu Waloejo memaparkan pengalaman yang sebenarnya tidak mengenakkan dengan aturan super ketat ketika studi di Korea Utara tersebut. Semuanya diatur dari tidur, berbelanja, melakukan kegiatan apapun dari setiap individu semuanya dalam pengawasan pemerintah. 

Negeri asing yang memang menuntut adaptasi tinggi dari setiap orang yang ingin belajar di dalamnya, bukan saja harus beradaptasi dengan berbagai kebiasaan sehari-hari yang lazim, tapi juga lebih dari itu Waloejo harus beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan super ketat di mana apa yang boleh dan mana yang tidak boleh. Mata-mata selalu siap mengawasi setiap gerekan hidupnya, setiap hari. 

Saking ketatnya sejarawan Asvi Warman Adam yang memberikan Kata Pengantar dalam buku ini menyebutnya kehidupan mahasiswa asing di Pyongyang itu seperti berada dalam tahanan, seperti pesakitan. Sampai akhirnya ketika terjadi G30S PKI tahun 1965 seperti membuyarkan impiannya untuk bisa kembali ke Indonesia oleh karena paspor sebagai data diri yang sah di negeri orang itu dicabut oleh pemerintah RI saat itu pada tahun 1967 setelah menolak skrining KBRI kala itu. Maka setelah itu Waloejo tidak memiliki kewarganegaraan, dan meminta kepada pemerinta Pyongyang untuk bisa tinggal dan bekerja di Korea Utara. 


Namun demikian, di negara Sosialis yang sekarang dipimpin oleh Kim Jong Un itu, ia malah hidup selalu di bawah tekanan karena semua kegiatan hidupya selalau dalam pengawasan. Maka ia megajukan pindah ke negara sosialis lainnya yaitu Uni Soviet tahun 1970. Di negeri tersebut ia menyelesaikan Ph.D nya dan bekerja juga di negeri Lenin tersebut dan menetap di negeri tersebut selama 12 tahun hingga ia kemudian pindah ke Perancis tahun 1981 dan menetap di Paris hingga akhir hayatnya tahun 2013.

Membaca buku ini benar-benar kita dibawa oleh suasana kota di mana Waloejo mengalaminya. Ia seperti mewakili kita memberi gambaran situasi dan kondisi di mana ia sedang menetap, baik itu di Korea Utara, Uni Soviet dan Paris Perancis. Tapi yang paling menarik adalah bagaimana perjalanan Seorang Waloejo berada di negeri orang sebagai orang Indonesia yang kehilangan Tanah Air yang telah melahirkannya dan mengembara ke berbagai negara. 

Rindu pulang, pasti, ingin kembali jelas, tapi karena imbas dari G30S PKI ia harus berada di tempat yang jauh. Jauh dari negerinya, jauh dari keluarganya dan jauh dari semua kenangan-kenangan masa kecilnya.


Kristenisasi ala Kiai Sadrach

Kristenisasi ala Kiai Sadrach

 

Buku yang saya perkenalkan ini cukup menarik karena isinya yang bercerita mengenai kristeninasi yang terjadi di Tanah Jawa yang dilakukan oleh seorang pribumi asli di masa penjajahan Belanda. Memang jangan dibayangkan bahwa aktifitas kristeninasi kala itu bisa dilakukan oleh sembarang orang dan bahkan tidak boleh sembarangan dilakukan. Catatan ini menjadi menarik karena walaupun Penjajah Belanda khususnya orang-orangnya beragama Kristen, bukan berarti kegiatan kristenisasi itu mudah dilakukan dan gampang pelaksanaannya. Karena Belanda datang ke Indonesia tidak memiliki paket membawa agama, misinya hanya menguasai dan faktor ekonomi semata. 

Berbeda sekali dengan Portugis yang di samping misi ekonomi tapi juga misi keagamaan sudah menjadi satu di dalamnya. Catatan lainnya adalah, ketika kekristenan juga diterima oleh sebagian masyarakat pribumi, bukan berarti orang pribumi bisa seenaknya menyebarkan keyakinannya kepada setiap orang. Missionaris dari luarpun termasuk dari orang Belanda pun harus mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan oleh pemerintah Belanda sendiri. Kenapa? Jangan sampai kegiatan kristenisasi itu mengusik kegiatan ekonomi mereka. Contohnya, ketika missionaris dari Gereja Mennonite (DZV), Jansz dalam tulisan pastoralnya menggunakan elemen kultur Jawa di mana ketika tulisan dalam bentuk brosur itu jatuh ke tangan asisten residen Jepara dan kemudian meminta pendapat kepada bupati, tulisan itu dianggap beresiko dan berbahaya bagi ketertiban umum. Kemudian yang terjadi adalah pemerintah mencabut ijin penyebaran agama dan dilarang berdakwah kepada non-Kristen. Jadi pemerintah Belanda tidak terlalu perduli dengan misi agama, mereka lebih perduli dengan ketenangan masayarakat supaya tidak bergolak sehingga kegiatan ekonomi itu berjalan lancar. Kalaupun pada akhirnya pemerintah Belanda perduli dengan misi gereja, tapi itu lebih kepada kepedulian untuk melakukan pembinaan terhadap umat Kristen yang ada kala itu.

Akibatnya kalaupun ada missionaris-missionaris 'luar' yang ingin menyebarkan kekristenan di Nusantara, mereka kesulitan untuk membawa orang-orang pribumi untuk dikristenkan. Makanya ketika tokoh yang menjadi sorotan dari buku yang ada di tangan saya ini menjadi penginjil dan melakukan kristenisasi khususnya di Tanah Jawa, dengan pendekatan pola pikir orang Jawa dan cara hidup Jawa maka begitu banyak orang Jawa yang merasa tertarik untuk menjadi Kristen. Tapi justru di sinilah persoalan di mulai. Di mana keberhasilan tokoh kita ini akhirnya menimbulkan 'iri hati' terhadap keberhasilannya.

Tokoh yang menjadi sorotan dalam buku berjudul Kiai Sadrach: Riwayat Kristenisasi di Jawa adalah sesuai dengan nama judul bukunya. Kiai Sadrach. Seorang yang datang dari masyarakat miskin yang tertarik untuk mencari ilmu dengan cara berkelana di beberapa tempat di Jawa. Dalam pencarian ilmu dengan berguru di berbagai tempat dan berbagai guru, rupanya Kiai Sadrach berjumpa dengan kekristenan dan akhirnya memutuskan untuk menjadi Kristen. Yang menarik dari hasil karya C. Guillot ini menjelaskan dengan begitu rinci dan informatif mengenai kehidupan Jawa masa lampau ini sangat kaya dengan data-data yang sangat komfrehensif. Makanya buku ini menjadi penting bagaimana jalannya penyebaran kekristenan khususnya di Jawa. Dengan melihat latar belakang dan perjalanan Kiai Sadrach maka kita menjadi tahu juga pola yang dipakai oleh penginjil tersebut yang tentu berbeda polanya dengan yang dilakukan oleh para missionaris dari luar khususnya dari Eropa. Buku ini sebenarnya pernah diterbitkan oleh PT. Grafiti Pers tahun 1965 dan kini diterbitkan kembali oleh Matabangsa tahun 2020.


Sebagai orang yang lahir dan besar di Jawa dengan kehidupan ngelmu yang tinggi saat itu, Sadrach berkeliling ke banyak wilayah untuk berguru, dan akhirnya ketika tiba di Semarang ia bertemu dengan guru lamanya yang ternyata sudah menjadi Kristen, sehingga dia mengikuti jejak gurunya itu menjadi Kristen. Namun, Sadrach sendiri akhirnya terdorong untuk melakukan penginjilan ke banyak tempat di Jawa dan berhasil secara luar biasa mendirikan perkumpulan orang-orang yang mengikuti jejaknya dari kalangan pribumi. 

Namun demikian oleh orang-orang Barat dalam hal ini para missionaris melihat keberhasilan Sadrach itu bukannya mendapat dukungan, tapi malah dianggap Sadrach menggunakan pengajaran kekristenan yang dicampur dengan nilai-nilai dan tradisi kejawaan yang bagi orang Barat atau Eropa Kristen tersebut bukan Kristen murni. Sebenarnya cara memandang seperti itu juga dialamatkan kepada Coolen yang ada di Ngoro, Jawa Timur, di mana kekristenan Coolen kekristenan yang memang beriringan dengan budaya Jawa. Daftar tuduhan yang dialamatkan kepada Kiai Sadrach itu seperti adanya slametan, kenduri, bangunan gereja berbentuk masjid dan seterusnya. Semua itu seperti tidak bisa diterima oleh gereja yang saat itu tentu kiblatnya kepada gereja yang ada di Eropa.

Memang cara kristenisasi itu misalnya dilakukan dengan cara berdialog kalau tidak mau dibilang berdebat dengan guru-guru dan para pemimpin sampai akhirnya kalah dalam perdebatan dan akhirnya mengikuti jejak Kiai Sadrach. Apalagi Sang Kiai memiliki kepintaran untuk soal ilmu supranatural yang ketika itu dianggap sebagai ilmu tinggi. Makanya sebutan kiai yang disandangnya memperkuat hal tersebut. Sehingga hal tersebut juga menjadi senjata bagi 'pesaing'nya kalau Kiai Sadrach itu mengajarkan Yesus sebagai ratu adil dan bahkan menyebut kalau Kiai Sadrach itu sendiri membawa dirinya sebagai ratu adil.

Lebih jelasnya, tampaknya buku ini harus dimiliki dan dibaca untuk mengetahui kehidupan dan karya-karya Kiai Sadrach yang dirangkum dalam buku yang memenangkan Prix Jeanne Cuisinier (1981) sebuah hadiah  yang diberikan oleh Institut National des Laugues et Civilisation Orientales, Paris untuk buku-buku terbaik mengenai Indonesia.

Rabu, 09 September 2020

Misteri Borobudur: Peninggalan Nabi Sulaiman atau Peninggalan Siapa?

Misteri Borobudur: Peninggalan Nabi Sulaiman atau Peninggalan Siapa?

 

Memang sejak kita duduk di bangku Sekolah Dasar kita tentu sudah dijelaskan mengenai Candi Borobudur yang ada di Magelang, Jawa Tengah. Candi yang mendapat predikat salah satu warisan dunia oleh UNESCO (lembaga di bawah naungan PBB yang bergerak di bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan) itu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi kita bangsa Indonesia. Candi yang dibangun pada abad ke 8 Masehi itu selama ini informasinya dibangun oleh Disanti Wangsa Syailendra. Namun, rupanya banyak orang dikejutkan oleh munculnya buku Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman karangan KH. Fahmi Basya. Sebagai sebuah karya buku, tentu kitapun harus menghormati buah-buah pikiran yang ada di dalamnya. Dan buku yang saya angkat ini menjadi usaha untuk menjawab semua dalil dan pemikiran buku Fahmi Basya tersebut. 

Buku yang ada di tangan saya berjudul Misteri Borobudur: Candi Borobudur Bukan Peninggalan Nabi Sulaiman diterbitkan oleh Penerbit Dolphin, Jakarta, Cetakan I: September 2014. Penulisnya adalah Seno Panyadewa. Buku yang memiliki tebal 249 halaman ini tentu saja menjadi contoh bagaimana sebuah gagasan, dijawab dengan gagasan, bukan dengan urat leher, apalagi demo yang berkepanjangan. Karena sebagai sebuah pemikiran baru dan dengan alasan-alasan yang tentu dilatarbelakangi oleh sebuah keyakinan yang dianggap benar tentu bila ada kebenaran lainnya harus diungkap untuk mencapai kebenaran puncak.

Seperti yang diungkap oleh Seno Panyadewa bahwa buku ini ingin menjawab teori yang dikemukakan oleh Fahmi Basya, selama ini orang yang berusaha menentang teori-teori yang dikemukakan oleh Fahmi Basya cukup banyak. Baik yang awam dalam soal sejarah maupun arkeolog dan bahkan ada yang menganggap "tidak perlu diladeni" gagasan Fahmi Basya tersebut atau kebanyakan ahli tidak menganggap serius masalah ini. Mereka tidak merasa perlu meladeni Fahmi Basya karena dari awal mereka menganggap teori ini aneh dan sudah salah dari sononya. 

Namun bagi Seno Panyadewa, karena banyak orang yang terpengaruh juga dengan gagasan buku Borobudur Peninggalan Nabi Sulaiman karangan KH. Fahmi Basya ini maka salah satu alasan hingga buku Misteri Borobudur ini seperti ingin mengisi kekosongan tersebut. Karena merasa prihatin bahwa banyak orang semakin lama semakin jauh dari kebenaran dan bahkan buku ini juga ingin meluruskan pandangan tersebut. 

Memang kini kabar mengenai klaim mengenai Borobudur itu senyap tanpa suara, dan bahkan gaungnyapun tak terdengar. Tapi tentu saja buku ini ingin menjelaskan sejarah dan lebih kepada menjelaskan Borobudur itu sejarahnya bagaimana. Tentu saja, seperti yang diakui oleh penulisnya bahwa di dalam buku ini tidak ada materi-materi yang benar-benar baru dari penelaahan sang penulis. Karena banyak dari apa yang diungkap sudah pernah dijelaskan oleh para ahli sejarah, para antropolog yang sudah disusun di berbagai buku dan jurnal. 

Tapi tentu saja buku ini seperti menyadarkan orang bahwa, bisa jadi selama ini kita buta mengenai sejarah mengenai kebanggaan bangsa Indonesia, Borobudur tersebut, atau kurang perduli. Tapi KH Fahmi Basya seperti membangunkan kita dari tidur kekurangperdulian kita terhadap apa yang sudah dibangun oleh nenek moyang kita tersebut.

Isi buku ini tentu saja diawali oleh ulasan yang diungkap oleh Fahmi Basya mengenai teorinya mengenai Borobudur berdasarkan latarbelakang keilmuannya di bidang agama. Dan buku ini berusaha untuk menjawab semua argumen tersebut. Sebagi sebuah bacaan, tentu buku ini cukup menarik untuk dibaca guna membuka wawasan dan alternatif berpikir mengenai sebuah sejarah. 


Rabu, 02 September 2020

Minimal $100 Bisa Anda Raih Sebagai Gaji Pertama

Minimal $100 Bisa Anda Raih Sebagai Gaji Pertama


Hem, sebuah penawaran menarik untuk bisa kita lirik untuk diperhatikan. Siapa tahu memang jodohnya kita dengan rezeki berupa dollar US melalui rahasia yang akan diungkap oleh Muhamad Abduh, S.Kom.,MTA dalam bukunya Rahasia Sukses Affiliate Marketing di Amazon: Tips dan Trik Sukses Menjadi Afiliasi Marketing Amazon.com. Walaupun mungkin gaji pembaca sudah mencukupi tapi siapa tahu pekerjaan yang bisa dijadikan sampingan ini menjadi penambahan pundi-pundi uang Anda di tabungan. Sehingga istilahnya orang Jawa, duitnya bisa sampai nempe-nempe, yang maksudnya berlebih.

Ya, seperti judul bukunya tentu pekerjaan ini bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa membedakan kelas, di mana saja karena tidak dibatasi oleh tempat, dan kapan saja karena waktunya bisa menjadi fleksibel. Intinya semua bisa dan kapan saja serta di mana saja pekerjaan ini dilakukan. Yang kita lakukan adalah menjadi afiliasi marketing khusus untuk produk-produk yang dijual oleh Amazon. Arti mudahnya adalah kita menjual dan mempromosikan produk-produk yang ada di Amazon.com dengan berbagai cara, seperti melalui email, website, blog, facebook, instagram dan media sosial lainnya. Ketika barang-barang yang kita rekomendasikan itu berhasil maka kita akan mendapatkan komisi. Semudah itu, tapi juga sesulit melaksanakannya juga tentunya. Tapi jangan pesimis dulu sebelum kita melanjutkan penjelasan selanjutnya dari buku ini.

Buku ini justru akan menurunkan rasa pesimis Anda karena dari buku ini kita akan diberikan penjelasan berbagai hal dari pengetahuan dasar apa itu afiliasi marketing dan apa itu amazon.com. Dalam hal ini penting supaya kita menjadi mengerti apa maksudnya dari afiliasi tersebut, tapi juga tau pilihan amazon.com itu akan memberikan semangat lebih sehingga kita akan segera bertindak untuk menjadi affiliate marketer tadi.


Seperti halnya buku-buku penuntun lainnya, buku terbitan PT Elex Media Komputindo ini akan membimbing Anda dari pengenalan akan amazon.com dan kemudian dilanjutkan dengan pembuatan account menjadi anggota dan tentu saja langsung bertindak menjadi affiliator di e-commerce tadi. Sebagai pengetahuan awal, sebenarnya amazon.com termasuk perusahaan besar sekelas dengan google, apple dan facebook. Hanya saja amazon.com adalah perusahaan yang berfokus di e-commerce yang berbasis di Seattle, Washington, Amerika Serikat. Dialah perusahaan e-commerce terbesar di dunia.

Nah, kembali kepada buku yang ada di tangan saya ini di mana penulis menuntun pembaca bagaimana cara berafiliasi dengan amazon, tidak lupa juga peringatan-peringatan atau lebih tepatnya aturan-aturan mainnya di mana kita harus tunduk dan juga tips-tips sukses menjalankannya. Tidak lupa juga bagaimana cara mempromosikan produk-produk yang kita sudah pilih supaya kita mendapatkan komisi semuanya dijelaskan rinci di dalam buku ini. Jadi, mungkin ada baiknya langsung mencari buku ini, karena siapa tahu Anda bisa menjadi orang yang minimal dapat $100 per bulan. Semoga!

Langkah-langkah Menjadi Youtuber yang Berhasil

Langkah-langkah Menjadi Youtuber yang Berhasil


Banyak orang yang berpikir kalau menjadi Youtuber itu sulit, dan bahkan itu hanya pekerjaan orang-orang yang memiliki fasilitas yang lengkap berupa kamera, akses internet 24 jam dan perlengkapan komputer lengkap dan kalau perlu ada studio yang mumpuni seperti peralatan pencahayaan dan sebagainya, dan sebagainya. Padahal menjadi Youtuber hak segala macam orang, segala macam pekerjaan, segala macam hoby dan seterusnya. Yang paling penting adalah, memiliki alat perekam gambar dan akses internet, kita bisa memulainya. Nah, buku berjudul Passive Income dari YouTube: Panduan Memulai Channel Youtube dan Menghasilkan Income dari Youtube ini mungkin bisa menjadi awal informasi penting untuk langsung mengambil langkah menjadi Youtuber. Buku hasil karya Jefferly Helianthusonfri ini mungkin bisa menjadi acuan untuk segera bertindak melakukannya. 

Tapi juga jangan sampai ketika melihat buku ini kita kesengsem dengan judulnya yang menjanjikan di mana kita dengan kecepatan cahaya bisa langsung mendapatkan penghasilan dari Youtube tersebut. Mengapa? Seperti usaha-usaha lainnya di mana kita seringkali merasa kecewa pada awal-awal perintisannya karena ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi atau harapan kita. Dan akhirnya mundur teratur. Kunci dari keberhasilan itu adalah ketekunan dan kesungguhan serta ulet. 

Mari kita kembali kepada buku yang diterbitkan oleh PT. Elex Media Komputindo ini. Buku ini memang bersifat panduan ketika kita ingin memulai terjun menekuni bidang video yang diunggah ke Youtube ini. Menariknya lagi adalah, jika Anda sudah mempelajari buku ini dan melakukan panduan sang penulis dan merasa kesulitan dengan apa yang dijelaskan, Anda dipersilahkan untuk menghubungi penulis di instagram @jefferlyHelian.

Mari kita sedikit mengintip isi buku setebal 210 halaman ini dengan melihat langkah-langkah awal memulai menekuni Youtube ini. Oh ya, sebelumnya juga ada tambahan motivasi bagaimana seharusnya seorang Youtuber memiliki semangat untuk segera bertindak. Selain karena menjanjikan akan datangnya fulus atau uang yang bisa jadi tak terhingga, tapi juga sebelum pikiran duit itu muncul harus dipersiapkan apa saja yang segera dilakukan.


Secara praktis buku ini akan menuntun bagaimana seorang calon Youtuber sebelum membuat account Youtube tentu dibutuhkan konsep dari isi Youtube kita. Karena kalau tak ada konsep, tentu kita bingung mau diisi apa, dan itu juga berpengaruh mau dinamakan apa channel kita. Konsep yang dimaksud adalah katagori konten apa yang akan kita tampilkan. Kecuali kita hanya ingin mengupload segala macam yang dilihat tentu saja ini akan membingungkan penonton nantinya. 

Kalau kita punya hoby yang kita tekuni maka di situlah mungkin kita bisa langsung memulainya. Umpamanya, saya hoby naik gunung, maka semua kegiatan mengenai naik gunung itu yang akan kita tampilkan. Tentu saja berangkat dari sini otomatis akan mendorong kita untuk mencari tahu segala macam yang berhubungan dengan pendakian gunung, bahaya-bahaya ketika naik gunung dan seterusnya. Demikian juga ketika hoby makan, hoby berdandan, hoby masak, dll.

Ketika sudah menemukan jenis dan katagori yang akan kita garap, maka buku ini diperlukan langkah-langkahnya untuk membuat account Youtube dengan segala pernak-perniknya. Selanjutnya buku ini membahas banyak hal yang berhubungan dengan semua langkah-langkah yang perlu diambil supaya Youtube kita menjadi menarik, dikenal dan tidak lupa menghasilkan. Buku ini menjelaskan dari mana duit itu akan datang bagaimana langkah-langkahnya untuk bisa tembus dikirim segepok uang yang tentu menjadi target kita.

Tuan Yesus atau Tuhan Yesus?

Tuan Yesus atau Tuhan Yesus?

 

Sengaja memilih judul di atas karena buku yang ingin saya sampaikan ini merupakan buku yang bila ingin diambil inti yang ingin disampaikan adalah, Apakah Yesus itu Tuhan atau hanya sekedar Tuan? Tentu saja buku ini akan menjadi pertanyaan banyak orang karena ketika berbicara mengenai Yesus Kristus yang merupakan tokoh semtral dari kekristenan yang selama ini dimengerti oleh mayoritas banyak orang adalah Pribadi yang ditinggikan, diagungkan serta disembah. Namun buku ini ingin mengajak kita semua untuk merenung sejenak dan memikirkan ulang apa yang sudah kita yakini. Judul buku yang menjadi perhatian kita saat ini berjudul THE ONLY PERFECT MAN: Kemuliaan Allah pada Wajah Yesus Kristus. Ya, buku yang merupakan kelanjutan dari buku tebal sebelumnya yaitu The Only True God: Sebuah Kajian Monoteisme Alkitabiah tentu akan menjadi pertanyaan lanjutan. Penulisnya sama yaitu Eric H.H. Chang, walaupun dalam buku ini sang penulis belum sempat menyelesaikannya keburu wafat dan diteruskan oleh Helen Chang serta Bentley C. F. Chan.

Sekali lagi pemilihan judul artikel ini tentu bukan tanpa alasan, karena dari halaman-halaman awal saja indikasinya sudah kuat memberi gambaran bahwa Yesus bukanlah Tuhan tetapi Tuan. Hal tersebut bisa dilihat dari halaman pembuka yang mengutip dari Kitab Galatia 2:20 di kata-kata DIPERSEMBAHKAN: "Kepada Yesus Kristus Tu[h]an dan Juruselamat, Anak Allah, yang telah mengasihi aku dan menyerahkan dirinya untuk aku." Silahkan perhatikan pemenggalan kata Tu[h]an dengan mengurung huruf h di tengahnya yan menunjukkan sebatas mana penghormatan itu diberikan kepada Yesus Kristus dengan menyebut kata TUAN.

Akan lebih menyolok dari tambahan penerjemah supaya pembaca memiliki gambaran yang jelas maksud dari penulis dengan memberikan CATATAN PENERJEMAH yang langsung menjelaskan perihal makna mengenai tokoh Yesus Kristus dengan mengacu kepada Terjemahan kata LORD untuk Yesus. Mungkin maksudnya supaya pembaca tidak salah arah ketika membaca halaman demi halaman dari buku ini. Dengan mengutip kata  dalam bahasa Inggris Lord yang sering dipakai untuk menyapa Yesus, yang sekaligus menjadi gelar kehormatan Yesus seperti dalam "the Lord Jesus Christ" merupakan terjemahan dari kata Yunani kurios. Siapa saja yang mengenal bahasa Inggris dan bahasa Yunani akan tahu bahwa kata Lord dan kurios memiliki berbagai makna dan yang paling erat diterjemahkan sebagai Tuan, tetapi "Tuhan" bukanlah salah satu maknanya. Dari sini saja sudah bisa ditebak ke mana arah dari buku ini.

Memang kalau buku pertama dari Eric Chang lebih berfokus pada pembahasan mengenai pusat penyembahan di dalam Alkitab itu adalah Yahweh. Tentu saja disinggung banyak di buku pertama mengenai Yesus yang sebenarnya menurut Chang mengajak orang untuk menyembah Bapa atau Yahweh, bukan kepada diriNya. Sementara buku ini yang menjadi lanjutan buku pertama lebih berfokus kepada Yesus Kristus dengan membeberkan siapa sebenarnya Yesus Kristus itu yang adalah Manusia Sempurna dan bukan Allah atau Tuhan.


Tentu saja penulis buku ini menjelaskan banyak hal mengenai sejarah dari pengajaran atau doktrin Trinitas itu sendiri. Tidak lupa juga dasar-dasar yang digunakan oleh mereka yang meyakini mengenai Trinitas dan keallahan Yesus dari Alkitab, seperti dari Yohanes 1:1-18, Kolose 1:15-19, Ibrani 1, Wahyu 1 dan seterusnya.

Sekali lagi bahwa sebagai sebuah gagasan dan pemikiran serta hasil studi yang dilakukan oleh penulis, tentu kita tidak perlu menjadi alergi khususnya mereka yang menganut Trinitarian. Justru inilah buku yang seharusnya memicu setiap orang untuk mendalami kembali Kitab Suci atau Alkitab dengan serius. Karena jangan sampai kita hanya menjadi penonton dan menjadi orang yang mudah untuk diombang-ambingkan sesuai dengan apa yang kita dengar, apa yang kita rasakan, tapi bukan kepada apa yang kita dalami dan kita pelajari. Jadi buku setebal 609 halaman dan sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ini bisa menjadi dorongan terbukanya diskusi yang menarik. Semoga!

Satu Tuhan atau Tiga Tuhan?

Satu Tuhan atau Tiga Tuhan?

 

Sebagai sebuah hasil penelaahan terhadap Kitab Suci, buku tebal hasil karya Eric H. H. Chang, seorang yang lahir dari keluarga non Kristen dan akhirnya percaya karena mukjizat Tuhan ini mungkin bisa menjadi sebuah polemik yang berkepanjangan. Untungnya teman-teman Kristen di Indonesia tidak menjadikan buku ini sebagai sebuah buku yang harus disingkirkan keberadaannya di bumi Nusantara. Bahkan buku yang sudah diterbitkan dalam bahasa Indonesia tahun 2011 ditanggapi sepi-sepi saja oleh khalayak ramai khususnya gereja. Padahal kalau melihat isinya tentu buku ini bisa menimbulkan perdebatan panjang tak berujung. Karena buku Berjudul The Only True God: Sebuah Kajian Monoteisme Alkitabiah, merupakan hasil kajian yang menyimpulkan bahwa hanya ada SATU TUHAN dan TUHAN itu bukanlah YESUS KRISTUS.

Ketika saya memperkenalkan buku ini kepada seorang rekan dan teman lama saya yang sekarang sudah menyandang S2 dalam studi biblika, rekan saya mengatakan bahwa dirinya sudah punya buku itu dan tidak setuju dengan isinya mengenai pandangannya mengenai Yesus Kristus yang dianggap bukan Tuhan dan tidak mau mengakui Trinitas. Tentu tulisan ini bukan ingin menilai benar tidaknya buku ini, tapi sebenarnya buku ini telah mendapat perhatian dari teman-teman yang konsen dengan pengajaran kekristenan. Makanya saya hanya ingin berfokus dengan isi buku yang diterbitkan oleh Borobudur Indonesia Publishing, Semarang.

Untuk diketahui saja bahwa pertentangan masalah Trinitas dan Monoteisme ini bukanlah sesuatu yang baru. Konflik gagasan ini sudah dimulai oleh Arius tahun 325M. Memang pertentangannya bukan hanya masalah ketunggalan Tuhan, tapi ada beberapa gagasan yang akhirnya menjadi kelompok yang disebut Unitarian yang menolak konsep Trinitas. Tapi penulis buku The Only True God ini tidak mau masuk ke dalam pertentangan doktrin dalam sejarah Kristen. Fokus yang dilakukan oleh Eric Chang yang pernah menyelesaikan studi di Bible Training Institute Glasgow, Skotlandia ini adalah bagaimana menurut Alkitab mengenai bukti-bukti bahwa Alkitab mengajarkan bahwa Allah itu hanya satu seperti yang diajarkan oleh Yesus Kristus sendiri dalam kehidupan dan ucapanNya. Allah itu adalah Yahweh.


Dalam bukunya ini Eric menjelaskan semua bukti-bukti yang menunjukkan monoteisme Alkitab dari berbagai sumber Alkitab khususnya dari Injil dan surat-surat Rasul Paulus. Memang bahasannya yang lebih banyak mengutarakan dari Injil Yohanes yang memang sering menjadi rujukan banyak orang yang mempercayai akan Trinitas. Hal lain lagi adalah bagaimana Eric Chang yang pernah pmenempuh pendidikan di London Bible College dan juga lulus dari University of London (King's College dan Shool of Oriental and African Studies) dalam bidang Arts and Divinity ini berusaha menjawab setiap dalil yang disampaikan oleh mereka yang percaya dengan Trinitas.

Penulis juga menyematkan kesaksiannya bagaimana dirinya tumbuh dan lahir dalam kekristenan yang dilahirkan dari kekristenan yang percaya akan keallahan Yesus Kristus. Bahkan bertahun-tahun dalam penyeledikannya mengenai ketuhanan itu yang akhirnya mengubah pandangannya mengenai siapa yang patut disembahnya. Gagasan Eric Chang diambil dari doa Yesus Kristus yang berbunyi, "Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus."

Sekali lagi sebagai sebuah gagasan dan perenungan serta pemikiran buku ini memang bisa menjadi bahan penyelidikan yang menarik. Dan bahkan buku ini bersifat terbuka bagi siapapun termasuk bagi mereka yang di luar Kristen.

Selasa, 01 September 2020

Cara Mengeluarkan Nilai-nilai Berharga dari Orang Pendiam

Cara Mengeluarkan Nilai-nilai Berharga dari Orang Pendiam


Kalau bertemu dengan orang pendiam, jangan langsung mengambil kesimpulan yang negatif terlebih dahulu karena mungkin dia seperti orang apatis, kurang bergairah dan daftar sifat-sifat yang mungkin tidak mengenakkan. Karena sebenarnya di balik pribadi pendiam ada nilai-nilai berharga yang jika berhasil mengungkapkan akan menjadi sesuatu yang sangat berguna dalam banyak hal. Mungkin keberadaan introver dan ekstrover menjadi bagian yang tidak bisa kita elakkan. Kalau kita adalah orang ekstrover, maka suatu saat kita akan bertemu dan bersinggungan dengan orang introver. Karena 30% dari populasi manusia di dunia ini adalah introver. Buku yang berjudul QUIET IMPACT: Memunculkan Potensi Tersembunyi Pribadi Introver. Karangan Sylvia Loehken dan diterbitkan oleh Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2016 akan menolong siapapun baik introver maupun ekstrover untuk menemukan suara mereka yang tersembunyi.

Interaksi antar manusia di mana ketika orang introver bertemu dengan ekstrover bisa menjadi masalah tersendiri. Penyebabnya karena bisa jadi masing-masing kepribadian tersebut memiliki presepsi tersendiri mengenai sifat yang dimiliki oleh orang lain. Si ekstover bisa jadi memiliki presepsi, kok angkuh, kok sombong, kok diam melulu tanpa mengerti apa yang sedang berkecamuk di dalam diri introver. 

- Buku Khusus bagi Si Pendiam

Sebaliknya introver yang bergitu nyaman dalam berhubungan dengan orang lain, berbicara dengan merdeka, dan bahkan menjadi pusat perhatian orang bisa jadi bingung dengan si ekstrover tersebut. Padahal itu hanya masalah kepribadian yang tidak bisa dihubungkan dengan kecerdasan, kepintaran, kehebatan dan seterusnya. Makanya buku ini bukan hanya direkomendasikan bagi mereka yang introver, tapi juga ditujukan bagi kaum ekstrover untuk mempelajarinya supaya mampu memahami introver dan memperlakukannya dengan baik.

Supaya menjadi real apa yang sering dirasakan oleh introver kita coba turut merasakan apa yang dipaparkan oleh penulis buku THE INTERNATIONAL #1 BESTSELLER ini ketika menyadari keberadaan sifat dari introver. Introver di mana sering diidentikkan dengan kutu buku (sebuah istilah klise untuk pribadi yang pendiam), asyik dengan komputer, malas bercukur sampai berhari-hari, lengkap dengan remah-remah piza berserakan di sekitar papan ketik. Lalu ketika masuk ke sebuah seminar penulis merasa jenuh dengan pelatihan komunikasi. 


Penyebabnya bukan pelatihan komunikasinya yang membuat jenuh. Yang membuat tidak nyaman adalah penulis mulai merasa tidak nyaman terhadap para pelatih dan para siswa - terhadap sejawat-sejawatnya. Mereka seringkali terlalu ribut dan terkesan dangkal. Soal performa, penulis dan orang lain sebelas dua belas, mirip-mirip. Inilah perasaan penulis yang mengaku introver; mereka atau orang lain itu memandang diri mereka sebagai kaum elite, , orang-orang terbaik, mereka berlebihan. Itulah yang menjadikan penulis merasa dirinya berbeda dengan orang lain. 

Pendiam, Jangan Takut Menjadi Pendiam

Lebih lagi semakin membuat gelisah adalah ketika mereka para peserta memberi penilaian, tolong, lebih ekspresif, tolong lebih agresif, ayo lebih bersemangat. Dalam bekerja, penulis merasa akan lebih senang bekerja dengan orang yang bersifat sama dengan dirinya. Makanya, buku yang luar biasa ini ingin mengisi kekosongan untuk pelatihan bagi mereka yang pendiam. Supaya ditemukan komunikasi 'dua dunia' yang berbeda ini dan bisa nyambung membentuk sebuah kekuatan dalam melakukan sebuah hal besar.

Buku bagus dan berguna untuk membangun komunikasi di tempat manapun di mana 'dua dunia' itu berkumpul, entah itu di sekolah, kantor, komunitas apapun supaya introver dapat mengeluarkan nilai-nilai kelebihannya. Dengan bahasan pendekatan dan cara-cara yang cocok bagaimana mendekati sang introver dan bagaimana mengeluarkan hal-hal luar biasa yang dimiliki oleh introver. Tentu saja buku ini lengkap dengan kisah-kisah luar biasa yang dapat kita petik pelajaran ketika dalam pelatihan bagi kebaikan komunikasi dua perbedaan sifat tersebut.

Imam Dominikan: Yesus Bukan Orang Kristen

Imam Dominikan: Yesus Bukan Orang Kristen

 


Membaca judul buku karangan Albert Nolan, OP ini memang menimbulkan banyak pertanyaan dan presepsi awal, apa maksud dari buku ini. Tentu saja penulis bukan bermaksud ingin mencari perhatian supaya bukunya ini mendapat tempat bagi pembacanya, walaupun mungkin itu ada, tapi sebenarnya Albert Nolan ingin mengajak pembaca untuk melihat Yesus Kristus dengan tanpa presepsi dari segi iman yang tentu sudah direkonstruksi oleh para pengikut Yesus. Makanya, buku ini bahkan bisa dibaca oleh mereka yang tidak memiliki iman sama sekali guna melihat Yesus dari kehidupan pribadinya.

Walaupun demikian penulis dalam kata pengantarnya buru-buru mengingatkan bahwa buku ini bukan ingin menguraikan sejarah mengenai Yesus dalam kehidupanNya. Tapi pembaca justru diajak untuk mengenal seorang manusia yang hidup pada abad pertama Masehi di Palestina. Menilai Dia sebagai sosok sebelum Ia menjadi obyek dari iman Kristen. 

Tapi juga penulis tidak bermaksud ingin menjadi pembelaNya atau dalam istilah yang dipakai "menyelematkan Yesus" atau iman Kristen. Bukan itu. Karena memang Yesus sendiri tidak membutuhkan siapapun untuk menyelamatkan diriNya. Karena Dia sendiri dapat menjaga diriNya sendiri, sama halnya kebenaran dapat menjaga dirinya sendiri. Makanya kalaupun kita dalam menemukan kebenaran yang membawa kepada Yesus, itu bukan karena kita berusaha menyelamatkan kebenaran tapi karena kita menemukan kembali keselamatan itu sendiri.

Kalaupun dalam buku ini kita menemukan kebenaran sejarah mengenai Yesus itu bukanlah tujuan utama dari buku terbitan Kanisius Yogyakarta 2005 ini. Yang paling penting dari tulisan dari buku ini adalah bagaimana melihat penderitaan manusia di dunia yang semakin hari semakin nyata terlihat, dan hal ini sepertinya juga tidak akan surut situasinya di masa-masa mendatang. Nah, buku ini ingin mengajak kepada kita, apakah yang dapat kita lakukan ketika melihat menderitaan itu?

Jadi buku ini sebenarnya ingin mengajak pembaca untuk melihat Kristus itu melebihi dari hanya persoalan mengikut Dia dengan prespektif tafsir dari yang kita pegang sekarang. Karena sebenarnya Yesus itu melibihi dan berdiri di atas kristianisme itu sendiri dan menjadi hakim. Karena Yesus itu miliki semua orang. Menafsirkan Yesus dengan berbagai cara untuk membentuk gambaran Yesus sebenarnya sudah banyak dilakukan. 

Yesus digambarkan apapun dapat kita temui. Baik yang konservatif, progresif, devosional, akademis. Tapi penulis ingin mengajak untuk mengesampingkan pembentukan gambaran Yesus sesuai dengan versi kita itu dan mulai terbuka untuk mengambil sejarah mengenai apa yang dilakukan Yesus bagi sesamanya, keprihatinan Yesus akan dunia di masa kita sekarang ini dan di masa depan kita.

Buku yang sangat bagus untuk dibaca dan tampaknya kalau kita ingin mendapatkan kejelasan secara utuh maksud penulis, maka mau tidak mau kita harus menghabiskan halaman demi halaman karena kita bisa mengerti dengan jelas apa maksud dari perhatian Yesus terhadap dunia melebihi persoalan-persoalan dalam masalah agama.