Supersense: Mengapa Kita Percaya pada Hal yang Tak Selalu Masuk Akal?

Pernahkah Sebuah Suara Membawa Anda Kembali ke Masa Kecil?

Ada suara-suara tertentu yang sebenarnya sederhana, tetapi entah mengapa mampu membawa kita pergi jauh.

Bukan ke tempat lain, melainkan ke masa lalu.

Bagi sebagian orang, mungkin suara kereta api. Bagi yang lain, bunyi lonceng gereja, lagu tertentu, aroma masakan ibu, atau suara hujan di atas genteng rumah masa kecil.

Bagi saya, salah satunya adalah suara takbir menjelang Idul Fitri.

Ketika masih kecil, kehidupan sehari-hari kami sederhana. Tidak setiap hari membeli pakaian baru. Makanan enak bukan sesuatu yang selalu tersedia. Jajanan pun tidak bisa dibeli sesuka hati.

Karena itu, Idul Fitri terasa luar biasa.

Ada baju baru. Ada makanan yang lebih istimewa. Ada kesempatan berkunjung ke rumah orang. Ada uang yang diterima dari orang lain. Ada banyak orang berkumpul dan saling menyapa.

Dan di tengah semuanya, terdengar alunan takbir.

Sekarang, ketika suasana kehidupan sudah jauh berbeda, suara takbir kadang masih menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah ada pintu yang terbuka menuju sebuah dunia yang sudah lama berlalu.

Apakah itu sesuatu yang tidak masuk akal?

Justru pertanyaan semacam inilah yang membuat buku Supersense karya Bruce Hood menarik. Buku ini sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia berjudul Supersense: Mengapa Kita mempercayai Hal Tak Masuk Akal oleh CV Global Indo Kreatif, Manado 2020 lalu.



Apa Itu Supersense?

Bruce Hood adalah psikolog yang tertarik pada cara manusia berpikir, terutama kecenderungan kita mempercayai sesuatu yang kadang sulit dijelaskan secara rasional.

Dalam Supersense: Why We Believe in the Unbelievable, Hood tidak sekadar mengejek manusia karena percaya takhayul atau hal-hal supernatural.

Pendekatannya jauh lebih menarik.

Ia mencoba memahami mengapa pikiran manusia begitu mudah melihat pola, hubungan, makna, atau kekuatan tertentu di balik sesuatu yang sebenarnya mungkin sederhana.

Dengan kata lain, Hood tidak buru-buru mengatakan:

“Orang yang percaya hal seperti itu bodoh.”

Sebaliknya, ia seakan bertanya:

“Mengapa pikiran manusia bekerja seperti itu?”

Pertanyaan ini membuat pembahasan tentang kepercayaan menjadi lebih manusiawi.



Pikiran Manusia Memang Senang Mencari Makna

Bayangkan kita melihat dua kejadian yang berlangsung berdekatan.

Sesuatu terjadi, kemudian sesuatu yang lain menyusul.

Otak kita secara spontan bertanya:

Apakah keduanya berhubungan?

Kemampuan semacam ini sebenarnya sangat berguna.

Manusia perlu mengenali pola. Kita perlu mengetahui apakah sesuatu merupakan ancaman. Kita perlu memperkirakan maksud orang lain. Kita perlu belajar bahwa tindakan tertentu dapat menghasilkan akibat tertentu.

Masalahnya, kemampuan mencari pola itu kadang bekerja terlalu jauh.

Kita dapat melihat hubungan pada dua hal yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan sebab-akibat.

Dari sinilah berbagai bentuk magical thinking, takhayul, dan kepercayaan terhadap sesuatu yang sulit dibuktikan dapat muncul.

Misalnya seseorang merasa bahwa sebuah benda membawa keberuntungan.

Secara material, benda itu mungkin hanya benda biasa.

Tetapi bagi pemiliknya, benda tersebut mempunyai sesuatu yang lebih.

Di sinilah konsep Supersense menjadi menarik.



Mengapa Benda Biasa Bisa Menjadi Sangat Istimewa?


Pernahkah Anda menyimpan barang lama yang sebenarnya sudah tidak berguna?

Sebuah jam tangan tua.

Foto yang sudah kusam.

Surat lama.

Pakaian milik orang yang kita cintai.

Atau mungkin benda kecil yang diberikan seseorang puluhan tahun lalu.

Kalau dilihat dari harga materialnya, mungkin benda itu tidak berarti apa-apa.

Tetapi ketika orang lain berkata,

“Buang saja, kan sudah tidak berguna.”

kita mungkin merasa tidak rela.

Mengapa?

Karena bagi kita benda tersebut bukan lagi sekadar benda.

Ia membawa cerita.

Ia membawa hubungan.

Ia membawa ingatan.

Bahkan kadang kita merasa ada “sesuatu” dari orang yang telah memberikan benda itu yang masih melekat di sana.

Secara rasional kita tahu bahwa benda tersebut tidak berubah secara kimiawi hanya karena pernah dimiliki seseorang.

Tetapi secara psikologis, benda itu telah memperoleh nilai yang jauh lebih besar daripada bahan pembentuknya.

Inilah salah satu sisi manusia yang ingin dipahami Hood.



Dari Benda Istimewa Menuju Sesuatu yang Sakral


Hal ini kemudian membawa kita kepada konsep yang lebih besar: kesakralan.

Sesuatu disebut sakral bukan semata-mata karena bentuk fisiknya berbeda.

Sebuah tempat mungkin terlihat seperti tanah biasa.

Sebuah benda mungkin terbuat dari bahan yang sama seperti benda lain.

Sebuah kata mungkin hanya terdiri dari beberapa huruf.

Tetapi sebuah komunitas dapat memberikan makna yang membuat semuanya menjadi berbeda.

Ketika sesuatu telah dianggap sakral, kita tidak lagi memperlakukannya seperti benda biasa.

Ada yang boleh dilakukan.

Ada yang tidak boleh dilakukan.

Ada cara tertentu untuk memperlakukannya.

Ada rasa hormat yang muncul.

Dan sering kali, rasa hormat tersebut diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.



Ketika Keyakinan Pribadi Menjadi Keyakinan Bersama


Di sinilah persoalannya menjadi semakin menarik.

Seseorang mungkin mempunyai sebuah keyakinan.

Tetapi ketika banyak orang mempunyai keyakinan yang sama, sesuatu yang tadinya bersifat pribadi dapat berubah menjadi realitas sosial.

Seorang anak lahir ke dalam masyarakat yang sudah mempunyai berbagai keyakinan.

Ia melihat orang tuanya melakukan sesuatu.

Tetangganya melakukan hal yang sama.

Orang-orang tua menceritakan kisah yang sama.

Ada ritual yang dilakukan berulang-ulang.

Ada sesuatu yang dianggap pantang.

Ada tempat yang dihormati.

Ada waktu tertentu yang dianggap istimewa.

Lama-kelamaan, anak tersebut tidak lagi bertanya:

“Mengapa semua orang mempercayai ini?”

Ia cukup memahami:

“Memang begitulah adanya.”

Di sinilah budaya mempunyai kekuatan luar biasa.

Sebuah keyakinan tidak harus terus-menerus dijelaskan ketika seluruh lingkungan sosial telah menganggapnya sebagai sesuatu yang normal.



Kembali kepada Suara Takbir


Sekarang kita kembali kepada suara takbir.

Bagi orang lain, suara itu mungkin tidak mempunyai pengalaman emosional yang sama.

Tetapi bagi seseorang yang sejak kecil tumbuh dalam suasana Idul Fitri, takbir dapat membawa banyak sekali makna.

Takbir tidak berdiri sendiri.

Ia datang bersama:

keluarga, makanan, pakaian baru, kampung, tetangga, uang, perjalanan dari rumah ke rumah, kegembiraan, dan kenangan masa kecil.

Karena itu, ketika suara yang sama terdengar puluhan tahun kemudian, ia dapat membangkitkan kembali suasana yang telah lama hilang.

Ini bukan berarti suara tersebut mempunyai kekuatan gaib.

Namun juga terlalu sederhana jika kita mengatakan:

“Itu hanya suara.”

Sebab secara psikologis, suara tersebut telah memperoleh makna yang jauh lebih besar daripada sifat fisiknya.

Inilah salah satu cara paling mudah untuk memahami gagasan Supersense.




Keterbatasan Justru Bisa Membuat Sesuatu Lebih Bermakna


Ada satu bagian dari pengalaman masa kecil yang menurut saya penting.

Kebahagiaan itu mungkin terasa begitu kuat justru karena kehidupan sehari-hari sederhana.

Kalau setiap hari seseorang memperoleh makanan enak, pakaian baru, uang, dan hiburan, maka datangnya hari raya mungkin tidak memberikan kontras yang begitu besar.

Tetapi ketika kehidupan sehari-hari terbatas, sesuatu yang istimewa menjadi terasa benar-benar istimewa.

Baju baru bukan sekadar pakaian.

Makanan bukan sekadar makanan.

Uang bukan sekadar uang.

Dan takbir bukan sekadar suara.

Semuanya menjadi bagian dari sebuah pengalaman emosional yang utuh.

Barangkali inilah salah satu alasan mengapa kenangan masa kecil sering mempunyai kekuatan yang begitu besar.

Bukan karena masa lalu selalu lebih baik.

Tetapi karena kita pernah memberikan makna yang sangat besar kepada hal-hal sederhana.



Apakah Semua Ini Berarti Agama Hanyalah Takhayul?


Di titik ini kita perlu berhati-hati.

Gagasan Bruce Hood tidak harus dibaca sebagai kesimpulan bahwa semua agama atau pengalaman spiritual hanyalah khayalan manusia.

Ada perbedaan antara menjelaskan bagaimana manusia bisa memiliki keyakinan dan membuktikan apakah objek keyakinan tersebut benar atau tidak.

Psikologi dapat mempelajari bagaimana seseorang mengalami rasa takut.

Tetapi penjelasan tentang mekanisme rasa takut tidak otomatis membuktikan bahwa objek yang ditakutinya tidak ada.

Demikian pula dengan pengalaman religius.

Kita dapat mempelajari bagaimana ritual, simbol, pengalaman masa kecil, komunitas, dan otak manusia membentuk pengalaman keagamaan.

Tetapi pertanyaan apakah realitas transenden itu benar-benar ada adalah pertanyaan yang lebih luas.

Ia sudah masuk ke wilayah filsafat dan iman.

Karena itu, Supersense lebih menarik jika dibaca sebagai upaya memahami manusia, bukan sekadar sebagai senjata untuk menertawakan kepercayaan manusia.



Bruce Hood dan Richard Dawkins: Ada Persinggungan, Tetapi Tidak Sama


Pembahasan ini memang mengingatkan kita kepada Richard Dawkins melalui The God Delusion.

Keduanya sama-sama tertarik pada pertanyaan besar:

Mengapa manusia percaya pada sesuatu yang tidak dapat dilihat atau dibuktikan secara sederhana?

Tetapi pendekatannya tidak persis sama.

Dawkins secara lebih tegas mengkritik agama dan kepercayaan kepada Tuhan melalui perspektif evolusi dan ateisme.

Sementara Hood lebih tertarik pada mekanisme psikologis yang membuat manusia cenderung percaya pada sesuatu yang berada di luar penjelasan material sederhana.

Dengan demikian, Supersense tidak harus dibaca sebagai:

“Manusia percaya karena manusia bodoh.”

Melainkan:

“Manusia memiliki cara kerja pikiran tertentu yang membuat kepercayaan terhadap pola, makna, agen, kekuatan tersembunyi, dan sesuatu yang dianggap istimewa menjadi sangat mudah muncul.”

Perbedaan ini membuat pendekatan Hood terasa lebih halus.



Kita Semua Mungkin Memiliki Supersense


Yang menarik, Supersense bukan hanya tentang “orang lain”.

Kita semua mungkin memilikinya dalam kadar tertentu.

Orang yang sangat rasional pun bisa mempunyai benda kenangan yang tidak rela dibuang.

Seorang atlet bisa mempunyai ritual tertentu sebelum bertanding.

Seseorang mungkin merasa hari tertentu membawa keberuntungan.

Orang tua bisa merasa bahwa barang milik anaknya memiliki nilai yang tidak tergantikan.

Dan seseorang bisa mendengar sebuah lagu lalu tiba-tiba merasakan kembali suasana yang sudah berlalu puluhan tahun.

Manusia ternyata bukan makhluk yang hanya hidup dengan logika.

Kita hidup dengan cerita, simbol, ingatan, emosi, hubungan, dan makna.

Itulah yang membuat hidup manusia sekaligus menjadi indah dan rumit.



Yang “Tidak Masuk Akal” Belum Tentu Tidak Bermakna


Mungkin ini pelajaran paling menarik dari Supersense.

Ada sesuatu yang secara objektif tidak masuk akal, tetapi secara psikologis sangat masuk akal.

Seseorang mungkin tahu bahwa benda keberuntungan tidak mempunyai kekuatan khusus, tetapi tetap merasa nyaman ketika membawanya.

Seseorang mungkin tahu bahwa sebuah lagu hanyalah kumpulan gelombang suara, tetapi bisa menangis ketika mendengarnya.

Seseorang mungkin tahu bahwa sebuah benda hanyalah benda, tetapi tidak sanggup membuangnya karena benda tersebut menyimpan kenangan orang yang dicintainya.

Apakah itu irasional?

Mungkin.

Tetapi apakah itu tidak manusiawi?

Justru sebaliknya.

Mungkin sebagian dari apa yang kita sebut “tidak masuk akal” merupakan konsekuensi dari kemampuan manusia untuk memberikan makna.



Penutup: Memahami Sebelum Menghakimi


Buku Supersense karya Bruce Hood menarik bukan hanya karena membahas mengapa manusia mempercayai hal-hal yang sulit dipercaya.

Yang lebih menarik adalah ajakannya untuk melihat manusia dengan sedikit lebih rendah hati.

Kita semua memiliki pikiran yang mencari pola.

Kita semua mempunyai benda yang kita anggap istimewa.

Kita semua mempunyai kenangan yang melekat pada tempat, suara, aroma, atau benda tertentu.

Dan sebagian dari kita mempunyai keyakinan yang diwariskan melalui keluarga dan komunitas.

Karena itu, sebelum mengatakan:

“Itu tidak masuk akal.”

mungkin ada pertanyaan yang lebih baik:

“Mengapa hal itu begitu bermakna bagi manusia?”

Pertanyaan kedua membawa kita lebih jauh.

Ia membawa kita kepada psikologi, budaya, agama, sejarah, bahkan kepada diri kita sendiri.

Dan mungkin, ketika suatu hari suara takbir kembali terdengar, kita tidak hanya mendengarnya sebagai suara.

Kita mungkin menyadari bahwa di dalam suara sederhana itu tersimpan sebuah masa kecil, sebuah komunitas, sebuah kebahagiaan, dan sebuah dunia yang pernah kita tinggali.

Itulah barangkali salah satu keistimewaan manusia: kita tidak hanya hidup di dalam dunia yang kita lihat, tetapi juga di dalam dunia makna yang kita bangun bersama.

Posting Komentar untuk "Supersense: Mengapa Kita Percaya pada Hal yang Tak Selalu Masuk Akal?"