Jumat, 26 Februari 2021

Dalam Memberi ada Ribuan Rahasia Terungkap

Dalam Memberi ada Ribuan Rahasia Terungkap

Pernahkah Anda mendengar nama Hong Zhong Hai, seorang veteran perang saudara China yang ditahbiskan menjadi salah satu orang dermawan paling dermawan dari 46 orang lainnya se Asia Tenggara versi majalah Forbes. Tidak tahu mengapa berita mengenai dirinya hanya didapat dari www.viva.co.id pada 2011 lalu. Atau memang lewat dari pemantauan redaksi idebuku.com. Berita ini pernah dikutip di sebuah portal yang tidak pernah terlupakan. Karena selain isinya heroik tapi juga mendatangkan decak kagum. Betapa tidak, lelaki sepuh tersebut rela memberikan 1,78 miliar untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. 

Bagi orang yang berpunya, mungkin jumlah tersebut tidak seberapa, tapi Hong Zhong Hai bukanlah orang yang kaya dan berlebihan. Malah sebaliknya. Misalnya saja, seorang perawat yang datang ke rumahnya mengatakan bahwa handuknya robek sana-sini dan sudah seperti jaring laba-laba. Ia tidak mau membeli yang baru supaya dia bisa menyimpan uangnya untuk disumbangkan kepada orang yang kekurangan. Bahkan ketika seorang ibu mengirimkan sop untuknya karena sudah dibantu, Hong Zhong Hai berkomentar, "Sop ini adalah makanan paling lezat yang pernah saya cicipi."

Di meja redaksi sebuah buku menarik terpampang yang berjudul, The Power of Giving.

Judul         : The Power of Giving (Agar Kemakmuran dan kebahagiaan Selalu Menyertai Anda)

Penulis      : Harvey McKinnon & Azim Jamal

Penerbit    : Ufuk Press (Ufuk Publishing House), Jakarta

Tahun        : September 2012 (Cetakan III)

Halaman    : xxx +258 halaman

Membaca buku ini memang akan memberikan wawasan yang sebenarnya mungkin tidak baru, tapi terkadang cara pikir kita tentang memberi telah disempitkan dengan pemberian secara materi. Dan buku ini akan meluaskan cara pandang kita mengenai keluasan makna dari memberi itu sendiri.

Aku tidak memiliki apa-apa untuk diberikan. Maka sebenarnya kita sudah membatasi diri dengan ukuran dana dan semacamnya. Padahal pesan buku ini yang paling penting adalah, berilah tanpa harus berupa uang. Berikut ini yang disebutkan 'sesuatu' yang bisa kita berikan, yaitu, kasih sayang, perhatian, tindakan penyelamatan, kebaikan, ide-ide, nasihat, kemampuan, waktu, harapan, cinta, sentuhan dan seterusnya.

Dengan mengambil contoh terjadinya Tsunami di beberapa tempat pada tahun 2004 silam yang benar-benar memanggil banyak orang dan bahkan keterlibatan beberapa negara untuk turun mengambil bagian dalam pemberian. Bahkan pemberian itu begitu berfariasi, di mana bukan hanya dana yang diberikan, tapi banyak hal macam pemberian itu disampaikan kepada mereka yang tertimpa bencana dan memang membutuhkan uluran tangan banyak pihak.

Namun lebih dari itu analisa penulis mengenai memberi tidak hanya berhenti dalam soal tangan di atas dan tangan di bawah sebagai penerima. Namun memberi itu sendiri memiliki dampak. Tentu kepada pihak yang menerima pasti akan memberikan manfaat yang besar, apapapun bentuk pemberian itu. Tapi lebih dari itu memberi itu ternyata memberikan kebahagiaan kepada si pemberi, selain juga diyakini bahwa pemberian itu akan kembali kepada si pemberi.

Sekali lagi pengembalian dalam pemberian ini jangan juga dibatasi oleh hanya sebatas pahala di akhirat. Karena pemberian itu juga akan dirasakan langsung ketika mereka melakukan tindakan memberi. Daftar bukti-bukti diungkapkan oleh penulis yang bisa dirasakan oleh siapapun yang melakukan tindakan memberi. Contoh kecil saja di mana ketika seseorang melakukan pemberian berupa tenaga dengan menjadi sukarelawan, maka akibat pemberian itu juga berdampak kepada kesehatan. Makanya kata penulis, dengan mengutip sebuah jajak pendapat di Negara Inggris yang dilakukan survei mengatakan bahwa, kesehatan orang-orang yang memberi dengan menjadi sukarelawan itu lebih baik ketimbang sebelumnya. Artinya, ini merupakan diet yang tidak dapat diukur dengan cara apapun.

Akhirnya, dapat ditarik pelajaran bahwa memberi itu memberikan keuntungan bukan hanya mereka yang menerima tapi juga kepada mereka yang telah memberi. Apapaun bentuk dari pemberian tersebut. Semoga kita menjadi orang-orang yang memiliki hati untuk selalu siap memberi. Bukan dengan tujuan untuk menerima kembali, tapi karena ikhlas dan kalaupun pemberian itu memiliki dampak maka anggaplah itu sebuah bonus. Semoga!

Kamis, 25 Februari 2021

Ketika Vertigo Menyerang, Ampyun Banget

Ketika Vertigo Menyerang, Ampyun Banget


Bagi orang yang pernah merasakan terserang vertigo, pasti tahu bagaimana tidak nyamannya situasi tubuh. Serangan itu, menurut pengalaman Redaksi yang pernah mengalami vertigo, dimulai dengan sebuah tanda seperti ada suara gasing yang dilepas. Tiba-tiba saja dunia sekitar seperti berputar yang seakan-akan sulit untuk dikendalikan. Beruntung ketika serangan vertigo itu datang Redaksi sedang melakukan kegiatan bersih-bersih untuk sekedar mengeluarkan keringat kecil. Tiba-tiba keseimbangan hilang dan saya berusaha untuk mencari tempat untuk merebahkan diri. 

Bayangan Redaksi saat itu, pengalaman tersebut seperti menjadi akhir hidup di mana nyawa seakan terlepas. Maklum itu pengalaman pertama dan semoga yang terakhir. Vertigo semoga tidak menyerang lagi. Karena dunia sekitar terus berputar seperti dermolen yang sedang berputar kencang di pasar malam. Semuanya berputar. Karena merasa pusing kemudian Redaksi berusaha untuk memejamkan mata serapat-rapatnya, tapi putaran itu terus semakin kencang. Karena saking pusingnya, ingin rasanya mau muntah. Sambil berteriak untuk melepas ketegangan, sambil terus berpegangan pada apapun yang ada di sekitar. Entah berapa detik itu terjadi, tapi akhirnya sedikit demi sedikit mereda. Namun apesnya, setelah mereda beberapa detik, tiba-tiba serangan kedua datang dan kemudian pengalaman pertama terulang.

Sebagai tambahan dari pengalaman redaksi mengalami vertigo, di mana sampai hari ini masih teringat kejadian sebelum vertigo itu menyerang. Malam sebelum kejadian redaksi keasyikan membaca buku hingga larut malam. Dan ketika pagi hari tanpa sarapan terlebih dahulu, dan hanya minum kopi langsung melakukan aktifitas pagi dan dilanjutkan dengan bersih-bersih hingga pukul 12 siang. Tentu saja 

Itulah gambaran bagaimana pengalaman vertigo itu benar-benar tidak mengenakkan. Nah, Redaksi memiliki sebuah buku yang ditulis oleh para pakar baik itu pakar di bidang kedokteran umum maupun dokter spesialis saraf.

Judul         : Bunga Rampai Vertigo

Penulis      : Prof Dr. dr. Sri Utami, Sp.S(K), dr. Rusdy Ghazali Malueka, Ph.D dan dr. Abdul Gofir, Sp.S(K)

Penerbit    : Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Tahun        : Januari 2019 (Cetakan ketiga)

Halaman   : vii + 134 halaman

Memang bila dilihat dari para penulisnya yang akademisi dan praktisi maka isinya akan bisa ditebak bila penjelasannya sangat ilmiah dan berdasarkan berbagai data yang akurat. Selain juga pemaparan berbagai jenis vertigo yang menyerang manusia dengan pendekatan yang bisa dilakukan. Makanya buku ini menjadi buku langka karena memang masih jarang buku-buku bahasan mengenai vertigo yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Makanya buku ini bisa menjadi cara untuk memudahkan khususnya para mahasiswa kedokteran dan calon dokter spesialis dalam mempelajari vertigo.

Bila Anda membaca tulisan membuka artikel ini di mana pengalaman redaksi idebuku.com dalam bentuk cerita, maka kalau membuka buku ini tentu saja jauh berbeda, karena sifatnya ilmiah tadi. Seperti pengertian vertigo dari bahasa aslinya yaitu bahasa Latin vertere, yang artinya memutar-merujuk pada sensasi berputar sehingga mengganggu rasa keseimbangan seseorang, umumnya disebabkan oleh gangguan pada sistem keseimbangan.

Walau demikian bagi orang awam seperti penelaah buku ini, tentu saja bacaan ini akan bermanfaat guna mengetahui analisa para ahli di mana orang yang pernah mengalami vertigo dari segi usia bisa menyerang siapapun. Walaupun bisa diprosen, 25% penderita berusia lebih dari 25 tahun dan 40% dialami oleh mereka yang di atas usia 40 tahun dan 30% pada populasi lebih dari 65 tahun.

Sebagai buku ilmiah tentu dalam pemaparannya juga dijelaskan berbagai jenis-jenis vertigo dan bagaimana vertigo itu berlangsung, cara-cara mengatasinya, serta bagaimana posisi yang benar ketika serangan vertigo itu datang semuanya diungkap dalam buku ini. Semoga bermanfaat, sebelum Anda memutuskan untuk membeli buku ini.

Seperti Apakah Kita Memperlakukan Orang Tua?

Seperti Apakah Kita Memperlakukan Orang Tua?

Pertanyaan ini akan menjadi penting karena itu pulalah yang akan kita alami di kemudian hari ketika menyusul mereka di titik umur tua. Kita tidak sedang membicarakan karma, tapi kita membicarakan sebuah kepastian di mana kalau kita diberikan umur panjang, maka usia tua akan menjadi bagian yang tidak terhindarkan. Disukai atau tidak, usia senja akan menjadi bagian kita yang diberikan umur lebih. Berbicara mengenai usia lanjut, sebenarnya berbicara mengenai perubahan dalam diri manusia. Perubahan dalam banyak hal. Dan buku yang yang sedang ada di tangan Redaksi idebuku.com ini akan mengulas berbagai perubahan yang bakal dialami oleh siapapun manusia yang akan memasuki usia lanjut dengan berbagai aspek.

Judul           : Psikologi Usia Lanjut

Penulis        : Prof. Dr. Siti Partini Suardiman

Penerbit      : Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Tahun         : Tahun 2016 (cetakan ke II)

Halaman    : 280 halaman


Dari sekian banyak buku yang dijajar di rak-rak toko buku, mungkin akan sulit menemukan buku yang membahas mengenai usia lanjut. Entah kenapa, apakah karena tema ini kurang menarik untuk dibahas atau memang banyak orang yang berpikir, "Ah, itu kan bahasan mengenai orang-orang yang sedikit orang memiliki interes. Padahal untuk diketahui saja bahwa ke depan jumlah manusia usia lanjut akan terus meningkat karena terutama meningkatnya bidang kesehatan dan kesejahteraan  sosial yang berdampak kepada meningkatnya angka rata-rata usia harapan hidup penduduk. Artinya, manusia usia lanjut akan semakin banyak kita jumpai.

Kemudian banyaknya usia tua yang semakin panjang itu tentu saja harus disikapi dengan benar dan tepat. Karena kalau tidak, usia lanjut akan dianggap beban. Padahal, seharusnya usia lanjut bila disikapi dengan benar yang tentu dengan memikirkan dengan matang pola yang harus dilakukan untuk menciptakan bahwa usia lanjut bisa menjadi usia yang masih produktif. Dalam hal ini seharusnya pemerintah juga turut memikirkan hal ini dan tidak hanya fokus dengan produktifitas manusia yang masih berada di usia muda. Kalau tidak, maka bisa jadi datang waktunya di mana dana yang semula harus dialokasikan untuk usia muda, tapi karena membludaknya jumlah penduduk usia senja yang tidak disiapkan bisa mengalir untuk dialokasikan kepada usia tua tadi.

Buku ini menjadi sangat penting ketika kita mengerti dan memahami perubahan-perubahan yang terjadi pada manusia lanjut usia supaya mereka tidak menjadi manusia yang terbuang. Lagi pula, kalau kita tidak pernah mengurus bagaimana menyiasati kehidupan usia lanjut ini maka pada waktunya kitapun yang sekarang berada pada usia muda, akan tiba gilirannya untuk masuk ke usia senja dan diperlakukan yang sama seperti kita memperlakukan mereka yang sekarang berada dalam usia tua.

Perlu diingat juga peringatakn buku ini bahwa pembangunan kependudukan atau sember daya manusia  di mana penduduk sebagai modal pembangunan juga harus mengingat bahwa usia lanjut ada di dalamnya. Nah, dengan mengetahui dan mengerti permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh manusia lanjut usia maka kitapun bisa mengantisipasi seluruh persoalan yang muncul. 

Pihak yang seharusnya memiliki kepedulian tinggi terhadap usia lanjut itu setidaknya ada dua yaitu pemerintah dan keluarga di mana usia lanjut berasal. Dalam hal ini pemerintah bukan hanya berurusan dengan masalah usia lanjut berhubungan dengan kesehatan semata, tapi banyak hal lainnya yaitu ekonomi dan masalah psikologi yang tentu berbeda jauh dengan mereka yang berada di usia lanjut. Sementara keluarga-keluarga juga memiliki kepentingan untuk mengerti akan usia lanjut ini, karena bagaimanapun usia muda tidak akan ada bila tidak ada mereka yang sudah lanjut usia, makanya tidak seharusnya kita menutup mata dengan mereka yang menjadi bagian dari keluarga kita yang sudah berusia lanjut.

Akhirnya, kita harus ingat bahwa bagaimanapun kita tidak akan menjadi manusia 'batu' yang selalu muda, dan tidak akan pernah tua. Tetapi, usia lanjut itu akan datang dan tiba dalam setiap kehidupan kita yang sekarang masih muda. Kita hanya menunggu giliran saja. Ingatlah akan ungkapan ini, "Apa yang engkau tabur, engkau akan menuainya juga"


Rabu, 17 Februari 2021

Belajar Blusukan Ala Mark Twain

Belajar Blusukan Ala Mark Twain

 


Blusukan, kata ini menjadi populer ketika kata ini dihubungkan dengan politik di mana ada beberapa tokoh yang melakukan pendekatan kepada masyarakat dengan cara blusukan. Tentu saja kalau menilik kepada arti blusukan itu sendiri menurut Badan Bahasa Kemdikbud, blusukan berasal dari bahasa Jawa yaitu blusuk yang mendapat akhiran an yang artinya masuk-masuk ke tempat tertentu untuk mengetahui sesuatu. Menariknya buku yang sedang ada di Meja Redaksi idebuku.com ini sebuah buku karangan Mark Twain yang oleh Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama diterjemahkan judulnya dalam bahasa Indonesia dengan kata Blusukan. Sementara dalam buku aslinya berjudul Roughing It. Maklum dari sisi isi buku memang menggambarkan kegiatan dari makna dari blusukan tersebut.


Judul             : Roughing It (Blusukan)

Penulis          : Mark Twain

Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun Terbit : 2017

Jalaman        : 682 halaman

Membaca buku ini kita serasa dibawa kepada sebuah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain dengan tempat yang situasinya satu dengan yang lain berbeda. Sehingga kita tidak akan merasa bosan menyelesaikan membaca buku ini dari bab ke bab. Pengamatan yang detail mengenai keadaan sebuah daerah dari hal-hal yang sifatnya besar dan menyeluruh sampai kepada hal-hal yang bersifat kegiatan kecil. Dengan ditambah bumbu-bumbu yang menjadikan sebuah lokasi menjadi hidup karenanya.

Penjelasan detail itu sendiri meliputi banyak hal, baik daerah dengan lokasi-lokasi yang khusus sampai kepada orang-orang yang berkegiatan di dalamnya semuanya terekam sangat enak untuk diikuti. Belum lagi di dalamnya terkadang ada drama-drama kecil di mana penggambaran kejadian nyata benar-benar memberi gambaran komplit sebuah peristiwa. Drama yang dimaksud bukanlah hal-hal yang dikarang, tapi drama-drama kehidupan yang dituturkan Mark Twain terkadang lucu dan menjadikan buku ini menarik minat untuk diselesaikan dibaca.

Sebenarnya Mark Twain sendiri menulis buku ini berdasarkan pengalamannya dalam perjalanan yang bukan dilakoni khusus, tapi perjalanan tersebut adalah karena ia mengikuti kakaknya yang menjadi Tuan Sekretaris Nevada yang ditugaskan ke berbagai daerah. Awalnya ia hanya ingin melakoninya selama tiga bulan saja, tapi rupanya hal tersebut terus berlangsung sampai tujuh tahun. Tempat yang satu pastilah berbeda dengan tempat yang lain dengan berbedaan kultur, kebiasaan dan kehidupan sebuah daerah yang tentu menjadikan buku ini seperti memberikan informasi yang detail mengenai keadaan tempat-tempat tersebut di masanya. Contohnya bagaimana ia mengamati kehidupan orang-orang Indian, atau bagaimana ia menyaksikan kehidupan orang-orang Mormon pada jaman awal aliran tersebut. Semuanya menjadi informasi yang menarik.

Namun buku ini sebenarnya memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi siapapun yang sedang demam melakukan blusukan dengan tujuan-tujuan untuk mengetahui kebutuhan masyarakat. Mengapa? Karena dengan belajar dari cara Mark Twain menganalisa sebuah daerah akan memberikan informasi yang lengkap untuk kemudian ditindaklanjuti dengan tindakan selanjutnya. Jadi, Mark Twain telah mengajarkan bagaimana mengetahui persoalan sebuah masyarakat sebenarnya dan bukan hanya mendengar dari satu pihak, tapi berdasarkan pengamatan langsung. Dan dari pengamatan itulah yang seharusnya dilakukan dalam blusukan.

Misalnya saja ketika Mark Twain sedang mengamati orang-orang Mormon yang bermarkas di Great Salt Lake City, ia bukan hanya mengumpulkan informasi yang sudah diterimanya sejak lama mengenai orang-orang Mormon tersebut, tapi ia juga mengamati sampai ke persoalan-persoalan yang terjadi dalam kehidupan orang-orang Mormon tersebut dalam keseharian. Sehingga informasi tersebut memberi gambaran jelas dari kehidupan, kebiasaan, tradisi, pantangan-pantangan dari kelompok tersebut. Dan informasi besar akan menjadi lengkap karena detail yang mengikutinya.


Benar Ni, Siap untuk Dikritik?

Benar Ni, Siap untuk Dikritik?

                                                       Sumber: Flickr

Beberapa waktu terakhir ini tema kritik menjadi perbincangan banyak kalangan di Tanah Air setelah Presiden RI Joko Widodo mempersilahkan kepada khalayak untuk melakukan kritik kepada pemerintah bila memang perlu untuk dikritik. Hal tersebut disampaikan dalam acara Hari Pers Nasional beberapa waktu lalu. Seperti biasa yang pro dan yang kontra selalu meneruskan ide kritik tersebut untuk menjadi perdebatan di ranah publik. Tokoh-tokoh Nasional yang pro dan yang kontra juga tidak tinggal diam juga ikut meramaikan. Sebagai sebuah dinamika politik di mana kita berada di alam demokrasi yang luar biasa saat ini tentu menjadi sangat menarik ketika kita terjemahkan pidato Jokowi tersebut sebagai sesuatu yang sangat penting. Intinya pemerintah tidak akan anti kritik.

Tapi benarkah pemerintah benar-benar memberi ruang seluas-luasnya bagi mereka yang kritis terhadap apa saja yang telah dicapai oleh pemerintah RI? Walaupun di sisi lain ada saja pihak-pihak yang menganggap apa yang dikatakan oleh Jokowi itu untuk pemanis bibir saja. Supaya kita tidak terlalu jauh masuk ke dalam ranah kontradiksi dan perbincangan dunia politik kita mengenai kritik terhadap pemerintah, saat ini sebuah buku menarik mungkin memiliki korelasi yang baik dengan masalah kritik ini.

Judul        : Saya Benci Kritik!

Penulis     : Listiani Aslim, MBA., CBA., CMHA

Penerbit   : Penerbit ANDI, Yogyakarta

Tahun       : 2013

Halaman   : 150 halaman

Benarkah kita memang selalu siap untuk dikritik? Mungkin sebaiknya baca dulu buku ini supaya kita tidak mudah menjawab ia atau tidak. Soalnya dalam kehidupan nyata sehari-hari sebenarnya bisa saja ketika kritik datang, reaksi kita langsung keluar berbagai pikiran yang bisa negatif kepada sang pengeritik. Memang dengan mudah kita mempersilahkan, silahkan sampaikan kritik, kami senang menerimanya. Menulis himbauan tersebut memang semudah kita mengetik, tapi ketika kritik datang, siapkah kita mendaur ulang apa yang sudah kita kerjakan. Kata penulis buku ini, "kritik itu adalah hal yang positif, selama kritik tersebut tidak ditujukan kepada saya. Karena ketika ada kritik yang ditujukan kepada saya, mendadak kritik tersebut berubah menjadi suatu hal yang buruk, menakutkan dan patut dibasmi keberadaannya."

Terkadang kritik itu bisa merontokkan pembawaan tenang diri seseorang. Biasanya tampil percaya diri, tegap menghadapi keadaan, hebat menyampaikan presentasi, lancar menyampaikan ide, dan bisa menyembunyikan perasaan gugup, takut, gemetar dan seterusnya, tapi begitu kritik datang, semuanya bisa berubah. kebencian muncul, kecurigaan datang tiba-tiba, kekecewaan menyelinap dalam hati, kesedihan menyusup pelan-pelan dan kegelisahan datang tanpa diundang. Bila hal itu terjadi, akui saja bahwa kita tidak suka dikritik, kita benci kritik.

Tapi, tentu tidak fair bila kita hanya melihat dari sisi orang yang dikritik. Sebab pada akhirnya kita juga harus melihat, apakah sebuah kritik bertujuan untuk membangun, atau kritik itu memang punya hidden agenda di mana tujuannya untuk meruntuhkan. Memang di berbagai lini kehidupan, kritik sangat dibutuhkan. Tanpa kritik maka sebuah keadaan akan tetap dan statis. Tapi dengan kritik, maka hal tersebut akan membawa kepada perubahan demi perubahan.

Coba perhatikan bahwa kritik itu bisa saja memiliki muatan untuk menyatakan kesalahan. Namanya manusia tentu tidak ada yang sempurna, maka kritik akan mengingatkan kita supaya apa yang salah itu diperbaiki. Kritik juga bisa menyatakan perbandingan antara "sebuah hal" dengan "hal lain" yang sama tapi dianggap lebih baik. Maka kritik bisa muncul supaya 'sebuah hal' itu menjadi lebih baik lagi dan tidak merasa puas dengan keadaannya sekarang. Kritik juga berhubungan dengan evaluasi. Sebuah gagasan yang sudah dijalankan tanpa evaluasi maka dianggap sebagai hal yang tetap dan tanpa ada perkembangan. Tapi bisa juga kritik itu menjadi tidak obyektif ketika berhubungan dengan penyerangan pribadi. Dalam hal ini obyek kritik bukan pada apa yang dikerjakan, tapi siapa yang mengerjakan. Dan kritik yang paling baik adalah kritik yang akan menambah wawasan serta pilihan bagi orang lain.

Memang berbicara mengenai kritik banyak hal yang menyertainya. Seperti cara penyampaian kritik, waktunya dalam mengkritik, gagasan baru ketika melontarkan kritik, bukan hanya mencari celah dari obyek yang dikritik, dan bahasa yang digunakan juga menjadi bagian-bagian penting ketika menyampaikan kritik. Akhirnya buku ini akan menolong kita untuk menjadi pengeritik yang baik, tapi bukan hanya itu saja, bagaimana menjadi orang yang siap untuk dikritik.

 

Kamis, 11 Februari 2021

Betapa Berharganya Tatapan Matamu

Betapa Berharganya Tatapan Matamu


Kalau Anda sedang berbicara dengan orang lain, ke manakah arah Tatapan Mata Anda tertuju? Menunduk? Mendangak? Mengarahkan ke kanan atau ke kiri? Atau ke arah langit atas? Menurut Michael Ellsberg, yang benar itu ketika melakukan interaksi apapun dengan orang lain itu pandangan mata Anda seharusnya difokuskan kepada mata lawan interaksi. Usahakan ada kontak mata antara Anda dengan lawan interaksi Anda. Mengapa demikian? Karena di dalam sikap melakukan kontak mata itulah ada kesuksesan, di dalam kontak mata Anda itu ada faktor semakin mempererat hubungan Anda, dan di dalam kontak mata itulah Anda bisa mempererat usaha apapun yang sedang Anda jalankan. Setidaknya inilah yang ingin disampaikan oleh penulis buku yang ingin diperkenalkan oleh Redaksi idebuku-com.

Judul           : The Power of Eye Contact

Penulis        : Michael Ellsberg

Penerbit      : Ufuk Publishing House, Jakarta

Tahun          : Maret 2012 (Cetakan I)

Halaman      : 396 halaman


 Gagasannya mungkin sederhana yaitu bagaimana dalam sebuah hubungan, mata menjadi kunci keberhasilan hubungan itu sendiri. Manfaatnya bisa dipraktekkan dalam banyak sisi. Sisi bisnis, sisi percintaan, sisi keberhasilan sebuah hubungan dan seterusnya. Jadi, buku ini ingin menyampaikan bagaimana sebuah tatapan itu menentukan. Memang, mungkin tidak semua orang bisa merasakan manfaat besarnya sebuah tatapan mata. Mungkin karena banyak faktor. Faktor budaya, faktor psikologis dan seterusnya yang memungkinkan bagi sebagian orang sulit untuk melaksanakan tatapan mata ini.

Makanya ketika ada pertanyaan, apakah pentingnya tatapan mata ini bersifat universal? Penulis menghindari pengecualian-pengecualian di mana ada sebagian orang karena latar belakang budaya bisa jadi dianggap tidak sopan untuk menatap langsung lawan bicaranya. Atau juga ada orang-orang tertentu oleh karena faktor psikis yang memiliki ketidakmampuan untuk menatap mata lawan bicara oleh karena datang dari dalam jiwanya. Namun demikian, penulis berusaha untuk membahas berbagai kelebihan dan manfaat melakukan kontak mata ketika berhubungan dengan orang lain. Dengan melakukan berbagai pendekatan analisis bagaimana kontak mata telah menjadikan seseorang mengalami keberhasilan.

Kontak mata secara khusus disampaikan penulis bisa mengubah cara berpikir mengenai seseorang. Dengan mengambil contoh Presiden Amerika Serikat US, Bill Clinton yang sebagian orang selain mencintainya, tapi juga tidak sedikit yang membencinbya dan memiliki presepsi kurang baik atau lebih tepat tidak menyukai Presiden Bill Clinton. Namun seseorang yang diceritakan tadi ketika suatu kali bertemu langsung dengan Clinton, rupanya merontokkan kebencian itu menjadi sangat menyukainya. Ingin tahu kenapa? Karena tatapan mata Bill Clinton berhasil mengubah setiap orang bila bertemu secara langsung dengannya. Bahkan lebih jauh sebuah postingan blog berita selebritis WENN mengatakan, Aktris Gillian Anderson telah menemukan rahasia di balik daya tarik seksual (sex appeal) mantan presiden Bill Clinton - menghidupkan kontak mata.

Kontak mata begitu penting untuk dilakukan ketika melakukan sebuah interaksi dengan orang lain. Kenapa? Di antaranya adalah karena di dalam tindakan kontak mata ada sebuah perhatian bagi lawan bicaranya. Tentu saja perhatian ini penting ketika dunia di sekitar kehilangan perhatian. Di dalam kontak mata ada emosi yang menyertainya, ada hasrat dan keinginan yang berbicara.

Kontak mata juga sangat penting bukan hanya ketika melakukan kontak hubungan dengan orang lain secara persoanal face to face. Tapi bagaimana pentingnya sebuah kontak mata dengan orang lain di area publik seperti ketika melakukan presentasi, pidato, ceramah dan seterusnya. Dalam public speaking kontak mata menjadi begitu diperlukan guna menarik perhatian setiap orang yang menjadi pesertanya. Makanya buku ini akan menjadi sangat bermanfaat bagi siapapun untuk mengembangkan diri dalam menjalin hubungan dan interaksi dengan orang lain. Jadi, silahkan Anda membaca buku ini dan ambil pelajarannya yang sangat penting mengenai kontak mata.

Selasa, 09 Februari 2021

Pendiri Google ini Terinspirasi Oleh Tesla

Pendiri Google ini Terinspirasi Oleh Tesla

 

Kalau sedang ramai pembicaraan mengenai mobil listrik dan energi yang diproduksi oleh Tesla Inc, yang dikenal ramah lingkungan digadang-gadang menjadi mobil masa depan yang diunggulkan. Bahkan mobil yang tidak murah itu kini sudah bisa melantai di jalanan ibukota. Tapi ternyata nama Tesla itu sendiri diambil dari nama seorang bapak ilmu fisika modern dan tekhnik kelistrikan bernama Nikola Tesla. Tokoh Penemu Nikola Tesla tersebut rupanya telah menginspirasi Larry Page pendiri Google saat dirinya berusia 12 tahun di saat ia membaca buku biografi Tesla. Harapan dan cita-citanya, dirinya bisa sekreatif Tesla dan melakukan hal-hal besar seperti tokoh yang dikaguminya itu. Makanya di kemudian hari tepatnya tahun 2006 lalu tidak heran bila produksi mobil sport produksi Tesla Motors Inc, electric uber-chic yang memasuki seri ketiga senilai US $40 juta pendanannya salah satunya datang dari pendiri Google Sergey Brin dan Lerry Page.

Nah, buku yang ada di tangan Redaksi idebuku.com hari ini memang lebih bercerita mengenai sejarah hidup dua pendiri Google yaitu Sergey Brin dan Lerry Page yang ditulis sangat detail oleh penulis buku best seller Janet Lowe. Dan membaca buku ini setidak-tidaknya memiliki gambaran sedikit bagaimana latar belakang para pencetus situs pencarian yang hampir mayoritas orang sudah begitu bergantung kepadanya yaitu Google. Tapi juga pola pikir, sikap, pengaruh, pandangan, cara mengelola, managemen pengelola situs pencarian tersebut yang begitu mengalir dirangkum dengan baik oleh penulis buku hebat ini.

Judul             : Google Speaks: Rahasia Pengusaha-Miliarder tersukses di Dunia, Sergey Brin dan Larry Page

Penulis          : Janet Lowe

Penerbit        : Metagraf, Creative Imprint of Tiga Serangkai, Solo

Tahun Terbit : Februari 2012

Halaman       : 317 halaman

Memang kehadiran Google mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Situs pencarian yang diawali oleh dua orang bertangan dingin ini benar-benar sangat terasa manfaatnya bagi kehidupan manusia. Situs yang menjadi perusahaan yang kokoh bertahan dalam situasi apapun termasuk ketika perekonomian dunia menurun. hal tersebut tentu saja karena antisipasi yang sudah dilakukan oleh Google dengan langkah-langkah brilian. Sehingga tidak mempan oleh terpaan apapun. Tapi bukan hanya itu, Google dengan segala inovasinya terus menghasilkan produk-produk yang mencengangkan.

Pada posisi puncak itulah Google telah mendapat banyak pujian karena perannya dalam banyak bidang bagi kemaslahatan umat manusia. Dengan tenaga-tenaga ahli dalam berbagai bidang Google seperti ingin menjawab semua keinginan manusia, sehingga keberadaanya dicari oleh banyak instansi, termasuk sekelas Pentagon yang memintanya untuk mengatur tekhnologi informasinya supaya lebih baik. 

Kiprahnya dalam momen-momen besar Google hadir dengan tujuan semuanya bisa berjalan dengan baik. termasuk bagaimana Google hadir ketika pemilihan presiden US sebagai pihak yang tidak memihak kepada kandidat tertentu seperti pada konvensi nasional baik di Partai Republik maupun Partai Demokrat. Walaupun tentu saja bukan semua pihak merasa senang, karena ada faktor-faktor lainnya seperti masalah keamanan beberapa pihak yang menuai suara-suara negatif. Tapi faktanya kepuasan para pengguna Google lebih dominan.

Nah, buku ini akan menjadi sangat bermanfaat bagi siapapun ketika kita bisa memetik pelajaran berharga dari perusahaan Google dan pikiran-pikiran yang melatarbelakangi orang-orang yang membangun dan mengembangkannya. Karena dari situlah buku ini bisa menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga. Tapi lebih dari itu kita akan menjadi tahu latar belakang kedua pendiri Google ini. Masa kecil dan cita-cita yang  menyertainya. Semuanya bisa didapatkan dari buku luar biasa ini.

Produk Anda Ingin Terkenal?

Produk Anda Ingin Terkenal?

Sumber Gambar: Flickr

Getok tular sebuah kata dari bahasa Jawa yang arti sederhananya adalah dari mulut ke mulut. Namanya getok tular maka subyek yang menjadi tema dari getok tular itu sendiri akan seperti air bah yang sulit untuk dibendung. Akibat yang ditimbulkan juga bisa saja positif tapi juga bisa negatif. Namun dalam dunia usaha untuk menaikkan popularitas sebuah merk atau produk maka getok tular menjadi sebuah cara yang luar biasa. Luar biasa dalam membuat produk populer kepada dua kemungkinan yaitu positif, tapi juga sebaliknya bisa menjadi negatif. Gagasan getok tular rupanya bukan hanya menjadi gagasan oramng Jawa yang melahirkan istilah tersebut, tapi rupanya getok tular dianggap sesuatu yang penting dalam dunia usaha. 

Idebuku.com menentukan buku yang ingin diulas yang isinya menyinggung komunikasi getok tular menjadi pengantar popularitas merek. Bahkan daya ledaknya bisa mengalahkan iklan yang tayang di media. Apalagi saat ini ledakan media sosial mempermudah terjadinya getok tular tersebut. Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, Whatsapp, Telegram dan seterusnya. Eit, tapi jangan hanya fokus dengan model getok tular online, getok tular offline tidak kalah pentingnya dan bahkan hal ini lebih real ketimbang apa yang sedang viral di jagad online. Dengan menyitir sebuah penelitian oleh Keller Fay Group yang menyebut bahwa getok tular dengan cara online itu terjadi hanya 7 persen. Selebihnya secara offline.

Sebuah buku menarik mengenai konsep getuk tular yang ditulis oleh seorang Asisten Professor of Marketing di Wharton School, University of Pennsylvania, Amerika Serikat.

Judul Buku    : Contagious: Rahasia di Balik Produk dan gagasan yang Pepuler

Penulis          : Jonah Berger

Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun Terbit : 2014

Halaman       : 297 halaman

Beberapa bulan yang lalu dalam blog lain yaitu makkellar.com Redaksi mencatat pengalaman mengenai getok tular yang pernah dijumpai ketika berkunjung ke sebuah kota di Jawa Timur. Namun apa yang dikisahkan tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama karena faktor waktu yang mengujinya. Tentu saja banyak usaha yang tanpa menggunakan trik tips untuk menjadikan produknya menjadi buah bibir dan dijadikan obyek getok tular. 

Namun dalam buku ini penulis berkisah mengenai sebuah usaha yang dimulai dengan pancingan supaya produknya menjadi buah bibir. Produk tersebut adalah sebuah steakhouse yang menjual cheesesteak yang biasanya dijual dengan hanya  empat atau lima dollar tapi produk cheesesteak dijual dengan $100. Tujuannya satu yaitu menarik perhatian orang. Tentu saja produknya dibuat seenak mungkin dan ternyata kesan pembeli benar-benar luar biasa. Dan lebih dari itu semua produk tersebut menjadi bahan perbincangan yang otomatis di dalamnya terjadi apa yang disebut dengan getok tular.

Memang menciptakan produk yang menimbulkan gagasan getok tular tersebut setidaknya ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu, fokus dan pelaksanaan. Maklum, untuk menciptakan getok tular itu sendiri harus mengalahkan ribuan tema pembicaraan dalam keseharian. Bayangkan, bila kita bertemu seseorang, tema pembicaraan apa yang menjadi fokus salah satunya? Apakah produk Anda atau produk orang lain yang menjadi perhatian?

Dalam buku inilah penulis seperti membuka rahasia-rahasia bagaimana sebuah produk muncul dan menjadi bahan perhatian pembicaraan serta hal tersebut sambung-menyambung dari mulut ke mulut. Jadi, lebih baik silahkan membaca buku ini bila saat ini Anda ingin menjadikan produk Anda jadi bahan getok tular. Semoga!




Bisakah KITA Memberitahu Anak Tentang Seks?

Bisakah KITA Memberitahu Anak Tentang Seks?


Sengaja saya menggunakan huruf besar pada kata KITA dalam judul ini karena tentu kalau saya ingin mengangkat masalah menjelaskan seks kepada anak bagi KITA orang Indonesia rasanya masih berada dalam wilayah abu-abu. Kalau bisa kita sebagai orang tua 'menghindar' membicarakan seks kepada anak apapun bentuknya. Entah itu dalam bentuk langsung, di mana kita menjelaskan mengenai wilayah-wilayah 'tabu' maupun secara tidak langsung di mana pihak lain yang menjelaskan kepada anak. Semuanya masih 'tidak terlalu jelas' untuk dikonkritkan. Jujur harus diakui bahwa ketika berbicara masalah seks maka muncul berjibun pertanyaan, 

  • bagaimana bentuknya pengajaranannya
  • materinya apa
  • bagaimana menjelaskannya
  • dari mana memulainya
  • siapa yang bertanggung jawab menjelaskan
  • kapan yang tepat diajarkan

Akhirnya yang terjadi adalah, tidak sedikit yang apatis. Biarlah wilayah pendidikan seks untuk anak-anak kita kita lewati saja. Atau dihindari saja. Memang pihak yang mendukung adanya pendidikan seks bagi anak-anak sedari awal itu bukan berarti mengajarkan bagaimana proses melakukan hubungan layaknya suami dan istri. Namun masyarakat kita sudah kadung menutup rapat-rapat kotak informasi mengenai seks itu untuk diketahui oleh anak-anak. Artinya wilayah pendidikan seks dianggap tabu.

Memang harus diakui bahwa pendidikan seks bagi anak-anak memiliki tujuan yang baik bagi masa depan anak dalam perjalanan hidup mereka. Ada manfaat besar ketika pendidikan seks itu diajarkan dengan benar. Namun seringkali kata seks itu sendiri sudah menjadi momok yang menakutkan sehingga lebih memilih apatis saja ketika disodorkan mengenai pendidikan seks kepada anak. Nah, lepas dari kontradiksi antara setuju dengan yang apatis serta yang menentang mengenai pendidikan seks bagi anak, Redaksi idebuku.com mendapatkan sebuah buku dari penjual buku bekas.


Judul            : How and When to Tell Your Kids About Sex (Bagaimana dan kapan Memberitahu Anak Anda Mengenai Seks)

Pengarang   : Stanton L. & Brenna B. Jones

Penerbit       : Penerbit Momentum (Momentum Christian Literature), Surabaya

Tahun Terbit: November 2006 (Cetakan 2)

Halaman      : 450 halaman

Pesan yang bisa ditangkap dari penulis buku luar biasa dan berharga ini adalah pendidikan seks itu bukan hanya sekedar masalah penyediaan materi informasi, tapi yang lebih penting dari itu semua adalah bagaimana membentuk karakter anak secara sistimatis. Jadi dengan karakter itulah nantinya kita bisa mengetahui bagaimana respon siapa diri mereka ketika berhadapan langsung dengan masalah seks itu. Jadi pendidikan seks itu tidak berhenti kepada bagaimana menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan seksualitas dan seks itu sendiri tapi bagaimana membentuk karakter anak untuk bisa menentukan dalam berpikir dan bertindak ketika mereka berhadapan langsung dengan persoalan seks.

Nah, bila mengacu kepada situasi saat ini di mana anak-anak jaman ini semudah mendapatkan pisang goreng untuk mendapatkan informasi seks dari berbagai sumber termasuk media internet. Karena bagaimanapun anak-anak kita sekarang ini hidup di mana obsesi mengenai seks itu begitu tinggi. Dan hal tersebut mewarnai di segala bidang serta di segala wilayah. Film, acara-acara TV, iklan-iklan, video klip, berita di media online, majalah, buku dan sebagaimanya dan sebagainya. Nah, bila yang ditangkap anak-anak kita itu lebih kepada informasi yang destruktif dengan membentuk pola pikir yang keliru dalam soal seks itu sendiri, maka bisa jadi hal tersebut membentuk respon yang negatif juga.

Nah, buku yang luar biasa yang berbicara mengenai pendidikan seks yang berhenti pada bagaimana memberikan pendidikan seks itu kepada anak-anak, atau hanya stagnan materi yang paling baik apa yang lebih tepat diberikan kepada anak-anak, namun lebih dari pada itu bagaimana membangun karakter positif dalam diri anak, sehingga dengan sendirinya mereka melindungi diri mereka sendiri dari konsekwensi negatif dari penyalahgunaan seks secara negatif.

Jadi buku ini ingin mengajak kita sebagai orang tua, atau siapapun yang memiliki respek dengan masalah pendidikan seks terhadap anak untuk membentuk diri anak supaya belajar untuk bertanggung jawab dengan keputusannya sendiri termasuk ketika menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan seks. Nah, sebagai buku yang lebih banyak mengambil sudut pandang Kristen sebagai dasar pembentukan etika dalam pendidikan seks terhadap anak ini berisi berbagai saran kepada orang tua dan menyajikan prinsip-prinsip penting bagi pendidikan seks terhadap anak. Buku yang sangat berharga untuk dimiliki dan dibaca.

 

Jumat, 05 Februari 2021

Belajar Menjadi Kaya dengan Cara China

Belajar Menjadi Kaya dengan Cara China

 


Mendekati Hari Raya Imlek di mana tahun ini jatuh pada tanggal 12 Februari tentu kita langsung mengingat kawan-kawan, teman, saudara, handai taulan, tetangga yang berasal dari etnis China. Tahun Baru Imlek ini dalam kalender China, Tahun 2572 yang merupakan Tahun Kerbau Logam. Karena di berbagai tempat termasuk di Indonesia mereka dapat hidup dan beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya yang bisa kita jumpai di berbagai tempat. Sehingga kita bisa berjumpa dengan mereka dalam berbagai bentuk kepentingan. Seperti interaksi jual beli, interaksi lewat keagamaan, pendidikan dan ragam interaksi lainnya. Redaksi Idebuku.com merasa perlu secara khusus membongkar rak-rak buku dan mencari bacaan yang berhubungan dengan budaya atau etos kerja dan lain sebagainya dari teman-teman Tionghoa ini. Dan buku yang didapatkan adalah buku khusus yang berbicara mengenai bagaimana kita bisa belajar menjadi kaya dengan cara China. 


Judul              : Jadi Kaya Cara China

Pengarang     : Michael Justin Lee

Penerbit         : Bhuana Ilmu Popular (Kelompok Gramedia)

Tahun Terbit  : Jakarta, 2013

Halaman        : 216 halaman

Tidak dapat disangkal bahwa ekonomi negeri China memiliki perkembangan yang sangat pesat dan bahkan dianggap melampui negara-negara maju lainnya. Bahkan IMF memperkirakan tahun 2021 ini mengalami pertumbuhan 8,1%. Tentu saja ini domainnya para ekonom untuk membahasnya, tapi peningkatan yang luar biasa di saat-saat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini sesuatu yang luar biasa. Kalau kita mendengar mengenai negeri China, sebenarnya negara tersebut sudah disebut-sebut dengan sebutan positif. Misalkan saja, kata "tuntutlah ilmu sampai ke negeri China." Atau seperti kata pendahuluan dari buku yang ada di tangan Redaksi ini mengutip apa yang disampaikan oleh Napoleon Bonaparte, "Biarkan China tidur, karena ketika ia bangun, ia akan mengguncang dunia."  Walaupun tidak tahu bagaimana Napoleon ketika melihat negeri China kala itu, tapi tentu saja, beberapa tahun belakangan banyak orang baik itu dalam dunia bisnis maupun politik, merasakan apa yang diramalkan oleh tokoh dunia tersebut.

Amerika Serikat sendiri sebagai negara adi kuasa merasa kewalahan dengan perkembangan China tersebut, sehingga pada jaman Presiden Trump berbagai usaha dilakukan untuk membendung perkembangan yang dilakukan oleh China sehingga beberapa kali mengalami ketegangan dari kedua negara tersebut. Tapi itu urusan negara. Di berbagai negara juga orang-orang China mengalami keberhasilan yang benar-benar memukau. Makanya, ketimbang kita hanya menjadi penonton untuk menyaksikan keberhasilan orang lain, kenapa kita tidak belajar dari mereka, bagaimana cara mereka bekerja. Kunci utamanya adalah kerja keras.

Makanya penulis buku ini menyampaikan pesan yang mewarnai seluruh isi buku ini yaitu, siapapun dapat mencapai kesuksesan sama seperti yang diraih orang China di manapun berada. Memang terkadang kita ini sering menyaksikan dan menjadi perenungan atas pertanyaan, "apa yang membuat  sebagian orang lebih makmur daripada yang lain?" ara ahli ekonomi dengan berbagai teorinya mengungkapkan banyak hal yang salah satunya adalanya modal. Namun modal itu bukan hanya bicara mengenai dana, tapi manusia itu sendiri sebenarnya juga modal yang di dalamnya adanya keterampilan, pengetahuan untuk menghasilkan nilai ekonomi. Tetapi dengan mengutip pemenang hadiah Nobel, Gery Becker mengatakan, pada akhirnya, sikap perilaku manusialah yang mengendalikan takdir ekonomi kita. Jadi dalam situasi apapun manusia itu, termasuk mereka yang miskin sekalipun pastilah memiliki bentuk modal, setidaknya manusia itu sendiri untuk belerja. Nah, menurut penulis, orang China yang merantau di berbagai tempat termasuk di Amerika di mana penulis bermukim, sering tidak punya modal, yang ada yaitu mereka mau bekerja keras.

Nah, etos kerja orang China yang pekerja keras itu bukan datang dari kebiasaan-kebiasaan individu. Tapi pola hidup yang ditanamkan sejak kecil sebagai hasil dari budaya China untuk bekerja keras yang membentuk mereka. Akar nilai-nilai yang ditanamkan di dalam keluarga orang-orang China itulah yang telah membentuk mereka menjadi pekerja keras. Dan hal tersebut dibawa ke berbagai tempat di mana mereka berada. Nilai-nilai itu bisa dilihat dari prinsip-prinsip tokoh terkenal mereka yaitu Konfusius dengan pengajaran pengembangan moral diri yaitu fokus pada diri sendiri di mana kita bisa meningkatkan jiwa manusia ke posisi yang lebih tinggi dari pada posisi sebelumnya.

Jadi mereka yang menjunjung kebijaksanaan-kebijaksanaan kuno dengan segala pengajarannya benar-benar merasuk dalam diri orang-orang China yang kemudian dipraktekkan di dalam kehidupan sehari-hari termasuk ketika dalam bekerja. Dan hal tersebut sebenarnya bisa duterapkan oleh siapa saja yang ingin mencapai kesuksesan di dalam hidup ini. Jadi buku ini sayang kalau dilewatkan begitu saja. Ketimbang kita hanya melihat keberhasilan mereka dan terpana dengan cara kerja mereka, mengapa kita tidak mencoba belajar kepada mereka.

Sekali lagi, modal mungkin sangat penting untuk kita melakukan nilai-nilai ekonomi. Namun demikian setiap kita sebenarnya memiliki modal, setidak-tidaknya satu modal yaitu diri kita, badan kita, tubuh kita, pikiran kita. Kita bisa melakukan pekerjaan apapun yang kita miliki dengan ketekunan. Dan percayalah, ketekunan tidak mungkin akan menghasilkan apapun. Jadi belajarlah menjadi kaya dan makmur kepada orang China. 

GONG XI FAT CAI


Rabu, 03 Februari 2021

100 Kiat Memperkuat Cinta

100 Kiat Memperkuat Cinta

 

Setiap memasuki Hari Valentine (Valentine Day) sebagian orang menggunanakan momen tersebut untuk mengutarakan cinta dan kasih saya kepada orang lain. entah itu kekasih, istri, keluarga dan orang-orang yang sangat berarti di dalam hidup seseorang. Memaknai Hari Valentine yang memiliki dua versi yaitu versi St. Valentine dan Claudius II di mana Caludius II kaisar yang kejam yang ingin memiliki tentara yang kuat sehingga melarang tentaranya memiliki istri, dan Valentine hadir menantang hal tersebut. Versi kedua adalah adanya Festival Lupercalia dalam tradisi Roma kuno yang dihubungkan dengan hubungan seks. Karena dianggap tidak menunjukkan tidak bermoral, maka akhirnya diubah menjadi penghormatan kepada Dewi Kesuburan. Makanya terkadang Valentine Day menjadi polemik bagi sebagian orang.

Terlepas dari polemik tersebut, namun sebenarnya kita bisa memaknai sebuah Valentine Day sebagai momen yang bisa dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi tema dari perayaan itu sendiri yaitu Cinta dan kekuatannya. Nah, redaksi Idebuku.com mencoba untuk memilih sebuah buku yang tampilan sampul depannya penuh dengan tulisan dan tentu saja berwarna merah membara, seperti lambang cinta yang sangat membara.

Buku             : Don't Sweat the Small Stuff in Love (Jangan Meributkan Masalah Kecil dengan Pasangan Anda

Penulis          : Richard Carlson, PhD dan Kristine Carlson

Penerbit        : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Tahun            : Tahun 2009 (Cetakan sembilan)

Halaman        : 281 halaman

Dalam perjalanan sebuah hubungan tentu saja tidak hanya dilewati dengan keindahan dan keserasian satu dengan yang lain. Bagaimanapun cocoknya hubungan tersebut. Pastilah di tengah jalan ada saja onak duri dan rintangan yang menyertainya. Terkadang onak duri dan rintangan itu menjadi bumbu tapi juga bisa menjadi penghalang bagi keberlangsungan hubungan tersebut. Menjadi bumbu ketika rintangan itu dihadapinya dengan cara-cara yang baik, tapi bisa menjadi racun yang mematikan bila kita menyikapinya dengan keliru.

Ricard dan Kristine Carlson menyiapkan 100 kiat yang bisa menjadi formula bagi keberlangsungan hubungan itu sendiri sehingga rintangan dan tantangan itu bukan menjadi penghalang, tapi justru menjadi sebuah pelajaran yang baik untuk menata kembali hubungan itu supaya menjadi lebih baik. Cara-cara sederhana yang ditawarkan oleh penulis buku bagus ini bertujuan supaya menghindari kebiasaan-kebiasaan keseharian kita yang bisa menjadi ancaman kehancuran hubungan itu sendiri.

Memang kita sering kali menjadikan sebuah romantisme di cerita-cerita fiksi serta sinetron yang kita tonton menjadi ukuran dan kebenaran yang kita bangun bahwa hubungan itu diangankan seperti cerita-cerita tersebut. Tapi ketika kita praktek langsung maka saat-saat muncul sakit hati, rasa amarah, rasa tidak aman, cemburu, tersinggung, orang ketiga dan deretan-deretan tantangan yang bisa menjadi pemicu munculnya friksi dan konflik dalam hubungan tersebut.
 
Hal ini bukan saja terbatas bagi mereka yang sudah lama menjalin hubungan itu sendiri, tapi bahkan dalam hubungan yang baru dibangun saja bisa saja dihinggapi rasa kebingungan karena pasangan kita yang kita cintai berubah total dalam menghadapi respon kita. Maka buku luar biasa ini bisa menjadi hadiah menarik dan berharga bagi kita sendiri.
Contohnya saja ketika kita membangun komunikasi, penulis memberikan tips, Gunakan cara pasangan untuk berkomunikasi dengan pasangan. Hindari memberi ultimatum, Rumput di halaman tetangga tidak selalu lebih hijau, hindari kata-kata, "Aku cinta padamu, tapi....", Pikir dulu sebelum bicara, bersyukurlah selalu.
 
Menariknya adalah buku ini bukan ditujukan untuk pasangan kita, tapi kita sendiri. Maksudnya semua isi buku yang membahas 100 kiat memperkuat cinta ini bukan diperuntukkan untuk menjadi mesiu bagi pasangan kita, tapi untuk kita sendiri. Maka bila kita merasa pasangan kitalah yang menjadi persoalannya, maka bicaralah baik-baik dengan pasangan kita. Diskusikan isinya yang sangat berharga itu, maka semoga hubungan kita dengan pasangan terus meningkat lebih baik dan lebih baik. Semoga!


Keluargaku Yahudi Hidupku untuk Islam

Keluargaku Yahudi Hidupku untuk Islam


Terus terang Redaksi tertarik dengan buku ini ketika membaca sampul belakangnya. Karena hampir tidak percaya dengan informasi yang ditulis mengenai tokoh yang menjadi sentral dari tulisan buku ini. Tidak tahu apakah sampul belakang ini terjemahan dari buku aslinya The Convert: A Tale of Exile and Extremism. Tapi buku ini bercerita mengenai tokoh wanita bernama asli Margaret Marcus yang kisahnya melalui surat-menyurat, tulisan Maryam sendiri. Setelah menjadi muallaf tahun 1961 mengubah namanya Maryam Jameelah. Kebingungan Redaksi adalah tulisan sampul belakang buku ini begini; "Sejak kecil ia ingin menjadi misionaris di Arab Saudi. Ia ingin mengubah seluruh penduduk Arab dari Islam menjadi Yahudi........" Di mana letak kebingungan Redaksi membaca sampul belakang tersebut? Mari kita lihat dulu buku setebal 356 halaman ini lebih jauh.

Judul             : Keluargaku Yahudi Hidupku untuk Islam

Penulis          : Deborah Baker

Penerbit        : Zaytuna

Tahun Terbit : Jakarta, 2013 (Cetakan II)

Halaman       : 356 halaman

Kembali kepada kebingungan tadi sebelum masuk ke dalam isi buku yang ditulis oleh penulis kenamaan Deborah Baker. Setahu Redaksi Idebuku.com, agama Yahudi adalah agama yang tidak pernah berusaha untuk memasukkan sebanyak mungkin orang ke dalam agama mereka. Tapi sebaliknya, agama Yahudi tumbuh dan lebih kepada penonjolan ras. Makanya bila ada usaha ada orang Yahudi yang ingin mengubah seluruh penduduk Arab dari Islam menjadi Yahudi, sedikit aneh. Tapi untuk memastikan hal tersebut Redaksi mencoba untuk sedikit googling dan menemukan artikel di idntime mengenai agama Yahudi. Agama Yahudi adalah agama yang hanya dipeluk oleh mereka yang keturunan dari Bani Israel. Agama tersebut berbeda dengan Kristen yang mengenal missionaris, atau di Islam adalah syiar. Jadi agama Yahudi bukan agama yang sembarangan dipeluk oleh orang lain. Karena mereka meyakini bahwa mereka mereka bangsa (bukan agama) Yahudi adalah bangsa pilihan Tuhan merujuk kepada Kitab Taurat.

Tapi mari kita tinggalkan kebingungan Redaksi idebuku.com dan mencoba untuk melihat isi buku yang mencoba untuk menelisik buku model apa yang ada di tangan Redaksi. Sebenarnya tulisan Baker ini merupakan tulisan dengan usaha yang keras untuk mendalami sebuah perjalanan hidup seorang Maryam Jameela ini.  Bab I dimulai dengan surat yang dikirim oleh Abul Ala Mawdudi, Pendiri Jemaah Islamiyah kepada Maryam. Isinya mengenai betapa senangnya bila nanti Maryam tiba di Lahore, Pakistan. Di kemudian hari Maryam tinggal di rumah Mawdudi tersebut. Dan kemudian menikah dengan Muhammad Yusuf Khan, seorang tokoh jemaah Islamiyah.

Sebenarnya Maryam Jameela sendiri menghasilkan banyak tulisan termasuk tulisan yang pernah diterjamahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu; Islam and Modernism (1971) yang kemudian diterjemahkan dengan judul Islam dan Modernisme oleh penerbit Usaha Nasional (1982). Mengenai tulisan-tulisan tokoh wanita Islam kala itu masih sangat minim, menjadi sangat penting. Topik-topik tulisannya juga beragam, namun yang sangat menonjol adalah kritiknya terhadap modernisasi kala itu. Ia mendorong supaya menjauhi budaya Barat dan meninggalkannya seperti yang ia lakukan dengan berpindah ke negeri Islam setelah mendapat ketenangan dalam islam.

Sebagai seorang wanita Islam, Maryam mengakui memiliki banyak batasan-batasan, namun demikian ia seperti mempersilahkan biografinya ditulis oleh Baker yang didapat di perpustakaan umum di New York yang kemudian hari diketahui bahwa dokumen-dokumen mengenai tulisan dan publikasi lainnya hasil karya Maryam itu atas kehendak Maryam sendiri.

Disinggung juga mengenai keberadaan seorang Maryam Jameela sejak berada di Amerika Serikat mengalami hal-hal yang boleh dibilang ganjil dan bahkan sempat masuk ke rumah sakit jiwa. Hal itu disampaikan dalam korespondesinya dengan Mawdudi. Namun bagi Mawdudi, hal tersebut dianggapnya itu sebagai efek ketidak singkronan antara keyakinannya dengan gaya hidup di negaranya. Tapi ketika Maryam di rumah Mawdudi juga mengalami keganjilan.

Ketika saya melihat buku ini pertama kalinya, harapan saya memang ingin membaca kisahnya bagaimana menemukan Islam. Namun tentu saja, buku ini menjadi penting di mana sebuah pemikiran harus dihargai bagaimanapun keadaannya. Kisah Maryam yang dikemas dengan penyampaian kisah

Selasa, 02 Februari 2021

Analisa Seorang Blogger Mengenai Google

Analisa Seorang Blogger Mengenai Google


Satu hal yang saya tangkap dari buku luar biasa ini adalah, prinsip Google yang dianalisa oleh penulis buku ini yang seorang Blogger yang bisa menjadi prinsip hidup kita. Sikap bermanfaat bagi pelanggan, bukan berpikir, pelanggan pasti butuh saya. Inilah prinsip yang disampaikan oleh penulis dengan menganalisa apa saja yang akan dilakukan oleh Google termasuk dalam masa-masa mendatang. Sebagai sebuah perusahaan raksasa yang sampai saat ini tiada tanding memang sejak awal pendiriannya memiliki prinsip-prinsip di mana menghadapi masa depan itu haruslah dihadapi degan cara berpikir baru. Tidak merasa nyaman dengan yang sudah ada, dan berleha-leha dengan status quo. Termasuk ketika kita melihat dan mengembangkan bisnis, prinsip penting adalah bagaimana untuk terus berinovasi dengan hal-hal yang baru, bukan hanya sekedar melakukan apa yang sudah ada. Buku yang sangat berharga dan sayang bila dilewatkan.

Judul           : What Would Google Do?

Penulis        : Jeff Jarvis

Penerbit      : Ufuk

Tahun          : Jakarta, 2010

Buku ini sebenarnya lebih tepat kalau dikatagorikan sebagai buku bisnis, karena memang di dalamnya berbicara mengenai bagaimana sikap perusahaan terhadap masa depannya termasuk bagaimana memperlakukan pihak lain, entah itu partner, pelanggan atau apapun yang bersinggungan dengan perusahaan. 

Terus terang buku ini seperti manjadi penyemangat kembali bagi admin untuk terus berkarya dalam menggunakan media blog khususnya blogspot. Karena ternyata pengaruh media, termasuk blog memiliki efek yang luar biasa. Apalagi bila dilakukan dengan serius. Selain juga sisi ekonomi di mana dari blog bisa meraup untung dengan pemasangan iklan milik Google maupun adnow dan semacamnya.

Tidak perduli dengan para Blogger sebuah perusahaan akan naif. Mungkin sekarang ada Facebook, dan media sosial lainnya yang bisa menjadi cara untuk mempengaruhi pihak lain sehingga bisa meningkatkan publikasi internet yang tentu publikasi yang positif. Sebaliknya bila tidak perduli dengan pihak lain dan menganggap bahwa perusahaannya kokoh tak tertandingi, maka hati-hatilah bila suatu saat ada gangguan di mana publikasi negatif melalui internet muncul, maka bisa jadi itu akan mempengaruhi perusahaan tersebut. Setidak-tidaknya penulis mengerti betul bagaimana pengaruh sebuah tulisan yang diunggah di blog benar-benar bisa mengubah gerak dan langkah perusahaan komputer terkenal yaitu Dell.

Dari ketidakpedulian terhadap informasi di internet dari manapun datangnya itu menjadi sangat penting. Bagaimana menanggapi sebuah persoalan yang dialami oleh pelanggan. Mencari tahu apa yang menjadi keluhan pelanggan, semuanya bisa mempengaruhi kinerja perusahaan. Dalam hal ini Google menjadi perusahaan yang terus berusaha berbenah untuk menyongsong esok hari.

Buku ini ingin berbicara mengenai bagaimana melihat dunia dan perkembangannya dengan cara berbeda. Google sebagai mesin pencari seperti raja 'serba tahu' apa yang menjadi keinginan semua orang dengan berbagai katagori pengetahuan apapun. Dalam dunia internet web, dia menjadi raja yang sampai saat ini sulit tertandingi, termasuk perusahaan-perusahaan yang berkecimpung di dunia yang sama. Sebenarnya Google sendiri tidak memproduksi informasi itu sendiri, tapi Google hanya penyedia 'tempat' bertemunya mereka yang mencari informasi dengan mereka yang penyedia informasi itu sendiri.

Akhirnya, karena banyak point penting yang disimpan dalam buku ini, maka sebaiknya buku ini dibaca. Kiat-kiat yang bisa ditangkap dalam setiap gagasan, akan menambah wawasan bagaimana mendapatkan keberhasilan yang bisa dipelajari dari Google, tapi juga kita bisa mempertahankan sebuah kesuksesan dengan kiat-kiat berarti juga dari pesan buku ini.


Bisnis Pencarian yang Dibangun Sangat Serius

Bisnis Pencarian yang Dibangun Sangat Serius


Kalau Anda ingin tahu polemik AHY dan Istana, pergilah ke Google. Kalau mau tahu perkembangan kasus Abu Janda, mampirlah ke Google. Bila ingin jelas bagaimana perkembangan mengenai Covid-19, silahkan buka Google. Jika tertarik melihat sejenak mengenai kasus video Gisel, jangan ke mana-mana, carilah di Google. Bukannya berita-berita yang muncul itu ditulis oleh berbagai media, kenapa harus ke Google? Ia benar, memang beritanya di berbagai media, tapi linknya bisa Anda peroleh di Mesin Pencarian bernama Google. Orang sering lupa menuliskan alamat situs-situs berita, kecuali memang sengaja aplikasinya dipasang di ponsel kita. Selebihnya lebih mudah langsung membuka Google, sekejab langsung terbuka.

Buku yang sebenarnya sudah lama ada di ruang Redaksi Idebuku, tapi karena belum disentuk secara serius, maka akhirnya hanya bertengger saja di deretan rak. Kini buku itu mendapat perhatian untuk diambil idenya guna disampaikan dalam tulisan ini. 

Judul Buku          :The Search: Bagaimana Google dan Para Pesaingnya Mengubah Aturan Bisnis dan Kebudayaan Kita.

Penulis                : John Battelle

Tahun Penulisan : Jakarta, 2005

Penerbit              : PT Elex Media Komputindo

Walaupun buku ini lawas tahun penerbitannya, tapi jangan salah banyak informasi penting mengenai bagaimana Google menjadi raksasa pencarian yang dimulai dengan situasi mundurnya bisnis internet dot-com tahun-tahun awal 2000an, kalau tidak mau dibilang kebangkrutan awal bisnis tersebut. Padahal di awal-awal ramainya internet, bisnis tersebut menggiurkan, mimpi-mimpi pembuat perusahaan di bidang internet saat itu ternyata pupus dan kehilangan harapan termasuk perusahaan penulis buku ini.

Namun tidak dengan Google yang memiliki kemajuan luar biasa di mana melalui Google Zeitgeist seperti menjadi besi berani di mana pengelola Google seperti mengerti betul apa yang sedang dicari oleh manusia, ya kita ini. Pengelolaan secara serius oleh pendirinya telah menjadi raksasa pencarian yang menjadi kiblat dunia. Zeitgeist adalah perangkat public relation yang mampu menyimpulkan apakah pada periode tertentu kata-kata yang digunakan dalam pencarian sedang popular atau tidak. Dan tahun 2001 itu Google menyediakan secara mingguan dalam press relationnya. Hingga penulis menyimpulkan Google itu menjadi database penuh arti. Dia benar-benar tahu apa yang sedang dicari oleh manusia. Dan dalam database Google itulah terdapat potensi lapangan kerja yang luas bagi ribuan ahli  dalam berbagai bidang.

Jutaan orang telah mengetikkan, apa yang mereka butuhkan, apa yang mereka takutkan, apa yang mereka inginkan. Dan itu disampaikan di depan layar komputer dengan layar tampilan sederhana dan layar background putih. Database penuh arti, istilah dari penulis itu telah menyediakan berbagai informasi dalam berbagai disiplin ilmu apapun. Dan sepertinya budaya ini akan cukup panjang membentuk cara-cara manusia mencari sesuatu.

Pencarian dan keinginan untuk mendapatkan wujud apa yang sedang dicari tersebut tampaknya menjadi ladang bisnis besar dan akan terus berkembang pesat. Di dalamnya bisnis muncul yaitu para pengiklan tentu akhirnya menghasilkan pundi-pundi yang tidak akan pernah kering. Akhirnya buku yang sangat teliti serta kaya akan informasi ini mungkin bisa menjadi sumber inspirasi untuk mengetahui sejarah masa lalu dari mesin pencari serta kini dan akan datang.